BatamNow.com – Wali Kota Batam ex-officio Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengungkapkan potensi mempertimbangkan kelanjutan kerja sama dengan PT Air Batam Hilir (ABH) bila tak dapat menuntaskan krisis distribusi air perpipaan.
Hal itu ditegaskan Amsakar dalam rapat dengar pendapat (RDP) di DPRD Kota Batam bersama PT ABH dengan pihak terkait di BP Batam.
Hadir Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait; serta Direktur Badan Usaha Sistem Pengelolaan Air Minum, Fasilitas, dan Lingkungan BP Batam, Iyus Rusmana.
Adapun RDP pada hari ini, Senin (08/09/2025), disebut adalah kali ketiga yang masih membahas keluhan warga Tanjung Sengkuang dan Batu Merah. Pelanggan di sana sudah setahun mengalami kesulitan mendapatkan air minum peripaan.
Tidak hanya masyarakat sebagai konsumen, sekolah hingga fasilitas kesehatan seperti Puskesmas juga terdampak akibat minimnya pasokan air.

Sekolah dan Layanan Kesehatan Ikut Terganggu
Masyarakat setempat sebelumnya telah dua kali melakukan RDP bersama DPRD Batam, solusi sementaranya berupa tandon dan tangki air.
Namun, pasokan itu dinilai belum maksimal. Hingga akhirnya digelar RDP kembali pada hari ini.
Sofyan, warga Tanjung Sengkuang, mengungkapkan pelayanan air perpipaan yang dialami warga sudah lebih dari satu tahun tidak maksimal.
“Air di kami itu hidup pagi, ya pagi betul jam 2, itu mati jam 5, jam 6 itu di kami. Dan itu kadang-kadang mati total, kadang-kadang hidup juga kecil sekali. Untuk Tanjung Sengkuang hampir merata dari RW3, RW4, RW8, RW13, RW17, RW11, RW12, itu kalau kita hitung berdasarkan KK sekitar 1.500-an KK,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa hingga RDP ketiga kali ini, belum membawa perubahan berarti.
“Solusinya air tangki dan tandon. Untuk Batu Merah dikasih tandon, kami Tanjung Sengkuang dikasih air tanki, itu pun ya air tanki paham lah, kadang tidak maksimal lah. Saya pikir solusi yang kami tuntut itu air itu berjalan normal seperti dulu,” katanya.
Ketua LPM Batu Merah, Muhammad Yusuf, juga menyampaikan hal serupa.
“Banyak warga kita, masyarakat kita tidak ter-cover oleh tandon dan tangki air itu. Karena apa? Karena kadang kita order, datangnya besok. Kadang kita order hari ini tidak datang. Makanya kita minta tadi tolong dijadwalkan. Untuk RW ini pada hari ini sekian, untuk RW ini pada hari ini sekian. Jadi terjadwal,” jelasnya.
Krisis air ini juga berdampak pada layanan kesehatan dan pendidikan.
Kepala Puskesmas Tanjung Sengkuang, dr Deny Zulia, menyampaikan kesulitan air sangat memengaruhi pelayanan kesehatan.
“Bagaimana kami melanjutkan rujukan sementara pemeriksaan laboratorium itu sangat membutuhkan air. Ini sangat mempengaruhi kesehatan warga dimana nanti kedepannya kita akan menjadi rujukan Kota Sehat yang menjadi wacana bapak wali kota kita,” ujarnya.
Kesulitan serupa karena krisis air dirasakan Wakil Kepala Sekolah SMAN 14 Batam.
“Ada sekitar 1.000 lebih siswa dan guru di sekolah tapi air yang datang hanya 1.000 liter. Dalam waktu 2 sampai 3 jam itu sudah habis, apalagi saat mau sholat anak-anak mau wudhu terpaksa ke mushola yang terdekat,” ungkapnya.

Amsakar Minta Keseriusan Memperbaiki
Menanggapi keluhan warga, Amsakar Achmad menyampaikan permohonan maaf.
“Saya mohon maaf belum dapat sesegera mungkin menunaikan janji kami kepada masyarakat. Amsakar Achmad Li Claudia akan memberikan atensi terhadap 15 program prioritas, 7 di antaranya yang bersentuhan dengan masyarakat. Dan dari 7 yang bersentuhan itu, salah satu di antaranya adalah peningkatan pelayanan air bersih,” katanya.
Ia menjelaskan BP Batam sudah mengajukan anggaran sekitar Rp 2,7 triliun untuk peningkatan fasilitas pipa dan infrastruktur lainnya.
Sebagai solusi jangka pendek, Amsakar menawarkan tambahan pasokan melalui tandon dan tangki air.
Untuk jangka panjang, ia menargetkan perbaikan jaringan rampung pada Juni 2026.
“Kalau mereka tidak bisa menyelesaikan, maka saya yang akan menyelesaikan mereka,” tegasnya.
Amsakar juga mengingatkan perlunya keseriusan semua pihak, termasuk PT ABH, dalam menyelesaikan krisis air yang bahkan sudah tiga kali dibawa ke RDP dewan.
“Kawan-kawan ABH saya pikir sudah tiga kali Pak, masalahnya ini berarti tidak sederhana, tolong diatensi,” pintanya.
Bahkan, ia mengungkap potensi mempertimbangkan kelanjutan kerja sama dengan mitra BP Batam itu bila tak bisa menyelesaikan krisis air.
“Kalau tidak juga dapat diselesaikan, ya kami mesti mempertimbangkan kerja sama ini, mau lanjut atau tidak? Saya memerlukan keseriusan. Sebab bagi kami ini kalau sudah keluar dari sini Pak, tidak ada kata mundur,” ujar Amsakar.
Sebagai informasi, penyelenggaraan air minum oleh BP Batam bekerja sama dengan mitra operasionalnya yakni konsorsium PT Moya Indonesia dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, yang memenangkan lelang pada kepemimpinan Kepala BP Batam Muhammad Rudi.
Konsorsium itu kemudian membuat perusahaan patungan (joint venture) bernama PT Air Batam Hulu dan PT Air Batam Hilir.
Kedua perusahaan tersebut meneken perjanjian kerja sama dengan BP Batam pada Jumat, 29 Juli 2022 dan resmi menangani SPAM Batam sejak Senin, 1 Agustus 2022 hingga 15 tahun masa konsesi. (H)

