BatamNow.com – Tiga tahun sejak Proyek Strategis Nasional (PSN) Rempang Eco-City diluncurkan, kepastian mengenai investor utama atau investor lain yang akan masuk masih menjadi tanda tanya.
Perusahaan asal Cina, Xinyi Glass Holdings Limited, menyatakan tidak terlibat dalam pengembangan Pulau Rempang maupun dengan PT Makmur Elok Graha (MEG).
Pasca pernyataan itu, hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai siapa investor utama yang akan masuk berinvestasi di Rempang Eco-City.
Saat Rempang Eco-City diperkenalkan pada 2023, Xinyi Glass berkali-kali digaungkan sebagai investor utama yang akan menanamkan investasi sekitar Rp 175 triliun, atau hampir separuh dari total nilai investasi yang diproyeksikan Rp 381 triliun masuk ke Rempang hingga 2028.
Dan disebut akan menyerap 32 ribu tenaga kerja di tahap awal dan 362 ribu hingga 2028.
Namun pada 2025, secara mengejutkan, Xinyi Glass menyatakan tidak memiliki keterkaitan dengan proyek Rempang Eco-City maupun dengan PT Makmur Elok Graha (MEG) perusahaan yang bekerja sama dengan BP Batam dalam pengembangan kawasan tersebut.
Pasca pernyataan muncul pertanyaan baru mengenai siapa sebenarnya investor utama proyek yang sejak awal menjadi dasar pemerintah menjalankan percepatan pembangunan dan relokasi warga.
Pertanyaan itu bukan tanpa sebab, karena proses relokasi warga di Pulau Rempang berjumlah sekitar 7.935 jiwa (data BPS) masih terus berlangsung dan masih alot karena sering terjadi benturan dan lebih banyak yang menolak.
Dari total warga Rempang, disebutkan baru hanya 242 Kepala Keluarga (KK) telah direlokasi ke kawasan hunian baru Rempang Eco-City atau setara dengan 842 jiwa yang telah menempati rumah baru dari 7.935 jiwa (data BPS).
Dengan demikian sebagian besar warga masih bertahan di kampung-kampung tua Rempang dan menolak untuk direlokasi.
Penolakan sebagian warga Rempang di pulau seluas 16.583 hektare (165,83 km²) itu beberapa kali berujung benturan dengan aparat keamanan.
Beberapa hari lalu, warga Kampung Pantai Melayu, Rempang, memprotes pemasangan papan pengumuman Hak Pengelolaan Lahan (HPL) oleh BP Batam di sejumlah titik.
Sejumlah warga juga berencana menemui Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, untuk menyampaikan keluhan mengenai situasi yang mereka alami selama proses pengembangan kawasan berlangsung.
Kantor PT MEG di Orchard Tampa Plang Merek
Untuk memperoleh perkembangan terbaru proyek tersebut, BatamNow.com berupaya menghubungi Direktur PT Makmur Elok Graha (MEG), Trijono.
Permintaan konfirmasi yang disampaikan melalui pesan WhatsApp maupun surat elektronik ke email perusahaan tersebut tidak memperoleh tanggapan.
Tim BatamNow.com juga mendatangi alamat kantor PT MEG yang tercantum google di kawasan Orchard Park, Jl. Orchard Park Walk Blok I Nomor 10, Kelurahan Belian, Kecamatan Batam Kota, Kota Batam.
Di lokasi tersebut tidak terlihat plang nama perusahaan PT MEG. Aktivitas di ruko tiga lantai itu juga tidak menunjukkan keberadaan kantor yang menjadi pengembang proyek strategis bernilai ratusan triliun rupiah.
Sthefani: PT MEG Masih Berkomitmen Kembangkan Rempang
Sementara itu, Direktur Diseminasi Informasi dan Hubungan Antar Lembaga BP Batam, Sthefani Barlian, tidak menjawab spesifik calon investor yang akan berinvestasi di Rempang setelah Xinyi Glass menyatakan tak ada kaitan lagi dengan proyek Eco-City di Batam itu.
Sthefani menyatakan BP Batam bersama PT MEG tetap melakukan komunikasi dan koordinasi terkait pengembangan Rempang Eco-City.
Menurutnya, PT MEG masih berkomitmen melaksanakan investasi dan mengembangkan Pulau Rempang sebagai kawasan pertumbuhan ekonomi baru yang terintegrasi meliputi sektor industri, pariwisata, perdagangan, jasa, maritim, serta berbagai kegiatan pendukung lainnya.
Ia juga menjelaskan PT MEG terus melakukan komunikasi dan penjajakan dengan berbagai calon investor, mitra usaha, dan jejaring bisnis internasional.
Dia katakan, proses tersebut merupakan bagian dari tahapan investasi yang mencakup perencanaan, persiapan, pemenuhan ketentuan, hingga pelaksanaan investasi.
“Pengembangan kawasan Rempang dilaksanakan secara bertahap dan tidak bergantung pada satu calon investor maupun satu jenis kegiatan usaha. Setiap perkembangan investasi yang telah memiliki kepastian akan disampaikan kepada publik sesuai tahapan pelaksanaannya,” ujar Sthefani.
Meski demikian, BP Batam belum mengungkap identitas investor utama yang akan menggantikan posisi Xinyi Glass setelah perusahaan tersebut menyatakan tidak terlibat dalam proyek Rempang Eco-City.
Sedangkan Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djamy Francis, kepada media baru-baru ini, menyebut total investasi di Rempang Eco-City sebesar Rp 180 triliun hingga Rp 210 triliun.
Angka tersebut jauh di bawah publikasi BP Batam sebelumnya yang menyebut totalnya Rp 381 triliun.
Ketiadaan informasi terbaru yang jelas memunculkan pertanyaan publik mengenai arah pengembangan Rempang.
Sebab, proyek yang menjadi dasar relokasi ribuan warga itu sejak awal dipromosikan dengan narasi masuknya investasi asing berskala besar.
Hingga kini, belum ada penjelasan terbuka mengenai perusahaan mana yang akan menjadi investor utama, berapa nilai investasi yang telah memiliki komitmen pasti, serta sejauh mana realisasi investasi tersebut.
Transparansi mengenai kepastian investor menjadi penting agar masyarakat memperoleh gambaran yang jelas mengenai dasar pengembangan kawasan Rempang, terutama ketika proses relokasi warga masih terus berlangsung dan menimbulkan dinamika di lapangan. (Red)

