BatamNow.com – Direktur Badan Usaha (BU) Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan Pengelolaan Limbah BP Batam, Idul Priady, menduga aliran angin yang terbaca water meter menjadi penyebab melonjaknya tagihan air pelanggan saat aliran air perpipaan macet atau bahkan mati total.
Hal itu disampaikan Idul saat bertemu dengan warga Sagulung Berseri, Kelurahan Sei Lekop, Kecamatan Sagulung, Kamis (08/10/2026).

Perwakilan warga mengaku aliran air hanya mengalir sekitar lima jam setelah tengah malam di Sagulung Berseri. Bahkan, dalam sebulan terakhir, aliran air kerap mati total.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat tagihan air ikut turun. Warga mengaku ada tagihan yang mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per bulan.
“Bahkan ada kadang sampai di atas Rp 500 ribu, bahkan biaya sebulan itu kemarin saya lihat bahkan ada yang sampai sejuta. Setiap bulan. Ini mati air lho,” kata warga tersebut.
@batamnow Direktur Badan Usaha (BU) Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan Pengelolaan Limbah BP Batam, Idul Priady, menduga aliran angin yang terbaca water meter menjadi penyebab melonjaknya tagihan air pelanggan saat aliran air perpipaan macet atau bahkan mati total. Hal itu disampaikan Idul saat bertemu dengan warga Sagulung Berseri, Kelurahan Sei Lekop, Kecamatan Sagulung, Kamis (08/10/2026). Perwakilan warga mengaku aliran air hanya mengalir sekitar lima jam setelah tengah malam di Sagulung Berseri. Bahkan, dalam sebulan terakhir, aliran air kerap mati total. Namun, kondisi tersebut tidak membuat tagihan air ikut turun. Warga mengaku ada tagihan yang mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per bulan. “Bahkan ada kadang sampai di atas Rp 500 ribu, bahkan biaya sebulan itu kemarin saya lihat bahkan ada yang sampai sejuta. Setiap bulan. Ini mati air lho,” kata warga tersebut. Menanggapi keluhan itu, Idul mengatakan persoalan tersebut menjadi perhatian BP Batam. Menurutnya, water meter yang digunakan saat ini belum sepenuhnya mampu membedakan aliran air dengan angin. “Karena saat ini kita belum menemukan meter air yang secara sensitif itu hanya membaca air,” ujar Idul. Ia menduga angin dapat ikut terbaca meteran ketika pelanggan membuka keran untuk menunggu air mengalir, sementara pasokan air belum masuk ke rumah. “Jadi kalau ada angin, kalau bapak misalnya mungkin, saya yakin banyak beberapa tempat karena tunggu airnya malam, ketiduran, dibuka. Tapi airnya nggak keluar, anginnya saja yang keluar. Itulah yang menyebabkan kemudian tagihan menjadi membengkak,” jelas Idul. Ia menyarankan pelanggan yang mengalami lonjakan tagihan tidak wajar untuk menyampaikan pengaduan kepada PT Air Batam Hilir (ABH), mitra BP Batam dalam operasional dan pemeliharaan SPAM Batam. “Bapak punya hak sebenarnya untuk menyampaikan komplain ke ABH. Komplain itu nanti akan dilihat mereka, kemungkinannya seperti apa dan itu dimungkinkan,” katanya. ABH Diminta Verifikasi Tagihan Direktur Operasional PT ABH, Jefri Maulidani, meminta warga yang mengalami lonjakan tagihan menyampaikan data pelanggan untuk dilakukan verifikasi. “Terkait dengan tagihan tinggi yang tadi disampaikan, air tidak mengalir tapi tagihan sampai dengan Rp 500 ribu. Jadi mohon nanti disampaikan ke kami di sini nomor pelanggannya, pada bulan apa tagihan tersebut, nanti kami akan pengecekan ke lapangan untuk memastikan apakah memang ada tagihan yang tidak semestinya. Nanti kita bisa selesaikan,” ujar Jefri. Usai pertemuan dengan warga, Idul kembali menegaskan bahwa BP Batam meminta PT ABH melakukan evaluasi terhadap persoalan tersebut. “Saya minta dievaluasi. Karena memang kan water meter kita saat ini belum bisa lah,” kata Idul kepada BatamNow.com, di Sagulung Berseri, Kamis siang. Ia kembali menduga persoalan tersebut dapat terjadi ketika pelanggan membuka keran saat menunggu pasokan air, tetapi yang masuk ke jaringan rumah justru udara. “Mungkin pada saat karena masyarakat menunggu malam kan capai tuh, ngantuk dia kan, dibukanya aja. Harapannya air, tapi mungkin ya angin. Di rumah saya saja sering kayak gitu, jangankan masyarakat,” ujarnya. Menurut Idul, evaluasi perlu dilakukan khususnya terhadap pelanggan yang berada di wilayah yang sudah diketahui mengalami gangguan pasokan air. “Kalau memang itu daerah yang sudah jelas daerah yang memang secara sistem sudah dilihat nggak ada air, harusnya itu bisa kemudian dievaluasi oleh teman-teman ABH,” katanya. Ia mengatakan evaluasi tersebut merupakan bagian dari pengawasan BP Batam terhadap pengelolaan SPAM. “Ini bentuk pengawasan kami, bentuk evaluasi yang kita akan sampaikan ke teman-teman ABH untuk dilakukan evaluasi, termasuk keluhan terkait dengan melonjaknya rekening air masyarakat,” tambahnya. Air Perpipaan Belum Bisa Mengalir Selain tagihan air, persoalan utama warga Sagulung Berseri adalah kepastian normalisasi pasokan air perpipaan… Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com
Menanggapi keluhan itu, Idul mengatakan persoalan tersebut menjadi perhatian BP Batam. Menurutnya, water meter yang digunakan saat ini belum sepenuhnya mampu membedakan aliran air dengan angin.
“Karena saat ini kita belum menemukan meter air yang secara sensitif itu hanya membaca air,” ujar Idul.
Ia menduga angin dapat ikut terbaca meteran ketika pelanggan membuka keran untuk menunggu air mengalir, sementara pasokan air belum masuk ke rumah.
“Jadi kalau ada angin, kalau bapak misalnya mungkin, saya yakin banyak beberapa tempat karena tunggu airnya malam, ketiduran, dibuka. Tapi airnya nggak keluar, anginnya saja yang keluar. Itulah yang menyebabkan kemudian tagihan menjadi membengkak,” jelas Idul.
Ia menyarankan pelanggan yang mengalami lonjakan tagihan tidak wajar untuk menyampaikan pengaduan kepada PT Air Batam Hilir (ABH), mitra BP Batam dalam operasional dan pemeliharaan SPAM Batam.
“Bapak punya hak sebenarnya untuk menyampaikan komplain ke ABH. Komplain itu nanti akan dilihat mereka, kemungkinannya seperti apa dan itu dimungkinkan,” katanya.
ABH Diminta Verifikasi Tagihan
Direktur Operasional PT ABH, Jefri Maulidani, meminta warga yang mengalami lonjakan tagihan menyampaikan data pelanggan untuk dilakukan verifikasi.
“Terkait dengan tagihan tinggi yang tadi disampaikan, air tidak mengalir tapi tagihan sampai dengan Rp 500 ribu. Jadi mohon nanti disampaikan ke kami di sini nomor pelanggannya, pada bulan apa tagihan tersebut, nanti kami akan pengecekan ke lapangan untuk memastikan apakah memang ada tagihan yang tidak semestinya. Nanti kita bisa selesaikan,” ujar Jefri.

Usai pertemuan dengan warga, Idul kembali menegaskan bahwa BP Batam meminta PT ABH melakukan evaluasi terhadap persoalan tersebut.
“Saya minta dievaluasi. Karena memang kan water meter kita saat ini belum bisa lah,” kata Idul kepada BatamNow.com, di Sagulung Berseri, Kamis siang.
Ia kembali menduga persoalan tersebut dapat terjadi ketika pelanggan membuka keran saat menunggu pasokan air, tetapi yang masuk ke jaringan rumah justru udara.
“Mungkin pada saat karena masyarakat menunggu malam kan capai tuh, ngantuk dia kan, dibukanya aja. Harapannya air, tapi mungkin ya angin. Di rumah saya saja sering kayak gitu, jangankan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Idul, evaluasi perlu dilakukan khususnya terhadap pelanggan yang berada di wilayah yang sudah diketahui mengalami gangguan pasokan air.
“Kalau memang itu daerah yang sudah jelas daerah yang memang secara sistem sudah dilihat nggak ada air, harusnya itu bisa kemudian dievaluasi oleh teman-teman ABH,” katanya.
Ia mengatakan evaluasi tersebut merupakan bagian dari pengawasan BP Batam terhadap pengelolaan SPAM.
“Ini bentuk pengawasan kami, bentuk evaluasi yang kita akan sampaikan ke teman-teman ABH untuk dilakukan evaluasi, termasuk keluhan terkait dengan melonjaknya rekening air masyarakat,” tambahnya.
@batamnow Perwakilan Badan Pengusahaan (BP) Batam dan PT Air Batam Hilir (ABH) mendatangi warga Sagulung Berseri, Kelurahan Sei Lekop, Kecamatan Sagulung, Batam, Kamis (08/10/2026) pagi. Pertemuan tersebut digelar setelah warga berencana menggelar demonstrasi akibat krisis aliran air perpipaan di kawasan mereka. Warga menyebut sebelumnya air perpipaan masih mengalir setiap hari sekitar pukul 00.00 hingga 05.00 WIB. Namun, dalam sebulan terakhir, aliran air disebut tidak lagi mengalir sama sekali. Informasi diterima warga, seyogianya Wali Kota Batam sekaligus ex-officio Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, dijadwalkan hadir menemui mereka. Namun, ia disebut berhalangan hadir. Dalam pertemuan itu hadir Direktur Badan Usaha (BU) SPAM dan Pengelolaan Limbah BP Batam, Idul Priady; Direktur Operasional PT ABH, Jefri Maulidani; Camat Sagulung Arfie Eranov; Kapolsek Sagulung Iptu Husnul Afkar; serta perangkat lainnya. Idul mengatakan pengelolaan air merupakan tanggung jawab Direktorat SPAM BP Batam dengan PT ABH sebagai operator. “Tentu masalah air menjadi tanggung jawab Dir SPAM sebagai pengelola. Sebagai operatornya, kami tunjuklah yang namanya ABH untuk membantu kami melakukan pengelolaan,” kata Idul kepada warga. Ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala dalam pengelolaan dan distribusi air di Batam. “Kami akui bahwa memang selama ini kami masih terdapat kekurangan, karena juga banyak kendala,” ujarnya. Menurut Idul, sejumlah pekerjaan teknis untuk memperbaiki suplai air ke Sagulung Berseri sedang dilakukan dan ditargetkan rampung pada akhir 2026. “Proyek kita sudah dilaksanakan, insya Allah mudah-mudahan juga selesai di tahun ini sehingga air bisa mengalir,” katanya. Namun, penjelasan tersebut langsung mendapat respons dari warga. “Mohon maaf, Pak. Kami bukan mau dengar keluhan, sekarang solusinya yang kami mau dengar,” teriak seorang warga. Idul kemudian menegaskan pekerjaan yang dilakukan ditargetkan selesai pada Desember. “Kami sampaikan, ini ada kegiatan yang sudah kita lakukan, dan insya Allah Desember selesai,” jawabnya. Pipa 400mm Sepanjang 5 Kilometer Direktur Operasional PT ABH, Jefri Maulidani menjelaskan, gangguan suplai air di Sagulung Berseri tidak berdiri sendiri. Menurutnya, sejumlah wilayah Batam juga mengalami kekurangan suplai akibat keterbatasan produksi dan jaringan perpipaan. “Kita masih kekurangan produksi dan kekurangan jaringan pipa, sehingga hal ini menyebabkan dengan kondisi kemarau panjang, ini meluas di seluruh area Batam. Tidak hanya Sei Lekop, terjadi kekurangan suplai di mana-mana,” jelas Jefri. Untuk memperkuat suplai ke wilayah Batu Aji, termasuk Sei Lekop, PT ABH menyiapkan pemasangan pompa dan jaringan pipa berdiameter 400 milimeter sepanjang sekitar 5 kilometer dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Tembesi, dekat Jembatan I Barelang. Menurut Jefri, proyek tersebut ditargetkan menambah suplai air sekitar 50 liter per detik ke wilayah Batu Aji. “Sehingga ada penambahan suplai ke area Batu Aji lebih kurang sebanyak 50 liter per detik. Jadi secara air, insya Allah bulan Desember selesai, ada penambahan air sebanyak 50 liter,” katanya. Selain itu, uajrnya, PT ABH juga tengah membangun jaringan pipa induk berdiameter 400 milimeter (mm) dari Simpang Nato menuju Rhabayu Green untuk memperkuat suplai ke Sei Lekop. Jefri mengatakan, pembangunan jaringan tersebut masih terkendala ketersediaan pipa yang harus didatangkan dari Tangerang. “Apabila di Batam ada pabrik pipa, kami ambil dari Batam, tapi sekarang kondisinya masih kurang. Sehingga kami terpaksa harus mengambil dari Tangerang,” ujarnya. Ia menargetkan penguatan jaringan Simpang Nato-Rhabayu Green selesai pada Desember 2026. “Insya Allah perkuatan Simpang Nato ke Rhabayu Green ini kita targetkan selesai di bulan Desember 2026. Karena pipanya pipa besar, pipa 400 cukup panjang sekitar 5 kilometer sehingga membutuhkan waktu. Kami tidak ingin pekerjaan dilakukan asal-asalan,” katanya… Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com
Air Perpipaan Belum Bisa Mengalir
Selain tagihan air, persoalan utama warga Sagulung Berseri adalah kepastian normalisasi pasokan air perpipaan.
PT ABH belum dapat memastikan kapan air dapat mengalir selama 24 jam. Untuk sementara, ABH menargetkan pasokan air ke wilayah tersebut dapat mengalir sekitar 8 hingga 10 jam per hari.
Target itu baru dapat dicapai setelah kapasitas produksi ditambah dan sejumlah pekerjaan penguatan jaringan perpipaan rampung pada Desember 2026.
Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan warga, pasokan air masih dilakukan menggunakan truk tangki yang diprioritaskan berdasarkan kebutuhan dan permintaan warga Sagulung Berseri. (D)

