BatamNow.com – Kota Batam tengah menikmati pertumbuhan ekonomi dan investasi yang signifikan. Namun, di tengah capaian tersebut, persoalan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya ketersediaan air minum, masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Akademisi Kota Batam sekaligus Analis Batam Labor and Public Policy (Balapi), Rikson Pandapotan Tampubolon, SE, MSi, menilai kondisi tersebut merupakan sebuah kontradiksi yang perlu mendapat perhatian serius pemerintah.
Pada Semester I 2026, realisasi investasi di Batam mencapai Rp 38,97 triliun. Sementara itu, ekonomi Batam tumbuh 7,28 persen pada triwulan II 2026.
Namun, di tengah capaian tersebut, warga di sejumlah kawasan seperti Sei Lekop, Sagulung, Batu Aji, Tanjung Sengkuang, Batu Merah, Bengkong hingga Marina masih menghadapi persoalan ketersediaan air minum.
“Saya kira hampir seluruh Batam, air bermasalah. Kontradiksi ini harus menjadi alarm pemerintah. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh berjalan lebih cepat daripada kemampuan pemerintah memenuhi kebutuhan dasar masyarakat,” kata Rikson kepada BatamNow.com, Selasa (08/09/2026).
Menurut dia, investasi puluhan triliun rupiah akan kehilangan makna sosial apabila sebagian masyarakat masih harus menunggu pasokan mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
“Belum lagi kita menyoal kualitas air kita di Batam. Jauh dari kata baik,” ujarnya.
@batamnow Batam diklaim sebagai kota modern nan maju. Namun sebagaimana diatur dalam perundang-undangan, kewajiban negara (BP Batam) dalam melayani hak asasi warga atas air minum sebagai kebutuhan vital, masih bermasalah. “Bayangkan, warga banyak mencari air ke parit, sungai kecil, payu bahkan memandikan anak pun menggunakan air comberan di saat gangguan aliran air minum perpipaan mati mendadak karena terjadi kebocoran pipa secara berulang,” kata beberapa warga terdampak krisis air minum Krisis air minum sudah terjadi sejak Rabu (26/08/2026), namun BU SPAM BP Batam bersama mitra operasionalnya PT Batam Air Batam Hilir (ABHi), tampaknya, tak memiliki kemampuan memitigasi dengan cepat perbaikan distribusi air minum warga ini dengan air tangki. Bahkan mobil pemadam kebakaran (Damkar) pun sudah dikerahkan, namun tak menjawab tuntas permasalahan. Warga: Kami Butuh Air Bukan Janji-janji Hingga Senin (31/08/2026) warga Sagulung Berseri masih “menjerit” dampak matinya aliran air ke rumah mereka. Puluhan warga RT 002 dan RT 009/RW 006 yang mewakili sekitar 250 kepala keluarga (KK) bahkan mendatangi tiik pengisian truk tangki (filling point) di depan RS Graha Hermine, Batu Aji. Mereka mengaku selama enam hari belum mendapatkan distribusi air tangki meski telah diajukan. “Kami butuh air. Jangan janji-janji terus. Kami sudah bosan makan janji,” kata Rismawati. Arianto Situmorang mengatakan warga telah berulang kali meminta bantuan distribusi air, namun belum mendpatkannya. “Sudah bolak-balik, tidak ada sama sekali,” ujarnya. Mandikan Anak Terpaksa dengan Air Comberan Ketiadaan air membuat warga terpaksa mencari sumber lain. Sebagian membeli air, sementara lainnya mengambil air dari parit dan selokan dan air comberan untuk kebutuhan rumah tangga. “Untuk memandikan anak kita, air comberan yang di Mata Kucing kami mengambil dari situ, kami sewa pickup untuk mengambil air comberan di pinggir jalan,” kata Rismawati. Krisis air telah mengganggu kebutuhan dasar keluarga, termasuk anak-anak yang hendak berangkat sekolah. “Kami sangat membutuhkan air. Bahkan anak sekolah pun tidak mandi karena tidak ada air. Kami memohon kepada ABH, 24 jam kalu bisa kami harus hidup air,” ujar Rismawati. Tangki Air dan Damkar Belum Menjawab Distribusi menggunakan mobil tangki dan pengerahan mobil pemadam kebakaran (damkar) dilakukan di tengah krisis. Namun, warga Sagulung Berseri mengaku belum menerima bantuan tersebut. “Wujud mobil tangki seperti apa kami tidak tahu,” kata Rita, warga terdampak. Krisis ini terjadi setelah gangguan pada jaringan perpipaan, termasuk kebocoran pipa induk berdiameter 800 mm yang berdampak pada distribusi air di sejumlah kawasan di Batam. Warga mempertanyakan mengapa gangguan jaringan dapat berlangsung hingga enam hari dan mengapa distribusi darurat atas air minum belum menjangkau mereka. Warga meminta Kepala BP Batam, Amsakar Achmad mengevaluasi seluruh jajaran di Direktorat BU SPAM BP Batam dan PT Air Batam Hilir (ABHi) sebagai mitra operasional SPAM. “Pokoknya itu, kalau memang tidak kompeten, silakan itu diputus hubungannya dengan pihak ABH. Karena ini kan mitra, kalau mitra berarti dia harus tanggung jawab mengatasi masalah air yang ada di sini. Jangan kita disengsarakan, masyarakat miskin di sini,” tegas Arianto. Pelayanan Air Minum Prioritas Amsakar-Li Claudia: Masih Bermasalah Sejak awal pemerintahannya, pelayanan air minum masuk sebagai prioritas utama program Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra yang juga memegang posisi pimpinan BP Batam. Namun mendekati dua tahun kepemimpinan keduanya, masalah pelayanan air minum kepada pelanggan atau konsumen SPAM BP Batam, masih bermasalah dan pada tahun 2026 frekuensi masalah lebih parah. Catatan dan data yang diperoleh media ini, berkali pipa bocor selama tahun ini dan masalah teknis layanan lainnya yang berpontensi merugikan konsumen… Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com
Komitmen Pemerintah Harus Diukur dari Hasil
Rikson juga menyoroti pernyataan Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, yang sebelumnya menyatakan persoalan air di Batam “harus selesai”.
Pemerintah, kata dia, telah melakukan sejumlah langkah, mulai dari peningkatan kapasitas Inastalasi Pengolahan Air
(IPA) Sungai Ladi, pembangunan IPA Sei Temiang, penambahan armada mobil tangki hingga penguatan jaringan di Sei Lekop.
Namun, menurut Rikson, berbagai langkah tersebut harus diukur berdasarkan hasil yang dirasakan masyarakat.
“Tetapi komitmen politik harus diukur dari hasil, tenggat waktu dan konsistensi pelaksanaan,” jelasnya.
Jika target penyelesaian yang sebelumnya direncanakan pada Agustus 2026 bergeser hingga akhir tahun, pemerintah dinilai perlu menjelaskan secara terbuka penyebab keterlambatan, target penyelesaian terbaru serta indikator keberhasilannya.
“Warga tidak membutuhkan sekadar informasi bahwa proyek berjalan. Mereka membutuhkan kepastian kapan air kembali mengalir normal ke rumah dan kualitasnya lebih baik,” tegas Rikson.
Krisis Air Bukan Sekadar Persoalan Pipa
Rikson menilai persoalan air di Batam tidak semata-mata berkaitan dengan aspek teknis. Hambatan pembangunan jaringan akibat persoalan legalitas atau status lahan, misalnya, menunjukkan masih adanya persoalan koordinasi dalam tata kelola.
Karena itu, penyelesaian krisis air menurutnya harus melibatkan berbagai aspek secara bersamaan, mulai dari infrastruktur, pertanahan, tata ruang, pelayanan publik hingga pengawasan.
Ia mengatakan, jangan sampai pemerintah menyebut berhasil memperbaiki kapasitas produksi, tetapi jaringan tidak bisa dibangun. Atau jaringan tersedia, tetapi sumber air bakunya semakin tertekan.
Di sisi lain, kebutuhan air di Batam terus meningkat seiring pertumbuhan rumah tangga, industri, pariwisata hingga pusat data.
Pertumbuhan kebutuhan tersebut, lanjut Rikson, harus diimbangi dengan perlindungan serius terhadap sumber air baku dan daerah tangkapan air.
“Ini yang menurut saya harus menjadi perhatian serius Amsakar–Li Claudia. Mereka memiliki posisi strategis karena memimpin Pemko Batam dan BP Batam,” ujarnya.
“Artinya, persoalan air seharusnya dapat ditangani melalui koordinasi yang lebih terintegrasi, bukan terfragmentasi antarinstansi. Krisis air bukan sekadar persoalan operator, pipa atau proyek infrastruktur,” sambungnya.
Air Harus Jadi Indikator Keberhasilan Pembangunan
Rikson mengatakan, jika Batam ingin terus dikembangkan sebagai pusat industri, digital dan investasi, maka kepastian air bagi investor harus berjalan beriringan dengan kepastian air bagi masyarakat.
“Jangan sampai timpang,” ucapnya.
Ia menilai ketersediaan air seharusnya menjadi salah satu indikator paling fundamental dalam mengukur keberhasilan pembangunan Batam.
Investasi dan pertumbuhan ekonomi, kata dia, memang penting. Namun, masyarakat juga harus merasakan manfaatnya melalui pelayanan publik yang semakin baik.
“Mobil tangki adalah solusi darurat, bukan solusi pembangunan. Yang dibutuhkan warga adalah air yang mengalir stabil, jaringan yang andal, kualitas air yang lebih baik serta sumber air baku yang berkelanjutan,” katanya.
Rikson berpesan, Batam tidak boleh hanya menjadi kota yang menarik bagi investor, tetapi juga menjadi kota yang layak dihuni pekerja, keluarga dan seluruh masyarakat.
“Jangan sampai Batam semakin maju secara ekonomi, tetapi warganya justru semakin sering menunggu air. Ini anomali,” ucap Rikson. (A)

