BatamNow.com – Kecelakaan kerja di galangan kapal PT ASL Shipyard Indonesia, di Tanjung Uncang, terjadi kembali dan “merenggut nyawa” pekerja.
Korban tewas kali ini merupakan seorang pekerja subkontraktor yang dilaporkan meninggal dunia setelah diduga tersengat aliran listrik saat melakukan pekerjaan pengecatan kapal, pada Senin (29/12/2025).
Korban diketahui berinisial RS (34), karyawan subkon PT Vinnex Coatindo (VC) yang bekerja di area galangan PT ASL Shipyard Batam.
Berdasarkan identitas kependudukan, korban tercatat sebagai warga Desa Kukuwerang, Kelurahan Watohari, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurut beberapa sumber, insiden terjadinya kecelakaan kerja itu sekira pukul 14.30 WIB. Saat itu, korban tengah mengerjakan pengecatan kapal ASL Sentosa bersama seorang rekan kerjanya.
Rekan korban bertugas sebagai operator boomlift, sementara korban melakukan pengecatan menggunakan spray gun.
Dalam proses pekerjaan, boomlift yang digunakan diduga tersangkut pada kabel power yang terhubung dengan boks panel listrik.
Akibatnya, aliran listrik mengenai korban hingga mengalami sengatan listrik.
Korban sempat dievakuasi dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Elisabeth, Sei Lekop untuk mendapatkan penanganan medis.
Namun, nyawa korban tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Menurut Kapolresta Barelang yang baru menjabat, Kombes Pol Anggoro Wicaksono, pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait insiden terbaru di galangan ASL itu.
“Masih dilakukan penyelidikan, mohon waktu, karena itu juga, kita harus dalami dulu latar belakang ASL itu yang kemarin kejadian meninggal ya, laka kerja, masih didalami oleh jajaran Satreskrim bersama unit Reskrim Polsek,” kata Anggoro di lobi Mapolresta Barelang, Sukajadi, Selasa (30/12/2025).

Insiden “Maut” Berulang Kali Terjadi
Kecelakaan (laka) kerja di lingkungan galangan kapal PT ASL Shipyard bukan pertama kalinya terjadi.
Dalam catatan BatamNow.com selama periode tahun 2025 saja, pekerja yang meninggal dunia, dalam peristiwa laka kerja mencapai 18 jiwa, sementara yang luka-luka ringan dan berat mencapai 23 jiwa.
Insiden maut pertama itu terjadi pada 24 Juni 2025, kapal Floating Storage and Offloading (FSO) MT Federal II, meledak dan menewaskan empat pekerja serta lima lainnya mengalami luka ringan hingga berat.
@batamnow Data terbaru hingga malam ini, sudah empat pekerja dinyatakan korban tewas akibat kebakaran kapal tanker Federal II di galangan kapal (shipyard) PT ASL, Batam, yang terjadi pada Selasa (24/06/2025) sore. Sementara jumlah korban ada sembilan orang: empat lainnya mengalami luka bakar, dan satu lagi luka ringan. “Untuk jenazah, ada empat jenazah yang teridentifikasi meninggal dunia, itu akan digeser ke Rumah Sakit Bhayangkara,” jelas Kapolsek Batu Aji AKP Raden Bimo Dwi Lambang, kepada wartawan di Rumah Sakit Mutiara Aini, Selasa (24/06) malam. Baca selengkapnya di BatamNow.com Baca Beritanya di BatamNow.com #batamnow #batamtiktokcommunity #batamhits #batamnews #batamisland #batamsirkel #kotabatam #batampunyacerita #semuatentangbatam #galang #rempang #barelang #tanjunguncang #fyp #fypシ #fypシ゚viral ♬ original sound – BatamNow.com
Kemudian, kapal yang sama kembali meledak pada Rabu, 15 Oktober 2025, dini hari. Namun kali ini korbannya lebih banyak.
Dalam peristiwa itu sebanyak 13 jiwa dilaporkan meninggal dunia, 18 jiwa lagi mengalami luka-luka dari ringan hingga berat.
@batamnow Tragedi kembali terjadi di galangan kapal PT ASL Shipyard, Tanjung Uncang, Batam. Kapal Floating Storage and Offloading (FSO) Federal II kebakaran pada Rabu (15/10/2025) sekitar pukul 04.00 WIB. Informasinya, ledakan terdengar hingga radius beberapa kilometer dan menimbulkan kobaran api besar yang melahap bagian lambung kapal. Para pekerja panik dan berusaha menyelamatkan diri dari lokasi kejadian. Berdasarkan data yang diterima BatamNow.com, peristiwa ini menyebabkan 31 orang menjadi korban, terdiri dari 10 orang meninggal dunia, sementara sisanya mengalami luka berat hingga luka ringan. Tim pemadam kebakaran dan petugas keamanan galangan segera dikerahkan untuk memadamkan api. Sementara itu, tim medis mengevakuasi para korban ke sejumlah rumah sakit di kawasan Batu Aji. Data Sementara Korban Berikut rincian sementara korban berdasarkan data yang dihimpun BatamNow.com: RS Elisabeth Batu Aji terdapat 7 korban, terdiri dari: 4 meninggal dunia: CP (36), KS (51), RRN (19), HS. 3 korban kritis: FK (23), TA (41), MS. RSUD Embung Fatimah: 2 korban meninggal dunia: A (48), FPP (41). RS Mutiara Aini dengan 15 korban, terdiri dari: 4 meninggal dunia: AH, IS, DS, MT. 5 luka ringan: AR, JAP, PAP, JR, SLT. 6 luka berat/kritis: IP, AH, RAHA, IM, MS, EBN. RS Graha Hermine dengan 7 korban, terdiri dari: 6 korban luka berat: DSR (31), KR (24), AD (25), AM (28), DD (41), S (23). 1 korban luka ringan: CS (22). Para korban diketahui merupakan pekerja dari dua perusahaan subkontraktor, yakni PT Ro dan PT PTM, yang saat kejadian tengah melakukan pekerjaan pengelasan dan perawatan tangki kapal. Kapolresta Barelang Kombes Pol Zaenal Arifin mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan di lokasi kejadian. “Anggota masih melakukan penyelidikan di lapangan, dan kita masih fokus ke korban yang terluka,” ujar Zaenal, Rabu (15/10). Tragedi yang Pernah Terjadi Peristiwa ini bukan yang pertama kali terjadi di galangan kapal tersebut. Pada Selasa, 24 Juni 2025, kapal FSO Federal II juga sempat terbakar di lokasi galangan yang sama. Insiden itu menewaskan 4 orang, menyebabkan 4 lainnya luka bakar berat, dan 1 orang mengalami luka ringan. Baca beritanya di BatamNow.com #batam #batamnow #fyp #batamtiktok #beritabatam ♬ News, news, seriousness, tension(1077866) – Lyrebirds music
Lewat Dua Bulan, Polisi Akan Gelar Perkara
Pada peristiwa pertama terjadi ledakan di kapal MT Federal II itu, polisi menetapkan Ali Suhadak dan Predy Hasudungan sebagai tersangka.
Keduanya adalah petugas yang bertanggung jawab di bagian Health, Safety, and Environment (HSE) subkontraktor PT ASL Marine Shipyard.
Mereka diduga melanggar Pasal 359 dan Pasal 360 KUHP tentang kelalaian yang mengakibatkan orang meninggal dunia dan luka-luka.
Kemudian untuk kasus ledakan kedua, menurut Anggoro, dalam minggu ini Polresta Barelang akan melakukan gelar perkara dengan Polda Kepri untuk menetapkan tersangka.
“ASL insya Allah dalam minggu ini kita akan melakukan gelar perkara dengan Polda untuk kita lakukan penetapan tersangka,” jelasnya.
Sorotan dari Berbagai Kalangan
Pada peristiwa kedua, BatamNow.com mewawancarai akademisi hukum yang juga eks Anggota Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Kepri periode 2023–2025, Parningotan Malau.
Ia menyebut kecelakaan di lokasi kerja ini sebagai bukti lemahnya penerapan standar keselamatan di industri perkapalan Batam.
“Ini tragedi yang sangat mengerikan di bidang keselamatan kerja buruh. Masyarakat pun sudah tahu bahwa tingkat kecelakaan kerja di Batam cukup tinggi,” ujar Parningotan, yang juga dosen Pascasarjana, kepada BatamNow.com, Rabu (15/10/2025).
Menurutnya, akar persoalan utama tragedi ini adalah rendahnya kesadaran perusahaan terhadap penerapan prinsip K3.
Selain Parningotan, sorotan datang dari Ketua Dewan Pimpinan Cabang Indonesia Shipping Agencies Association (ISAA) Batam, Erdi MH.
Erdi menegaskan bahwa PT ASL Shipyard harus diberikan sanksi tegas, bahkan hingga penghentian sementara aktivitas perusahaan, serta dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh jajaran perusahaan. (A/H)

