BatamNow.com – Perhatian masyarakat Batam kini tertuju pada Bukit Vista, lokasi hotel bintang empat yang berada di Kelurahan Baloi Indah.
Polemik muncul di sana karena kondisi bukit yang mengalami kerusakan lingkungan cukup parah.
Bekas potongan tanah mengalami longsor menyusul aktivitas cut and fill dalam rangka perluasan fasilitas hotel berupa hall dan ruang F&B (Food & Beverage).
Atas kondisi tersebut, Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, bersama Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, memerintahkan untuk menghentikan sementara pengerjaan proyek tersebut.
@batamnow Masyarakat Batam mengapresiasi langkah Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala Li Claudia Chandra yang menindak aktivitas cut and fill di Bukit Vista, Baloi, Batam, yang telah merusak lingkungan. Malah sejumlah warga mendesak agar tidak hanya penghentian sementara, tetapi juga pencabutan seluruh perizinan proyek demi penyelamatan, pemulihan Bukit Vista ke kondisi alaminya. Baca Beritanya di BatamNow.com #batamnow #batamtiktokcommunity #batamhits #batamnews #batamisland #batamsirkel #kotabatam #batampunyacerita #semuatentangbatam #galang #rempang #barelang #bpbatam #amsakarachmad #liclaudiachandra #fyp #fypシ #batam ♬ Minimal for news / news suspense(1169746) – Hiraoka Kotaro
Nama “Bukit Vista” sendiri tidak ditemukan sebagai nama resmi dalam peta geografi atau administrasi kota Pemko Batam.
Namun, masyarakat Batam pada akhir 1990-an mengenal kawasan itu sebagai “Bukit Telkomsel”.

Julukan itu bukan tanpa alasan.
Dahulu, sebelum lahan dialokasikan untuk pembangunan Hotel Vista oleh BP Batam, bukit tersebut adalah bukit alami, nan rimbun.
Menjadi satu-satunya titik yang gemerlap di malam hari, berkat keberadaan neon sign merek Telkomsel di puncaknya.
Kondisi itu jauh sebelum landmark ikonik “Welcome to Batam” di Bukit Clara.

Reklame bercahaya tersebut menjadi pemandangan ikonik yang mudah dikenali, terutama dari Simpang Jam (kini dikenal sebagai Simpang Flyover Laluan Madani).
Karena daya tarik visual itulah, warga kemudian menyebutnya Bukit Telkomsel.
Namun entah siapa yang mencopot neon sign itu, setelah satu hotel dibangun di sana.
Bukit Vista dengan jetinggian: ± 50–80 meter di atas permukaan laut (mdpl), memiliki luas ± 20–30 hektare (perkiraan berdasarkan pengembangan kawasan sekitar).
Kondisi Saat Ini
Mengalami longsor parah, terutama saat musim hujan, akibat aktivitas pemotongan kontur bukit (cut and fill).
Kini publik mempertanyakan mengapa BP Batam begitu mudah mengalokasikan lahan tersisa di bukit tersebut?
Apakah lewat kajian menyeluruh mengenai risiko ekologi dan keamanan lingkungan?

Banyak kalangan berharap agar Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra dapat meninjau ulang kebijakan alokasi lahan tersebut, dan mengembalikan fungsi ekologis bukit sebagai ruang terbuka hijau, demi kelestarian lingkungan Batam ke depan. (Red)

