Catatan Redaksi BatamNow.com
Suka duka wasit di arena gelanggang permainan (gelper) tepermanai.
Kisi-kisi duka itu, antara lain wasit bekerja 12 jam sehari. Duka lain, para wasit hanya menyandang pekerja lepas meski telah ‘bertungkus lumus’ selama bertahun.
Dan walaupun di gelimang miliaran bahkan triliunan rupiah cuan bandar di arena gelper, jasa wasit hanya dihargai Rp 8.000 per jam.
Begitulah sekelumit dari ragam kehidupan pekerja di arena gelper yang bertebaran di Batam, sepanjang masa.
Wasit di arena gelper adalah petugas penjaga mesin atau meja judi.
Sudah lazim jika wasit di arena gelper dominan para wanita dengan usia yang relatif muda, meski banyak di antara mereka yang sudah berkeluarga dan punya anak.
Tak banyak wasit lelaki, kecuali masuk golongan koordinator. Koordinator sesekali memegang kunci mesin judi saat wasit perempuan hendak “pipis”, misalnya.
Para wasit inilah yang melayani para pejudi yang mempertaruhkan rupiahnya di arena judi bertopeng gelper itu.
Satu wasit di satu arena gelper, biasanya menjaga belasan mesin. Merekalah yang memegang kunci unit mesin judi itu. Mereka dijuluki juga “women key” atau di lain profesi lazim disebut master key.
Para wasit inilah yang mengisi poin ke mesin setelah pemain menyerahkan terlebih dulu sejumlah uang atau tiket yang dibeli kontan dari loket penjualan di arena gelper.
“Poin, poin, isi, isi,” teriak pemain memanggil wasit agar poin diisi atau ditambah di mesin judi, semisal slot mesin, tembak ikan, mahkota dan lainnya.
Para wasit ini rela bekerja selama 12 jam sehari. Pengelola di setiap arena gelper memberlakukan waktu kerja dengan dua shift saja dalam sehari-semalam. Tidak tiga shift sebagaimana standar peraturan pemerintah seperti di pabrik manufaktur dan perusahaan lainnya di kawasan ini.
Wasit di satu arena ada yang mencapai 50 orang atau lebih, tergantung jumlah unit mesin permainan di setiap arena gelper.
Jika terdapat sekitar 50 arena gelper, bantu hitung sendiri berapa jumlah para wasit yang bekerja setiap hari dan setiap malam.
Rata-rata masa bekerja para wasit di sana sudah lima tahun bahkan lebih, meski ada beberapa yang masih setahun. “Saya di sini sudah lima tahun,” ujar yang mengaku bernama Muti.
Bekerja 12 jam sehari dengan masa kerja selama itu, namun status (hak) pekerja para wasit itu masih harian lepas. Artinya digaji per jam per kehadiran.
Menyedihkan dan tanpa pengawasan dan empati Pemerintah Kota Batam.
Jangankan karyawan tetap, karyawan kontrak pun nyaris tak pernah mereka sandang. “Kami pekerja dibayar harian,” ungkap Junita mengisahkan bareng temannya.
Mereka mengakui ada yang dibayar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per hari dengan waktu kerja 12 jam.
Sukanya yang membuat mereka betah bekerja di sana, harapan pada uang tip atau pemberian para pejudi di kala menang. “Kadang pemain yang menang memberi tip dengan nominal bervariasi ada Rp 100 ribu sampai Rp 300 ribu,” ucap Melinda.
Bayangkan manakala satu wasit dengan tiga member yang diawasi yang menang sehari. “Sukanya, ya itu,” ujar Melinda.
“Tapi kan tak setiap hari,” akunya.
Dukanya, selain “kerja rodi” yang digambarkan di atas, saat-saat hari apes bagi wasit manakala pejudi yang “nembak”.
Misalnya pemain bernasib apes yang kantongnya tak keruan dikoyak mesin judi itu.
Meski uang di kantong sudah ludes surut berpantang bertaruh di mesin untung-untungan itu. “Isi, dua juta rupiah lagi. Catat,” begitu teriak pejudi ditirukan Melinda.
Tak sampai semenit poin dua juta raib diisap mesin “drakula” itu. “Isi lagi,” begitu terus, bahkan pejudi bisa ngutang sampai puluhan juta disedot mesin judi itu.
“Saya pernah tak gajian sampai setahun hanya membayar utang ke kasir atau bos gelper tempat saya cari hidup,” urai Endang yang masih single ini menceritakan derita yang dia alami.
Ternyata peraturan di arena gelper, para wasit bertanggung jawab pada poin yang dijual kepada pemain, berapa pun jumlahnya.
Kata Endang, beragam ulah pejudi. Bayak yang bersikap baik dan main santai meski kalah, tak sedikit pula yang marah-marah dengan aksi kekerasan.
“Ya, apesnya di situ antara lain,” cerita Endang.
Misalnya, Endang disuruh isi poin terus sampai diangka puluh juta dengan janji tunggu ambil dari ATM.
Eh, rupanya, kisah Endang, isi kartu debit ATM si pemain sudah diangka sangat minim dan tak bisa disedot lagi. “Akhirnya muncul masalah dan risiko kami tanggung,” katanya kesal.
Mengapa masih mau mengutangi pemain yang sudah kalah banyak?
Terkadang, jawab Endang, kita diyakinkan dengan gaya atau penampilan dari pemain yang bak Sultan. Berpenampilan necis dan punya pengawal. Di situlah wasit terlena apalagi mimpi uang tip. Kalau pemain menang.
“Eh, pejudinya kalah, apes deh gue,” ujarnya sembari menggabarkan wajah dan gestur pemain yang kalah yang serba gusar mengenang saat-saat nasib apes itu.
Juloandin pemuda yang hampir sepuluh tahun wara-wiri di semua arena gelper di Batam menyampaikan keprihatinannya akan nasib para pekerja wasit di gelper ini.
Dia juga sangat “menyumpah” sikap para bandar judi di Batam yang ia beri jukukan “si raja tega” dan para “kaisar kecil 303 yang sadis”.
“Ya seperti Kaisar Sambo itulah, mereka kejam tak punya rasa kemanusiaan. Yang jelas telah terjadi dugaan perbudakan di arena gelper selama bertahun-tahun dan pemerintah kota ini tak peduli dengan nasib rakyatnya,” begitu Juloandin.
Katanya, cuan para bandar judi di Batam ratusan miliar setiap bulan dan bisa sampai triliun per tahun, namun para wasit perempuan itu nyaris diperbudak?
Apa Salahnya Wasit Ikut Dipenjara?
Apa bukti diperbudak?
“Ya, nasib para wasit dan pekerja lain di arena gelper, sangat mengerikan bila ditinjau dari besaran upah dan jam kerja yang 12 jam tanpa upah lembur. Belum lagi bekerja di indoor dengan kepulan asap rokok yang sangat pekat bak embun di lereng gunung,” Juloandin mencontohkan.
Para pekerja begadang semalaman penuh. Beberapa orang mati kecelakaan di jalanan pada pagi karena terkantuk-kantuk saat pulang dari arena 303 itu.
“Mengendarai sepeda motor saat pulang ke rumahnya, terkantuk di jalan karena semalaman penuh bekerja full time dalam suasana riuh dan penuh asap rokok,” kata Juloandin .
Tak ada jaminan apa-apa selain upah yang tak seberapa. BPJS tak punya. Asuransi apapun tak ada. Jaminan kesehatan lain pun begitu, “bekal hidup kala menganggur ‘amsyong’ seperti sekarang”.
“Kasihan para wanita ini yang tak jelas lagi kini nasib mereka. Apalagi yang sudah punya anak. Tak ada uang tolak atau pesangon dikala tutup seperti sekarang,” ujarnya.
Apalagi, katanya, diprediksi arena gelper akan tutup permanen imbas dari ulah Kaisar 303 Irjen (Pol) Ferdy Sambo tersangka pembunuhan berencana terhadap Brigadir J bersama gerombolannya.
Menurut Juloandin, satu lagi masalah serius yang mendera para wasit perempuan yang ikut ditangkap dan diadili di pengadilan.
Itu terjadi beberapa kali. Ada arena gelper digerebek polisi. Katanya judi tak berizin. Dikenakan Pasal 303 KUHP.
Dia berani mengatakan bahwa para wasit tidak berdosa kalau ada arena gelper yang digerebek dan pemain dan wasit ditangkap. “Tapi bandar tak pernah ditangkap, kecuali bandar jadi-jadian agar unsur perjudian terbukti,” papar Juliandi.
“Para wasit sebagai perkerja yang direkrut kan tak tahu menahu apakah arena gelper itu menyalahi atau tidak karena tak ada beda dengan operasional gelper lain,” urainya.
Atas kasus-kasus seperti itu, menurut Juloandin terjadi penegakan hukum yang tidak berkeadilan.
Kini puluhan arena gelper yang hiruk pikuk selama beberapa tahun, baik yang berizin maupun tak berizin, tutup dengan suasana indoor yang gelap gulita.
Kondisi tutup ini bukan karena digerebek pasca perintah dari Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo kepada jajarannya terhadap judi di darat dan online.
Tak hanya arena yang tutup (sekali lagi bukan digerebek atau ditangkap), kabarnya nyaris semua pengelola arena gelper ciut nyali pasca “Kaisar 303” Sambo dan gengnya dikerangkeng, begitu ultimatum Sigit yang menggetarkan jajaran.
Bahkan kabar kekinian beberapa pentolan bandar judi di Batam, Tanjungpinang dan Karimun tengah kabur mengamankan diri.
Kru media ini dapat info dari informan di Singapura bahwa sebagian dari mereka ada yang berada di Singpura sembari berfoya-foya di meja kasino Sentosa dan Marina Bay Sands (MBS).
Tak hanya bandar di Batam, termasuk dugaan buron bandar kakap judi dari Medan berinisial APBK alias Apin pemilik markas judi online terbesar Warung Warna Warni di Komplek Cemara Asri, Kota Medan.
Kabar kekinian di Batam, beberapa pengelola arena gelper tengah berupaya memindah-sembunyikan ribuan unit mesin judi seperti slot mesin atau jackpot, burble, mahkota, tembak ikan dan lainnya.
Bahkan fasilitas atau alat-alat judi super bola pingpong di beberapa gedung tempat operasi selama ini ada yang sudah dibongkar-sembunyikan menghindari temuan barang bukti.
“Kali ini kiamat gelper dan sudara-sudaranya,” kata Ambertus, personel keamanan sipil di salah satu area gelper yang sudah tutup.
Para wanita wasit gelper apa kabarmu kini? (*)

