BatamNow.com – Pulau Rempang kembali chaos, setelah sekitar setahun berlalu peristiwa berdarah Jembatan IV pada September 2023.
Peristiwa kekerasan kali ini menyerang warga Rempang, Selasa (17/12/2024) malam, oleh sejumlah orang tidak dikenal (OTK).
Pengakuan warga, yang menyerang masyarakat di Kampung Sembulang Hulu itu diduga dilakukan oleh karyawan PT Makmur Elok Graha (MEG), pemilik PSN Rempang Eco-City yang masih ditolak warga di sana.
Mengenai hal tersebut, perwakilan tim pengamanan PT MEG memberikan penjelasan kronologi versinya kepada wartawan.
Disebutkan bahwa pada malam kejadian itu, tiga personel tim pengamanan PT MEG sedang melakukan patroli rutin di daerah Sembulang.
“Peristiwa itu berawal dari teman kita yang patroli rutin ke daerah Sembulang. Di tengah perjalanan, mungkin tepatnya dari lokasi simpang Sembulang Hulu waktu itu ada satu buah kendaraan roda 4, saya juga tidak ingat betul pelat nomornya berapa dan tidak sempat memperhatikan,” kata Angga di kantor PT MEG, di Sijantung, Kecamatan Galang, Kota Batam, Rabu (18/12/2024).
Kata Angga, kendaraan roda 4 itu berwana merah, dan terparkir di tepi jalan. Lalu rekannya mengecek.
“Jadi rekan kita 2 orang turun karna kendaraan tersebut berada di pinggir jalan, dengan tujuan menolong kendaraan tersebut. Kemudian mereka turun dan bertanya di situ (kepada pemilik mobil). Tidak berselang lama, sejumlah warga berjumlah 4 orang datang dengan menggunakan motor, sebanyak dua motor,” jelasnya.
“Kemudian ada warga dengan kendaraan roda 2 sebanyak 2 motor dengan jumlah 4 orang. Yang kita juga nggak kenal percis siapa, mereka dari mana, dari kampung mana,” lanjut Angga.
View this post on Instagram
Dari penuturannya, orang yang datang menghampiri itu datang membawa parang.
“Kemudian mereka membawa parang waktu itu, lalu mereka meneriaki kita di sana, sambil mengacungkan parangnya. Yang akhirnya, rekan kita merasa terancam di sana, berusaha untuk mempertahankan dirinya dengan melarikan diri,” jelas Angga.
Rekannya pun melarikan diri, ke arah yang berbeda dan terpisah dari mereka.
Ternyata, katanya, rekannya itu diamankan oleh sekelompok masyarakat.
“Lalu rekan kita lari, terpisah lah mereka, sadar rekan kita kurang satu orang, rekan kita berusaha mencari ke sana, ternyata rekan kita tersebut tertangkap oleh kelompok warga disana, lalu dihakimi dan dikeroyok secara brutal oleh warga dibawa ke daerah pos Sembulang Hulu tersebut,” ucapnya.
Lalu ia bersama timnya berusaha mengamankan rekannya yang ditangkap oleh warga itu, untuk dibawa ke rumah sakit namun tak diizinkan.
“Kemudian diikat di sana, kakinya terikat saat kami berupaya untuk menyelamatkan teman kami untuk bisa dibawa ke rumah sakit tapi tidak diperbolehkan oleh warga sampai akhirnya teman kami tergeletak tidak sadarkan diri kurang lebih selama 4 jam. Kurang lebih sekitar pukul 00.10 Sampai akhirnya tim Polsek datang, barulah teman kami bisa dibawa ke rumah sakit dengan kondisi tidak sadarkan diri,” jelasnya.
Ia mengakui, sekitar 30 orang datang ke Kampung Sembulang Hulu yang disebut untuk mengamankan seorang petugas patroli PT MEG yang diamankan warga itu. Tapi ia membantah tim pengamanan itu membawa senjata tajam (Sajam) untuk menyerang warga Rempang, hingga mengeroyok seorang anak di depan rumahnya.
“Saya tidak benarkan, kami selaku pengembang Rempang Eco-City, selama ini berusaha, berupaya merangkul masyarakat sekitar dengan melalui program kami,” jelasnya.
Terkait statement PT MEG ini, warga Rempang juga membantahnya. (Ikuti running news laporan wartawan BatamNow.com dari Pulau Rempang)
Sebelumnya, Koordinator Umum Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu (AMAR-GB) Ishak, menjelaskan bahwa peristiwa itu bermula dari pengamanan seorang karyawan PT MEG di Sembulang Hulu.
“Dari informasi yang saya dapat, bahwa ada seorang yang diduga sebagai karyawan PT MEG yang mencoba untuk merusak baliho/spanduk (Yang bertuliskan, Tolak PSN) yang dipasang di dinding tebing, yang ada di Sembulang Hulu,” kata Ishak kepada BatamNow.com melalui sambungan telepon, Rabu (18/12/2024).
Pihak kepolisan pun datang di malam kejadian itu. Warga meminta agar dibuat perjanjian tertulis supaya PT MEG berjanji tidak mengganggu warga di Rempang lagi. Namun kesepakatan pun tidak didapat.
Kemudian, aku warga, sekelompok orang pun datang dan langsung melakukan penyerangan.
Data sementara yang berhasil dihimpun Tim Solidaritas Nasional untuk Rempang, ada beberapa posko milik warga yang dirusak, di Kampung Sembulang Hulu dan Kampung Sei Buluh, Kelurahan Sembulang, Kecamatan Galang.
Delapan korban itu dengan perincian, empat orang mengalami luka sobek di bagian kepala; satu orang luka berat; satu warga terkena panah; satu warga mengalami patah tangan; dan satu warga luka ringan.
Selain itu, belasan kendaraan bermotor milik warga juga dirusak. (A)

