BatamNow.com – Krisis air yang melanda warga Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam, tak hanya membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih.
Mereka juga mengeluhkan tagihan air yang justru meningkat meski aliran air perpipaan tidak normal selama berbulan-bulan.
Keluhan tersebut disampaikan dalam aksi 300 warga yang menggelar unjuk rasa spontan di depan pintu masuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa, Senin (05/10/2026).
Aksi yang didominasi emak-emak itu dimulai sekitar pukul 06.00 WIB. Warga berteriak “air, air, air” sembari mengetuk peralatan dapur dan botol galon kosong sebagai bentuk protes atas pelayanan air yang mereka nilai tak kunjung normal.
@batamnow Ratusan warga Kampung Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, menggelar aksi spontan di depan gerbang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa, Senin (05/10/2026). Mereka memprotes krisis air yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Pantauan BatamNow.com di lokasi, unjuk rasa hari ini didominasi emak-emak. Warga berkumpul di depan gerbang akses KEK Nongsa yang menjadi lokasi sejumlah perusahaan data center di Batam. Perwakilan warga, Dewi, mengatakan aksi tersebut dilakukan karena warga tak kunjung mendapatkan solusi atas persoalan distribusi air minum jaringan perpipaan yang mereka alami. “Kami sudah bertemu perwakilan SPAM, tidak ada respons. Kami sudah bertemu orang data center, tidak ada respons. Makanya kami hari ini baru turun. Kalau hari ini air tidak mengalir, kami tidak akan pulang,” kata Dewi. Menurut warga, sekitar 300 kepala keluarga (KK) yang tersebar di tiga RT terdampak krisis air dari jaringan perpipaan. Kondisi tersebut membuat warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air. Bahkan, uang yang seharusnya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok terpaksa dialihkan untuk membeli drum sebagai tempat penampungan air. “Saya sudah tiga kali beli air tangki. Satu tangki itu Rp125 ribu, dipakai cuma satu hari saja,” ujar seorang emak-emak lainnya. Warga juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan air tangki dari pihak penyedia. Mereka mengaku harus berebut dengan warga lainnya ketika air tangki datang. “Kalau nunggu ABH, kita kelahi dulu sama warga, berebut air. Berantem warga kami. Jangan sampai gara-gara air, kami terpecah belah,” keluh warga. Warga Pertanyakan Pasokan Air ke Data Center Warga juga mempertanyakan kondisi pasokan air di kawasan industri dan perusahaan data center yang berada di sekitar permukiman mereka. Mereka mengaku tidak percaya dengan publikasi BP Batam yang menyebut aktivitas data center yang membutuhkan suplai air besar untuk sistem pendingin tidak memiliki kaitan dengan krisis air yang terjadi di Nongsa. Menurut warga, tidak pernah terdengar adanya perusahaan atau industri di kawasan tersebut yang mengalami persoalan pasokan air seperti yang dialami masyarakat. “Tidak ada, hanya warga yang dirugikan. Perusahaan hidup semua kok. Buktinya tadi saya numpang kencing, airnya hidup deras,” ujarnya. Warga menilai kondisi tersebut berbanding terbalik dengan situasi yang mereka alami. Dewi menjelaskan, sudah sekitar tiga bulan tidak mendapatkan aliran air dari jaringan perpipaan. “Tiga bulan tidak pernah menetes. Kami datang ke sini hanya mau air kami mengalir. Kami tidak ingin anarkis,” tegasnya. Hingga pukul 10.09 WIB, warga Sambau masih bertahan di depan gerbang akses KEK Nongsa. Mereka menuntut adanya kepastian terkait distribusi air minum melalui jaringan perpipaan ke permukiman warga. Warga kukuh menegaskan, tak ada lagi negosiasi, air harus menyala hari ini. Aksi tersebut dilakukan warga sebagai bentuk protes atas krisis air yang dinilai telah berlangsung terlalu lama dan membebani kehidupan sehari-hari mereka. Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com
Ketua RT 03/RW 02 Kampung Bakau Serip, Andi Lalang, mengatakan gangguan aliran air bukan lagi persoalan yang terjadi selama beberapa jam.
Menurutnya, warga telah mengalami kondisi air mati-hidup selama sekitar enam bulan. Bahkan, dalam tiga bulan terakhir, aliran air disebut semakin parah.
“Kalau air mati dua jam, tiga jam, tidak masalah. Tapi karena sudah mati selama tiga bulan, atau selama enam bulan mati-hidup, saya dipaksa sama warga untuk mendampingi demo ini,” ujar Andi kepada wartawan di lokasi aksi.

Di tengah sulitnya mendapatkan air, warga juga mempertanyakan kenaikan tagihan air yang mereka terima, di saat air tak mengalir lancar.
Andi mengatakan sejumlah warga yang biasanya membayar tagihan sekitar Rp 60 ribu per bulan mengaku kini mendapat tagihan hingga Rp 200 ribu.
“Warga semua komplain, mulai dari bayaran yang biasanya per bulan itu Rp 60 ribu, melonjak bayar Rp 200 ribu. Kami bingung mau menyampaikannya ke siapa,” katanya.
Kenaikan tagihan tersebut dinilai semakin membebani warga karena mereka juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air ketika pasokan perpipaan tidak mengalir.
Warga terpaksa membeli air galon atau mencari sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Air Tangki Disebut Keruh, Merah hingga Kuning
Selama gangguan distribusi air berlangsung, PT Air Batam Hilir (ABHi) disebut mengirimkan pasokan menggunakan mobil tangki.
Namun, Andi mengklaim kualitas air yang diterima warga dari sejumlah mobil tangki tidak selalu baik.
“ABHi yang mengirim air, tapi air yang dikirim itu kebanyakan yang (berwarna) merah, kuning keruh. Saya enggak paham dia ngambil di mana! Katanya di PAM, jadi kita percaya juga,” ujarnya.
Menurut Andi, sekitar enam unit mobil tangki pernah dikerahkan untuk memenuhi kebutuhan air warga. Namun, jumlah tersebut dinilai belum mampu mencukupi kebutuhan ratusan kepala keluarga (KK) yang terdampak.
Distribusi air yang terbatas bahkan disebut sempat memicu ketegangan antarwarga karena tidak semua warga mendapatkan pasokan dari mobil tangki.
Andi mengaku persoalan tersebut membuat dirinya ikut turun tangan. Bahkan, ia menggunakan uang pribadi untuk membantu membayar lembur sopir mobil tangki agar distribusi air kepada warga tetap berjalan.
“Tidak masalah uang pribadi saya yang keluar, agar air warga saya terpenuhi,” katanya.
Andi mengatakan warga hanya menuntut agar air mengalir.
“Saya simpel, kasih hidup air sudah, balek kami. Saya tidak mau demo,” ujarnya.
Dalam aksi tersebut, Camat Nongsa Amuri bersama Kapolsek Nongsa AKP Eko Chandra menyambangi warga.
Manager Pelayanan PT ABHi Ismadi Alif juga terlihat berada di lokasi dan menjadi sasaran pertanyaan warga terkait kepastian normalisasi aliran air.
Sekitar pukul 10.30 WIB, sejumlah warga bahkan membentangkan tenda berwarna hijau, tepat di tengah jalan pintu masuk KEK Nongsa.
Warga bertahan sambil menunggu kepastian kapan pasokan air minum kembali mengalir secara normal.
Selain soal kontinuitas aliran, warga juga menuntut penjelasan soal kenaikan tagihan dari sekitar Rp 60 ribu menjadi Rp 200 ribu yang dialami warga saat air tidak mengalir lancar.
Aksi tersebut akhirnya mereda setelah Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano dan perwakilan PT Air Batam Hilir, menemui warga dan memberikan janji.
Menjawab keluhan warga Sambau yang berdemonstrasi, PT Air Batam (ABH) Hilir akhirnya mengerahkan tujuh truk tangki untuk menyuplai kebutuhan air warga pada hari ini, sampai semua terpenuhi.
Sementara untuk akses air minum jaringan perpipaan dijanjikan mengalir normal mulai besok. (A)

