BatamNow.com – Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, mengungkapkan bahwa aliran modal yang masuk ke kawasan Asia Tenggara pada 2024 mencapai US$ 240 miliar atau sekitar Rp 4.032 triliun (dengan kurs Rp 16.800).
Sementara itu, Vietnam memperoleh porsi yang cukup besar, yakni US$ 156 miliar atau Rp 2.620 triliun. Indonesia hanya mendapatkan US$ 39 miliar atau Rp 655 triliun. (Sumber: berbagai media)
Batam, yang merupakan kawasan Free Trade Zone (FTZ), hanya berhasil menarik Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 4,5 triliun pada triwulan ketiga tahun 2024, serta Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 2,4 triliun. Totalnya Rp 6,9 triliun.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Batam, Reza Khadafi, tidak merespons konfirmasi BatamNow.com untuk memberikan klarifikasi terkait angka tersebut.
Vietnam dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi pilihan utama bagi investor asing untuk menanamkan modal mereka.
Hal ini didorong oleh berbagai faktor pendukung kelancaran dan keamanan investasi di negara tersebut. Sementara di Indonesia, selain masalah birokrasi, isu premanisme juga menjadi hambatan yang mengganggu arus investasi.
Di Batam, aturan yang tumpang tindih juga mempersulit investor untuk masuk. Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, mengungkapkan hal tersebut baru-baru ini.

Berinvestasi di Indonesia: Ngeri-ngeri Sedap
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, secara terbuka mengungkapkan tantangan berinvestasi di Indonesia. Ia menggambarkan situasi investasi di Indonesia sebagai “ngeri-ngeri sedap,” merujuk pada kesulitan perizinan dan tumpukan regulasi yang berlaku.
“Investasi di Indonesia itu ngeri-ngeri sedap. Kenapa? Karena investor melihat Indonesia itu terkenal sulit untuk berinvestasi, regulasinya banyak, izinnya berlarut-larut. Image ini membuat investor merasa ngeri untuk masuk, apalagi dengan ketidakpastian hukum dan kesulitan lainnya,” ungkap Shinta Kamdani dalam acara Indonesia Investment Talk Series di Jakarta, Rabu (30/04/2025).
Sri Mulyani: Stabilitas Ekonomi Indonesia Aman
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Hal ini menjadi pertimbangan penting bagi investor untuk menempatkan dananya di Indonesia.
Sri Mulyani menjelaskan bahwa di tengah ketidakpastian global, investor mencari tempat yang dianggap aman untuk berinvestasi. Indonesia dianggap sebagai salah satu tujuan yang menjanjikan karena pengelolaan ekonomi yang stabil serta makroekonomi yang terjaga.
“Di tengah ketidakpastian dan dinamika global, investor seluruh dunia mencari tempat yang dianggap pasti dan aman. Untuk saat ini, Indonesia dengan pengelolaan ekonomi dan APBN yang stabil merupakan salah satu pilihan yang aman,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa di kantornya, Jakarta, Rabu (30/04/2025). (Red)

