:batamnow:-BATAM memiliki potensi yang luar biasa. Secara geografis, kota Batam punya posisi sangat strategis: berbatasan dengan Singapura sebagai negara maju di kawasan Asia yang jaraknya hanya 12,5 mil laut saja.
Rahasia “cadangan emas” Batam itu sebenarnya berada di lautan.
Batam berada pada jalur pelayaran internasional selat Melaka dan selat Phillips yang merupakan jalur utama dan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.
Data menunjukkan, peta perdagangan dunia hingga saat ini, 90 persennya menggunakan jalur laut dan 40 persen melewati perairan Indonesia, khususnya Batam yang berada di pintu gerbang Asia ini.
Potensi inilah yang sudah digarap Singapura, jauh ketika negara pulau itu masih bernama “Tumasik” dan kemudian dioptimalkan pengelolaannya oleh Raffles saat menguasai pulau ini.
Raffles memang sudah lama kesemsem sama Singapura, sampai-sampai dia berani membarter Bengkulu yang sudah dia kembangkan terlebih dulu, dengan pulau mungil di ujung semenanjung Malaysia itu.
Maka itu wajar bila Singapura berhasil membangun kotanya dari hanya menjadi penyedia pelabuhan transit bagi kapal-kapal dagang yang berlalu lalang di kawasan ini.
Berkat kepiawaiannya ini, Singapura menjelma menjadi negara raksasa.
Raksasa? Bukankah Singapura negara kecil yang kalau dikencingi ramai-ramai orang se Indonesia bisa tenggelam?
Di masa lalu besar tidaknya sebuah negara memang selalu dilihat dari lur wilayah dan jumlah penduduknya, tapi saat ini sudah bergeser.
Luas wilayah dan penduduk tak lagi menjadi bagian yang utama, tapi value khususnya kekuatan ekonominya.
Begitulah Singapura saat ini.
Sedangkan Batam, masih sangat lambat merespon peluang ini. Bahkan terkesan setengah hati.
Padahal andai saja mau, maka pulau dengan luas 426.563 hektare yang terdiri dari 318.298 hektare luas laut dan 108.265 hektare luas darat itu, akan lebih maju dari saat ini.
Di saat Batam masih “kebingungan” menggarap sektor perdagangan laut itu, Malaysia dalam hal ini Johor, pada 30 Juli 2006,langsung menyalip dengan membentuk Iskandar Development Region (IDR) dan South Johor Economic Region (SJER).
Makin beratlah saingan Batam. Kota ini seolah berdiri di antara para raksasa. Jangankan bersaing dengan Singapura, dengan Johor saja sudah kewalahan.
Untuk menyaksikan seberapa besar raksasa perdagangan Singapura ini, kami menghimpun beberapa data penunjang.
Hingga tahun 2018, Singapura masih menjadi pelabuhan transhipment tersibuk di dunia, dan pelabuhan tersibuk kedua di dunia.
Total tonase pengiriman, pelabuhan Sigapura mentransportasikan seperlima pengiriman kontainer dunia, dan setengah pengiriman pasokan minyak mentah dunia.
Pelabuhan Singapura sendiri memiliki kapasitas 36,6 juta teus kontainer, dengan total kargo 630 juta ton. Dari sektor ini saja, Singapura mampu membuka lapangan kerja bagi 170.000 tenaga kerja.
Sukses mengembangkan potensi laut, Singapura langsung menggenjot potensi udaranya, sebagai pendukung lalu lintas barang dan jasa, untuk menggerakkan sektor ekonomi lainnya, seperti pariwisata.
Bandara Changi kian diperluas dan diperlengkap kapasitas layanan dan fasilitasnya. Hasilnya, kini Changi memiliki fasilitas penerbangan terbaik di Asia dan dunia.
Bandara internasional Changi melayani lebih dari 100 maskapai penerbangan ke lebih dari 400 kota di 100 negara, dengan operasional 24 jam.
Changi juga menjadi salah satu bandara tersibuk nomor enam di dunia, dan kedua di Asia, dengan melayani 386.000 penerbangan per tahun.
Ini artinya, setiap minggu ada lebih kurang 7.400 penerbangan di Changi, artinya lagi, ada satu penerbangan/ pendaratan tiap 80 detik!!!
Changi juga melayani 65,6 juta penumpang dan 2,15 juta ton kargo. Semua ini didukung oleh fasilitas bandara yang kini memiliki 4 terminal.
Karena kepiawaian mengelola segenap potensi inilah, Singapura pun mampu mengembangkan sumber ekonomi lainnya, selain perdagangan, yakni Pariwisata.
Dan kunjungan wisatawan manca negara ke wilayah ini terus meningkat dari tahun ke tahun.
Pada 2017 ada 17,4 juta kunjungan wisatawan, da meningkat 2018, sekitar 18,5 juta wisatawan.
Bagaimana dengan Batam sendiri?
Kita harus yakin Batam pasti maju, toh letaknya juga sama di gerbang Asia.
Cuma, masalahnya kapasitas dan fasilitasnya saja yang harus ditingkatkan.
Tentu saja juga terkait pelayanan. Kalau tidak, maka akan sulit melawan para titan itu.
Apalagi kalau dilihat dari data yang ada, baik kapasitas pelabuhan laut dan pelabuhan udara yang dimiliki Batam masih jauh dari Singapura.
Tak usah menyamai, mendekati saja tidak.
Lihat saja pelabuhan laut Batam. Pergerakan kunjungannya masih 27.590 kapal barang dan 48.351 kapal penumpang.
Perkembangan bongkar muatnya ada 5.021.000 ton bongkar domestik, 843.000 ton muat domestik, 1.411.000 ton ekspor, 3.655.000 ton impor.
Sementara, Terminal Palabuhan Batuampar yang difokuskan sebagai pelabuhan transhipment, hanya memiliki kapasitas 400.000 TEUs kontainer.
Selain itu, pelabuhan yang memiliki container yard 20.000 m2 ini, memiliki kapasitas 2 juta ton non kontainer, gudang terbuka 214.000 m2, dan gudang tertutup 19.500 m2.
Sebenarnya Batam masih punya pelabuhan transhipment serupa, yakni terminal Kabil, yang memilki gudang terbuka 193.000 m2 dan gudang tertutup 5.544 m2.
Lebih prihatin lagi bila bicara soal pelabuhan udara.
Bandara Hang Nadim Batam saat ini masih belum nampak sebagai bandara yang keren, baik dilihat dari fasilitas dan kapasitasnya.
Saat ini di bandara internasional-nya, hanya melayani 8 maskapai penerbangan ke lebih 20 kota domestik dan satu penerbangan internasional (Malaysia).
Operasional pun belum 24 jam.
Hang Nadim hanya mampu melayani 6,32 juta penumpang dan 50.600 ton kargo.
Lebih prihatinnya lagi, hanya memiliki 1 terminal.
Akankah semua ini bisa ditingkatkan?
Tentunya tergantung bagaimana gebrakan pemerintah, khususnya pemerintah daerah.
Meski demikian, wajib kita apresiasi upaya Walikota Batam Muhammad Rudi menggenjot potensi kota ini lebih optimal lagi.
Demikian juga dengan fasilitasnya yang makin diperbanyak.
Salah satunya, menambah potensi ekonomi dari hanya kota industri menjadi kota wisata. Caranya dengan membangun beberapa infrastruktur.
Hasilnya, kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara ke Batam kian meningkat.
Tahun 2017 saja ada sekitar 1.504.275 wisatawan, dan 2018 bertambah lagi menjadi 1.887.224 wisatawan.
Sebenarnya banyak lagi program Rudi untuk menggerakkan potensi kota ini.
Bila terlaksana, maka akan sanggup memicu pertumbuhan ekonomi yang sempat anjlok 2016 lalu.
Kita tunggu saja awal Mei ini… (***)
________
Artikel: Tim Data & Riset Kata Batam

