BatamNow.com – Rencana pengembangan industri data center di Batam tidak hanya berkaitan dengan investasi dan pertumbuhan ekonomi digital. Di balik peluang tersebut, terdapat tantangan terkait ketersediaan air dan energi yang perlu diperhitungkan.
Hal itu mengemuka dalam diskusi “Proyek Data Center dan Tantangan Pengelolaan Sumber Daya Energi dan Air di Batam” yang digelar dalam rangkaian Festival Media (Fesmed) Selat Malaka di Politeknik Negeri Batam, Minggu (20/09/2026).
Diskusi menghadirkan Zakki Amali dari Trend Asia, peneliti AI, Henke Yunkins, Alvendo Wahyu Aranski dari Institut Teknologi Batam, Direktur Promosi dan Fasilitasi Investasi BP Batam Dendi Gustinandar, serta jurnalis Antonia Timmerman.

Direktur Promosi dan Fasilitasi Investasi BP Batam Dendi Gustinandar mengatakan, pengembangan data center merupakan salah satu investasi yang terus didorong di Batam, termasuk di kawasan Nongsa.
Namun, menurut Dendi, kebutuhan sumber daya untuk menopang industri tersebut menjadi salah satu perhatian pemerintah. Salah satunya adalah ketersediaan air baku.
Ia menjelaskan, Batam tidak memiliki sumber air alami dalam jumlah besar. Pasokan air sangat bergantung pada curah hujan yang ditampung melalui waduk.
“Batam adalah daerah yang tidak punya sumber air. Air kita berasal dari curah hujan. Karena itu sejak dulu Batam membangun proyek waduk, saat ini ada delapan waduk,” kata Dendi.
Menurutnya, pemerintah terus melakukan mitigasi untuk memenuhi kebutuhan air dan listrik seiring masuknya investasi baru, termasuk proyek data center.
Data Center Bukan Sekadar Infrastruktur Digital
Peneliti AI, Henke Yunkins mengatakan, data center memiliki konsekuensi fisik dan ekologis yang perlu diperhitungkan.
Menurutnya, pusat data bukan hanya infrastruktur digital yang bekerja secara virtual. Fasilitas tersebut membutuhkan bangunan, sistem pendingin, listrik dalam jumlah besar, serta air.
“Data center punya jejak fisik, jadi tidak hanya virtual. Kebutuhan energinya luar biasa, begitu juga kebutuhan air,” ujar Henke.
Ia menilai kebutuhan air untuk sistem pendingin perlu mendapat perhatian, terutama ketika data center dikembangkan di wilayah tropis.
Kondisi tersebut menjadi semakin relevan bagi Batam yang memiliki keterbatasan sumber daya air.
“Pertanyaannya, kenapa proyek itu ada di Batam?” katanya.
Sementara itu, Alvendo Wahyu Aranski mengatakan pembangunan proyek tidak seharusnya hanya dilihat dari besarnya nilai investasi.
Menurut dia, kemampuan sumber daya daerah dalam menopang proyek perlu dikaji sejak awal agar investasi yang masuk dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Kita menciptakan proyek bukan semata-mata untuk investasi, tetapi harus ada kajian terlebih dahulu, apakah sumber daya alam kita mencukupi atau tidak,” ujar Alvendo.
Ia menambahkan, investasi data center tetap diharapkan memberikan manfaat bagi daerah, salah satunya melalui penyerapan tenaga kerja.
Namun, jumlah tenaga kerja yang diserap industri data center juga menjadi perhatian peserta diskusi.
Peserta diskusi, Asnil Bambani, mempertanyakan kemampuan industri data center dalam menciptakan lapangan kerja di Batam.
Ia mencontohkan salah satu industri data center terbesar di Indonesia yang disebut hanya mempekerjakan sekitar 180 orang, meski nilai aset bisnisnya hampir Rp 500 triliun dengan pendapatan tahunan mencapai Rp1,8 triliun.
Dendi tak menampik bahwa karakter industri teknologi informasi cenderung membutuhkan tenaga kerja lebih sedikit dibandingkan industri padat karya.

Kebutuhan Energi Ikut Meningkat
Dari sisi energi, Zakki Amali mengingatkan bahwa perkembangan data center akan berimplikasi terhadap kebutuhan listrik.
Menurut dia, pembahasan mengenai data center tidak dapat dipisahkan dari infrastruktur energi yang dibangun untuk menopang kebutuhan listriknya.
Ia menyinggung rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Batam yang disebut berkaitan dengan kebutuhan energi untuk proyek data center.
“Ini tidak hanya sekadar proyek data center. Akan ada hal lain setelah itu,” ujar Zakki.
Keandalan pasokan listrik juga menjadi perhatian dalam diskusi. Data center membutuhkan pasokan listrik yang stabil karena gangguan listrik dapat memengaruhi operasional pusat data.
Peserta kemudian mempertanyakan bagaimana kebutuhan listrik tersebut dapat dijamin ketika kapasitas energi dan sumber daya yang tersedia memiliki keterbatasan.
Persoalan tersebut menjadi salah satu tantangan yang masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut.
Jurnalis Diminta Kritis Meliput Teknologi
Selain investasi, air dan energi, diskusi juga menyoroti tantangan jurnalis dalam meliput perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Jurnalis Antonia Timmerman mengingatkan bahwa perkembangan teknologi digital dan AI juga memiliki jejak ekologis. Karena itu, perkembangan teknologi tidak cukup dilihat dari sisi inovasi dan investasi, tetapi juga perlu dikaitkan dengan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat.
Ia mendorong jurnalis memperdalam pemahaman mengenai teknologi sebelum melakukan peliputan, termasuk ketika mengangkat isu data center dan AI.
“Jurnalis perlu mempelajari terlebih dahulu teknologinya sebelum melakukan liputan. Kita perlu terus mengajukan pertanyaan kritis ketika meliput teknologi dan data center,” ujarnya.
Diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian Fesmed Selat Malaka 2026 yang mengangkat tema “Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara”.
Forum ini mendorong jurnalis dan publik melihat perkembangan investasi serta teknologi secara lebih komprehensif, dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, ketersediaan sumber daya alam, energi, tenaga kerja, serta kepentingan masyarakat. (*)

