BatamNow.com – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) akan menggelar pelatihan Leadership & Media Management di Graha PWI Kepri, Batam pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Kegiatan yang berlangsung pukul 14.00–16.00 WIB ini mengusung tema “Membangun Kepemimpinan Media yang Profesional, Adaptif, dan Amanah”. Pelatihan tersebut ditujukan bagi pemimpin perusahaan media, pemimpin redaksi, redaktur, dan wartawan.
Ketua PWI Kepri, H. Saibansah Dardani, dijadwalkan membuka kegiatan tersebut. Sementara itu, narasumber utama yang dihadirkan ialah Dr. Rica Irma Dhiyanti, S.Kom., S.H., M.Si., C.Ht.
Saibansah mengatakan, perkembangan teknologi yang berlangsung cepat menuntut dunia pers untuk terus beradaptasi.
Namun, menurutnya, kemampuan mengikuti perubahan harus tetap berjalan seiring dengan penjagaan etika, integritas, dan amanah dalam menjalankan profesi jurnalistik.
“Pemimpin media harus profesional, adaptif, dan amanah. Kepercayaan publik hanya dapat dijaga melalui kepemimpinan yang kuat, etis, dan bertanggung jawab,” ujar Saibansah, Senin (19/10/2026).
Ia menegaskan, pemimpin media memiliki tanggung jawab menjaga independensi pers, memperkuat budaya kerja, serta memastikan organisasi media dikelola secara sehat.
Hal tersebut dinilai penting untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap media.
Bahas Lima Perspektif Kepemimpinan dan Tantangan AI
Dalam pelatihan tersebut, Rica akan membawakan materi bertajuk “Dari Pimpinan Menjadi Pemimpin: The Five Minds of Media Leadership” dengan pendekatan STIFIn.
Rica mengatakan, kepemimpinan tidak cukup hanya mengandalkan jabatan atau kewenangan. Seorang pemimpin juga harus mampu membangun pengaruh, mengelola perbedaan, dan menumbuhkan kepercayaan di dalam organisasi.
“Saya akan mengajak peserta mengubah kekuasaan menjadi pengaruh. Mengubah perbedaan menjadi kekuatan. Menjadikan kepercayaan sebagai aset terbesar media,” ujar Rica saat dihubungi.
Menurutnya, industri media saat ini menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari persaingan digital yang semakin ketat, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), hingga kepercayaan publik yang terus diuji.
Melalui pendekatan STIFIn, peserta akan diperkenalkan dengan lima perspektif, yakni Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting.
Kelima perspektif tersebut digunakan untuk membantu pemimpin memahami persoalan dan mempertimbangkan pendekatan yang tepat sebelum mengambil keputusan.
Selain kepemimpinan media, materi pelatihan mencakup komunikasi organisasi, pengelolaan sumber daya manusia (SDM), manajemen perubahan, penyelesaian konflik, serta pengambilan keputusan strategis.
Penggunaan AI dalam industri media juga menjadi salah satu pembahasan utama. Teknologi ini dinilai dapat mempercepat proses produksi berita, tetapi tidak dapat menggantikan nurani wartawan, etika jurnalistik, dan independensi pers.
Rica menilai, tantangan media pada masa mendatang bukan sekadar menjadi pihak yang paling cepat menyampaikan informasi, melainkan juga mampu menjaga kepercayaan masyarakat.
“Teknologi dapat mempercepat informasi. Namun, hanya integritas manusia yang mampu mempertahankan kepercayaan,” tegasnya.
Melalui pelatihan ini, PWI Kepri berharap dapat meningkatkan kapasitas kepemimpinan di lingkungan media, sekaligus mendorong lahirnya pemimpin yang profesional, berintegritas, dan amanah.
Upaya tersebut diharapkan turut memperkuat kualitas organisasi pers dan menjaga kepercayaan publik terhadap media di tengah perubahan industri jurnalistik. (*)

