Novel Baswedan Orang Gerindra?
:batamnow:-SULIT menepis gejolak yang terjadi di internal KPK.
Eksesnya bisa jadi merusak tatanan di KPK itu sendiri.
Kondisi ini bila tak diperbaiki, bisa menghambat kelancaran kinerja KPK dalam memberantas kasus korupsi di negeri ini.
Rencana OTT sering bocor. Itu satu bukti bahwa komisi antirasuah itu sedang digoyang masalah internal. Terlebih dalam setahun ini.
Sebagai contoh, peristiwa Februari lalu. Dua pegawai KPK dianiaya di salah satu ruang rapat Hotel Borobudur di Jakarta.
Disana ada rapat koordinasi di hotel berbintang yang dilaksanakan Pemerintahan Daerah Papua.
Membahas hasil review Kemendagri terhadap RAPBD daerahnya untuk tahun anggaran 2019.
Pembahasan antara pihak Pemerintah Provinsi dan DPRD. Peristiwa, Minggu (3/2/2019).
Di tengah rapat kordinasi berjalan, dua pegawai KPK yang tengah melakukan survei lokasi, terkuntit oleh para peserta rapat.
Operasi “pengintaian” tampaknya sudah bocor duluan.
Tak pelak, dua pegawai antirasuah itu mendapat perlawanan dari beberapa peserta rapat.
Malang tak dapat dielak, kedua pegawai itu spontan dibogem beberapa peserta pengamanan rapat. Barang-barang mereka pun sampai digeledah. Kasus hukumnya, kini, sedang berproses.
Tidak hanya kejadian di Hotel Borobudur. Berbagai kebocoran rencana OTT disebut sering terjadi, begitu isi petisi itu. Meski tak disebut kebocoran atas kasus kasus korupsi mana saja lagi.
Gejolak di KPK lebih diperparah masih berlarut-larutnya kasus yang menimpa diri penyidik kawakan KPK Novel Baswedan.
Baswedan yang diteror oleh orang tak di kenal dua tahun lalu. Wajah dan kelopak matanya terpaksa cacat seumur hidup. Hingga, kini, kasus penganiayaan berat ini masih misteri.
Gesekan di lingkungan penyidik KPK bukan lagi sekadar pada “persaingan” tugas pokok mereka.
Tapi sudah merembet ke dugaan sebagian penyidik masuk ke ranah politik praktis.
Tudingan itu, datang dari Gerakan Masyarakat Peduli KPK (GMPK).
Dalam aksi unjuk rasanya di halaman Gedung Merah Putih KPK, Kamis (4/4/2019) mereka menyinggung ramainya isu yang menyebut penyidik KPK Novel Baswedan sebagai “orang
kita” Gerindra.
“Kami mendesak KPK netral di Pilpres 2019 agar independensi lembaga tetap terjaga,” begitu desakan mereka.
Isu Novel “orang kita” Gerindra tidak boleh dipandang sebelah mata. Ini harus diusut secara tuntas,” ungkap Koordinator aksi GMPK, Ifan J dalam orasinya sebagaimana diberitakan rmol.com
“Novel mau pilih jadi politikus atau penyidik. Lebih baik gentle jangan berstandar ganda,” sebutnya lagi.
Dalam orasinya, Ifan mengatakan isu itu muncul setelah Jubir BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade memberi bocoran kepada wartawan bahwa jika Prabowo menang di Pilpres 2019, Novel Baswedan atau Bambang Widjojanto akan menjadi Jaksa Agung.
Kepada wartawan, Anggota Dewan Pengarah BPN Prabowo-Sandi, Fadli Zon juga membenarkan, Novel sudah lama dekat dengan Prabowo.
Begitu juga dengan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Pouyono yang mengatakan Novel adalah “orang kita”, Partai Gerindra.
Meskipun KPK membantahnya, Ifan memastikan publik tanah air sudah menyakini jika lembaga antirasuah sudah diperalat pihak tertentu untuk mengkriminalisasi lawan politiknya.
“Ini sangat berbahaya sekali jika KPK bermain standar ganda yang diperalat pihak tertentu untuk menghabisi lawan-lawan politiknya.
Bapak Agus Rahardjo (Ketua KPK) harus memberikan teguran kepada Novel, jika terbukti maka sudah sepantasnya Novel dikeluarkan dari KPK,” tegas Ifan.
“Apalagi sudah diiming-imingi jabatan, sudah bermuatan politis sekali,” jelas Ifan menambahkan.
Di sela-sela aksi, massa yang mengenakan topeng Novel membentangkan spanduk bertuliskan “Selamatkan KPK, KPK Harus Netral di Pilpres 2019, Waspadai Konspirasi Jahat
Parpol Tunggangi KPK!”.
Mereka juga menyerahkan surat cinta untuk Agus Rahardjo Cs agar bersikap netral di Pemilu.
Penyidik senior KPK, Novel Baswedan sebelumnya membantah kabar tersebut. Dia menyebutkan kabar dirinya orang Gerindra merupakan isu yang menyesatkan.(rmol/Red-1)