BatamNow.com – Rencana Perum Bulog Cabang Batam memasok 4.000 ton beras premium ke Batam menemui kendala karena minimnya respons dari para distributor lokal.
Padahal rencana pasokan ini sesuai perintah Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) setelah mencermati hasil kajian kondisi stabilitas beras di Batam.
Tak diresponsnya tawaran Bulog justru memperkuat dugaan selama ini bahwa beras impor ilegal masih beredar di Batam.
Kepala Bulog Batam, Guido XL Periera, menyebut, pihaknya menawarkan beras premium yang akan didatangkan dari Gudang Bulog Sidrap dan Pare-Pare, Sulawesi Selatan dan Barat.
“Kami sudah menawarkan pasokan beras premium domestik, tetapi para distributor tak ada respons,” ujar Guido, Kamis (08/01/2026).
Beras yang ditawarkan Bulog ditujukan untuk menjaga stabilitas stok beras dan HET di Batam yang mayoritas masyarakat Batam mengkonsumsi beras premium.
Diduga Tengkulak atau Kartel Sembako Masih Bermain
Sementara itu, Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan stok beras premium aman dan tidak ada impor beras ke Batam.
Ia memastikan semua beras yang beredar berasal dari produksi dalam negeri dan Direktorat Lalu Lintas Barang BP Batam tidak mengeluarkan izin impor.
Amsakar memastikan telah mengecek dokumen FTZ BP Batam tidak ada kegiatan importasi beras, namun tak menyinggung kemungkinan importasi ilegal.
Dengan minimnya respons distributor atas tawaran Bulog justru memantik pertanyaan publik tentang transparansi arus pasokan beras premium ke Batam, sekaligus memperkuat dugaan keterlibatan tengkulak atau kartel sembako yang masih berperan sejak dari awal Batam dikembangkan.
Apalagi Batam pernah dicatat Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) sebagai titik awal (starting point) penyeludupan di Indonesia dan seiring dinamika perjalanan pengembangan Batam pengadaan beras datang dari negeri seberang.
Guido menambahkan, kebutuhan beras premium di Batam tetap tinggi, sehingga rencana pengiriman dari sentra produksi nasional menjadi penting untuk menjaga kestabilan harga dan pasokan.
Melihat terjadinya kontroversi ini, masyarakat dan pengamat sebagaimana dirangkum BatamNow.com, meminta Amsakar dapat menjelaskan rinci tentang asal beras premium yang beredar di Batam, agar dugaan beras impor ilegal bisa diklarifikasi.
Amsakar Diminta Bercermin dari Skandal Limbah B3
Klarifikasi ini diperlukan karena jika berkaca dari skandal limbah elektronik impor yang kini ditahan di pelabuhan dan diperintah wajib re-ekspor karena ternyata barang ilegal dan masuk ke Batam berdasarkan persetujuan pemasukan bahan baku dari BP Batam.
Fakta yang terungkap oleh Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bahwa 914 kontiner berisi limbah elektronik impor mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) dan wajib dikembalikan (re-ekspor) ke negara asal karena barang ilegal sebagaimana dilarang oleh UU Nomor 32/2009 tentang PPLH.
Menurut perkiraan NGO Basel Action Network (BAN) dan
Nexus 3 dan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), sebanyak 6.282 kontiner limbah terindikasi mengandung B3 sudah sempat lolos dan didaur ulang di lokasi perusahaan di Batam.
Tiga importir kontainer berisi limbah elektronik ke Batam, yakni PT Esun International Utama Indonesia, PT Logam Internasional Jaya, dan PT Batam Battery Recycle Industres (BBRI) yang keberadaanya dinilai sebagai perusahaan misterius dan hingga sekarang baik BP Batam serta Pemko Batam tak membuka keberadaan perusahaan ini ke publik.
Lalu siapa atau perusahan mana saja pemasok beras premium dari sentra produksi pertanian Indonesia ke Batam?
Publik meminta Amsakar membukanya ke publik agar spekulasi liar dugaan impor beras tidak menggelinding terus.
Transparansi diperlukan: misalnya alur pasokan dari sentra produksi daerah mana dipasok ke Batam?
Dengan angkutan apa dan diminta dibukakan manifest-nya ke publik secara transparan, kalau tak mau dituding terus beras premium yang beredar secara masif di Batam, diyakini beras impor yang masuk secara ilegal.
Apalagi kala sumber BatamNow.com menjelaskan jenis beras premium dari sentra produksi pertanian di Indonesia, secara visual beda bentuk fisik berasnya yang beredar di Batam
Di satu sisi Amsakar menyatakan stok beras premium di Batam aman, namun di sisi lain Bulog melihat perlu pengadaan 4.000 ton untuk menjamin stabilitas.
Dan rencana pasokan beras 4.000 ton tersebut, menurut Guido, adalah atas perintah Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Tapi mengapa para distributor tak merespons tawaran Bulog Cabang Batam? (P/Red)

