Kaos “ASLI” yang Hadir Saat Demo Krisis Air, Warga Sambau: “Waktu Nyari Suara Datang” - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
BatamNow.com

Kaos “ASLI” yang Hadir Saat Demo Krisis Air, Warga Sambau: “Waktu Nyari Suara Datang”

05/Okt/2026 18:18
Kaos “ASLI” yang Hadir Saat Demo Krisis Air, Warga Sambau: “Waktu Nyari Suara Datang”

Warga Sambau yang demo soal krisis air di Nongsa, mengenakan kaos kampanye pasangan Amsakar Achmad - Li Claudia, Senin (05/10/2026). (F: BatamNow)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Sejumlah warga Kampung Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam, yang mengaku sebagai pendukung Amsakar Achmad-Li Claudia Chandra saat Pilkada 2024, menyoroti pasangan tersebut karena tidak hadir langsung dalam menjawab krisis air yang mereka alami beberapa bulan belakangan ini.

Bahkan pendukung pasangan kepala daerah Batam yang dikenal dengan singkatan “ASLI” itu disebut belum datang berkunjung ke lokasi mereka sejak dilantik sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam.

Hal itu disampaikan warga saat menggelar aksi spontan memprotes krisis air, di depan gerbang masuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa, Senin (05/10/2026). Mereka sempat menduduki jalan akses masuk ke kawasan yang menjadi lokasi infrastruktur data center di Batam itu.

Dalam aksi yang diikuti sekitar 300 warga tersebut, seorang pria terlihat mengenakan kaos kampanye berwarna biru dengan corak putih. Kaos itu disablon bergambar karikatur Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra dengan tulisan besar “ASLI”.

“Ini kami ‘ASLI’ dukung dia, tapi kok enggak pernah datang ke sini, apa itu?” ujar warga tersebut sambil menunjuk gambar Amsakar-Li Claudia di kaos yang dikenakannya.

@batamnow Ratusan warga Kampung Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, menggelar aksi spontan di depan gerbang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa, Senin (05/10/2026). Mereka memprotes krisis air yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Pantauan BatamNow.com di lokasi, unjuk rasa hari ini didominasi emak-emak. Warga berkumpul di depan gerbang akses KEK Nongsa yang menjadi lokasi sejumlah perusahaan data center di Batam. Perwakilan warga, Dewi, mengatakan aksi tersebut dilakukan karena warga tak kunjung mendapatkan solusi atas persoalan distribusi air minum jaringan perpipaan yang mereka alami. “Kami sudah bertemu perwakilan SPAM, tidak ada respons. Kami sudah bertemu orang data center, tidak ada respons. Makanya kami hari ini baru turun. Kalau hari ini air tidak mengalir, kami tidak akan pulang,” kata Dewi. Menurut warga, sekitar 300 kepala keluarga (KK) yang tersebar di tiga RT terdampak krisis air dari jaringan perpipaan. Kondisi tersebut membuat warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air. Bahkan, uang yang seharusnya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok terpaksa dialihkan untuk membeli drum sebagai tempat penampungan air. “Saya sudah tiga kali beli air tangki. Satu tangki itu Rp125 ribu, dipakai cuma satu hari saja,” ujar seorang emak-emak lainnya. Warga juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan air tangki dari pihak penyedia. Mereka mengaku harus berebut dengan warga lainnya ketika air tangki datang. “Kalau nunggu ABH, kita kelahi dulu sama warga, berebut air. Berantem warga kami. Jangan sampai gara-gara air, kami terpecah belah,” keluh warga. Warga Pertanyakan Pasokan Air ke Data Center Warga juga mempertanyakan kondisi pasokan air di kawasan industri dan perusahaan data center yang berada di sekitar permukiman mereka. Mereka mengaku tidak percaya dengan publikasi BP Batam yang menyebut aktivitas data center yang membutuhkan suplai air besar untuk sistem pendingin tidak memiliki kaitan dengan krisis air yang terjadi di Nongsa. Menurut warga, tidak pernah terdengar adanya perusahaan atau industri di kawasan tersebut yang mengalami persoalan pasokan air seperti yang dialami masyarakat. “Tidak ada, hanya warga yang dirugikan. Perusahaan hidup semua kok. Buktinya tadi saya numpang kencing, airnya hidup deras,” ujarnya. Warga menilai kondisi tersebut berbanding terbalik dengan situasi yang mereka alami. Dewi menjelaskan, sudah sekitar tiga bulan tidak mendapatkan aliran air dari jaringan perpipaan. “Tiga bulan tidak pernah menetes. Kami datang ke sini hanya mau air kami mengalir. Kami tidak ingin anarkis,” tegasnya. Hingga pukul 10.09 WIB, warga Sambau masih bertahan di depan gerbang akses KEK Nongsa. Mereka menuntut adanya kepastian terkait distribusi air minum melalui jaringan perpipaan ke permukiman warga. Warga kukuh menegaskan, tak ada lagi negosiasi, air harus menyala hari ini. Aksi tersebut dilakukan warga sebagai bentuk protes atas krisis air yang dinilai telah berlangsung terlalu lama dan membebani kehidupan sehari-hari mereka. Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com

BatamNow.com menanyakan apakah Amsakar dan Li Claudia pernah datang ke kampung mereka saat masa kampanye Pilkada 2024, warga yang duduk di tengah jalan bersama peserta aksi lainnya langsung menjawab bahwa keduanya pernah datang.

Baca Juga:  Idul Priady Gantikan Iyus Rusmana di BU SPAM BP Batam, Tantangan Krisis Air Masih Hantui Warga

“Dia, datanglah dia yang ngasih ini, tak diundang pun dia datang,” kata pria tersebut.

Sejumlah emak-emak yang ikut dalam aksi juga menyampaikan hal serupa. Mereka mengatakan Amsakar-Li Claudia mendatangi warga ketika membutuhkan dukungan suara, tetapi tak terlihat ketika warga menghadapi krisis air.

“Waktu kampanye datang, waktu mati air tidak datang. Dia pun tak ada datang. Janjinya lebih manis dari madu,” ujar sejumlah emak-emak tersebut.

Warga berharap Amsakar-Li Claudia turun langsung menemui mereka dan memastikan persoalan air segera diselesaikan.

“Harapan kami dia datang, alirkan air seperti biasa. Titik, enggak banyak cerita, itu aja. Ini ‘ASLI’ dukung dia, tapi kok enggak pernah datang ke sini,” ujar warga.

Ketua RT 03/RW 02 Kampung Bakau Serip, Andi, yang turut duduk bersama peserta aksi, juga mengaku belum pernah melihat Amsakar datang ke kawasan tempat tinggal mereka sejak dilantik sebagai Wali Kota Batam.

“Selama dia menjadi wali kota, belum pernah dia injak di kaveling kami,” kata Andi.

Pernyataan itu langsung disahut sejumlah emak-emak yang berada di belakangnya.

“Giliran mencalonkan datang terus, sibuk nyari suara,” teriak mereka.

Berbulan-bulan Krisis Air

Aksi tersebut dimulai sekitar pukul 06.00 WIB. Warga mengaku sudah berbulan-bulan tidak mendapatkan aliran air bersih di rumah mereka.

Sekitar pukul 10.30 WIB, saat matahari mulai terik, warga bahkan membentangkan tenda berwarna hijau berukuran sekitar 6 meter x 4 meter di tengah jalan pintu masuk KEK Nongsa.

Aksi spontan itu dilakukan karena warga mengaku sudah tidak tahan menghadapi krisis air yang berlangsung berbulan-bulan.

Mereka menyebut tidak ada lagi air yang mengalir dari keran rumah, bahkan setetes pun.

Dewi, salah seorang warga, mengatakan dirinya telah tinggal di kawasan tersebut selama puluhan tahun. Menurutnya, kondisi air mati total seperti yang terjadi saat ini belum pernah dialami warga, bahkan ketika musim kemarau.

“Saya sudah lama tinggal di sini. Walaupun lagi kemarau, kita belum pernah mengalami yang namanya kesulitan air. Baru-baru ini saja air yang sulit,” kata Dewi.

Warga juga menyoroti kondisi pasokan air di sejumlah perusahaan yang berada di dalam kawasan industri.

Mereka menegaskan tidak mempermasalahkan kebutuhan air untuk aktivitas industri. Namun, mereka meminta kebutuhan dasar masyarakat di sekitar kawasan juga dipenuhi.

“Buktinya PT yang ada di dalam itu (kawasan NDP) airnya deras, airnya hidup. Saya barusan numpang di toilet mereka, deras airnya,” ujar Dewi.

BP Batam Turun Temui Warga

Sekitar pukul 12.00 WIB, Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano bersama tim turun ke lokasi untuk menemui warga.

Aksi kemudian dihentikan setelah warga berdialog dengan Denny Tondano.

Dalam pertemuan tersebut, warga mendapat kepastian mengenai suplai air sementara. PT Air Batam Hilir (ABH) mengerahkan tujuh unit truk tangki untuk memenuhi kebutuhan air warga Sambau.

Selain suplai sementara menggunakan mobil tangki, warga juga menyebut mendapat janji bahwa aliran air melalui jaringan perpipaan akan kembali normal paling lambat Selasa (06/10/2026) malam. (A)

ADVERTISEMENT
Berita Sebelumnya

Air Tak Mengalir Berbulan-bulan, Warga Sambau Keluhkan Tagihan Naik dari Rp 60 Ribu Jadi Rp 200 Ribu

Berita Selanjutnya

BP Batam Sebut Data Center Tak Disuplai Waduk Nongsa dan Duriangkang

Berita Selanjutnya
Setelah Warga Demo, PT ABH Kirim 7 Truk Tangki ke Sambau, BP Batam Janji Air Mengalir Besok

BP Batam Sebut Data Center Tak Disuplai Waduk Nongsa dan Duriangkang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Central Tiban
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini

© 2021-2026 BatamNow.com