BatamNow.com – Rencana pembukaan jalur pelayaran roll-on/roll-off (Roro) antara Batam (Indonesia) dan Johor (Malaysia), kian mendekati tahap realisasi.
Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Johor Bahru, Sigit Suryantoro Widiayanto, mengungkapkan bahwa infrastruktur kedua negara telah siap mendukung operasional kapal Roro lintas negara tersebut.
Menurut Sigit, inisiatif ini telah digagas sejak dua tahun lalu sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas ekonomi regional, terutama dalam sektor perdagangan dan pariwisata.
“Baik Batam maupun Johor telah memiliki pelabuhan yang secara infrastruktur dinyatakan siap untuk melayani kapal Roro,” ujarnya, saat wartawan media ini bersama anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Batam berkunjung ke Kantor Konsulat Jenderal RI, di Jalan Taat No. 46, Johor Bahru, Malaysia, Jumat (04/07/2025).
Di Batam, Pelabuhan Bintang 99 Persada diproyeksikan menjadi pelabuhan utama. Sedangkan di Malaysia, menggunakan Pelabuhan Tanjung Belungkor. Kedua pelabuhan tersebut telah menyatakan kesiapan operasional.
“Kita buka ferry Johor–Batam atau Roro. Infrastruktur sudah tersedia dan pelabuhan di Tanjung Belungkor sudah mengantongi izin,” tegas Sigit.
Sasar Potensi Lalu Lintas Kendaraan Singapura-Johor
Tanjung Belungkor sebelumnya berfungsi sebagai jalur laut menuju Singapura, namun berhenti beroperasi sejak 2019 dan terhenti sepenuhnya akibat pandemi COVID-19. Kini, pelabuhan itu siap difungsikan kembali dengan tujuan baru: Batam.
Alasan pemilihan Batam, menurut Sigit, karena statusnya sebagai kawasan perdagangan bebas dan logistik.
“Mobil dari luar negeri bisa masuk ke Batam dengan mudah, tetapi sulit untuk keluar. Kalau tidak ke Batam, ke mana lagi? Ke Rempang, Galang atau Bintan saja susah,” ujarnya menjelaskan logika rute.
Potensi lalu lintas kendaraan juga besar. Sigit menyebutkan, sekitar empat juta mobil dari Singapura masuk ke Johor setiap tahunnya.
“Jika hanya sepuluh persen dari jumlah itu yang masuk ke Batam, dampaknya luar biasa. Apalagi kalau mereka membawa kendaraan sendiri, pasti menginap lebih lama. Capek kalau hanya satu malam. Paling tidak dua malam,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya rute ini sebagai pelengkap jaringan konektivitas laut yang selama ini hanya terbatas pada jalur Singapura–Johor.
“Kami belum punya rute Indonesia-nya. Sekarang baru ada Sijo (Singapura–Johor). Ini peluang karena pelabuhan sudah ada, tinggal kita dorong agar terwujud,” ucapnya.
Waktu tempuh dari Johor ke Batam diperkirakan hanya memakan waktu antara dua hingga dua setengah jam.
Terminal dan fasilitas penunjang juga telah tersedia. Menurut Sigit, rencana ini sempat dibahas dalam pertemuan antara Perdana Menteri Malaysia dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
Pengawasan Harus Diperkuat
Terkait kekhawatiran akan potensi penyelundupan barang, narkotika, hingga perdagangan orang melalui jalur baru ini, Sigit tidak menampik.
Namun ia menyebut kekhawatiran tersebut tak relevan jika dikaitkan langsung dengan operasional kapal Roro.
“Penyelundupan itu sudah terjadi meski belum ada kapal Roro. Jadi bukan Roro-nya yang menyebabkan. Kalau nanti terjadi peningkatan, pengawasan harus kita perkuat,” tegasnya.
Ia menilai rencana ini lebih realistis dibandingkan proyek serupa yang pernah direncanakan di Melaka–Dumai, namun hingga kini belum berjalan karena belum tersedianya pelabuhan yang memadai.
Sementara itu, PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry (Persero) telah menyatakan komitmennya untuk terlibat langsung dalam pengoperasian rute ini.
Beberapa bulan lalu, ASDP telah melakukan survei ke Pelabuhan Tanjung Belungkor dan menyatakan pelabuhan tersebut siap terkoneksi dengan Pelabuhan Bintang 99 di Batam.
Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru, yang aktif memfasilitasi rencana ini, merupakan perwakilan konsuler RI yang didirikan pada 11 Maret 1996 dan mengalami peningkatan status menjadi konsulat jenderal berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 11 Tahun 2001.
Wilayah kerja KJRI Johor Bahru mencakup empat negara bagian: Johor, Melaka, Negeri Sembilan, dan Pahang. (A)

