BatamNow.com – Akademisi sekaligus Analis Batam Labor and Public Policy (Balapi), Rikson Pandapotan Tampubolon, mendukung agar persoalan pelayanan air minum perpipaan di Batam yang berlarut-larut disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Rikson, persoalan yang berada di bawah pengelolaan Badan Usaha Sistem Penyediaan Air Minum (BU SPAM) BP Batam itu membutuhkan perhatian serius pemerintah pusat karena gangguan pelayanan terus berulang, sementara sebagian warga masih kesulitan memperoleh air minum melalui jaringan perpipaan.
“Sudah seharusnya, bahkan seharusnya sejak lama. Apalagi kita tahu atensi besar Presiden tentang Kota Batam ini,” kata Rikson kepada BatamNow.com, Jumat (16/10/2026).
Ia menilai, krisis air minum di Batam tidak semata-mata merupakan persoalan teknis distribusi, tetapi juga menyangkut tata kelola dan perencanaan infrastruktur dasar di tengah pesatnya pembangunan serta masuknya investasi berskala besar.
“Persoalan air di Batam bukan sekadar teknis. Ini persoalan tata kelola yang sistemik dan sudah berulang setiap tahun,” ujarnya.
@batamnow Gelombang demonstrasi krisis air di Batam masih berlanjut. Hari ini, Kamis (15/10/2026), giliran warga Tembesi yang berunjuk rasa. Amatan BatamNow.com di Perumahan Gesya Talenta, Tembesi, sekitar seratus warga kukuh akan menggeruduk Kantor Pelayanan Pelanggan (KPP) PT Air Batam Hilir (ABHi), di tepi Jalan Letjend Suprapto, Kecamatan Batu Aji. “Sudah dua bulan mati di Gesya. Tapi seperti di rumah kami dua minggu total tak menetes satu tetes pun. Sementara di perumahan yang ada pemerintahan lancar 24 jam,” ujar seorang warga, Kamis (15/10) pagi. “Kenapa perumahan kami Green Laguna, Winner, Gesya, kenapa nggak hidup. Apa masalahnya. Pak Amsakar tidak ada datang melihat perumahan kami. Janjinya Ibu Li Claudia itu hidup air, mana dia nggak datang,” kata warga lainnya. Sementara kiriman truk tangki air, ujar warga, tidak mencukupi kebutuhan mereka. Pantauan BatamNow.com, rombongan warga Tembesi tiba di kantor ABHi sekira pukul 10.30 WIB. Sehari sebelumnya, Rabu (14/10), unjuk rasa serupa juga dilakukan warga Teluk Mata Ikan di depan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa. Pelanggan SPAM BP Batam itu menduga krisis air yang dialami belakangan ini tak lepas dari adanya proyek beberapa pusat data (data center) di kecamatan tersebut. Sementara pada Senin (05/10), adalah warga Kavling Sambau dan Bakau Serip yang berdemonstrasi di depan KEK Nongsa. Tuntutannya juga sama, agar air minum jaringan perpipaan mengalir. Catatan BatamNow.com, unjuk rasa memprotes krisis air bukan peristiwa satu-dua kali, sebab masalah layanan air minum masih belum dapat dituntaskan hingga kini. Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com
Unjuk Rasa Warga Beruntun
Desakan agar persoalan air mendapat perhatian serius menguat setelah warga di sejumlah kawasan Batam menggelar unjuk rasa dalam beberapa hari terakhir.
Pada Senin (05/10/2026), sekitar 300 warga Kavling Bakau Serip, Nongsa, mendatangi gerbang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park (NDP) untuk memprotes terhentinya pasokan air minum perpipaan yang mereka sebut telah berlangsung berbulan-bulan.
@batamnow Ratusan warga Kampung Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, menggelar aksi spontan di depan gerbang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa, Senin (05/10/2026). Mereka memprotes krisis air yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Pantauan BatamNow.com di lokasi, unjuk rasa hari ini didominasi emak-emak. Warga berkumpul di depan gerbang akses KEK Nongsa yang menjadi lokasi sejumlah perusahaan data center di Batam. Perwakilan warga, Dewi, mengatakan aksi tersebut dilakukan karena warga tak kunjung mendapatkan solusi atas persoalan distribusi air minum jaringan perpipaan yang mereka alami. “Kami sudah bertemu perwakilan SPAM, tidak ada respons. Kami sudah bertemu orang data center, tidak ada respons. Makanya kami hari ini baru turun. Kalau hari ini air tidak mengalir, kami tidak akan pulang,” kata Dewi. Menurut warga, sekitar 300 kepala keluarga (KK) yang tersebar di tiga RT terdampak krisis air dari jaringan perpipaan. Kondisi tersebut membuat warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air. Bahkan, uang yang seharusnya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok terpaksa dialihkan untuk membeli drum sebagai tempat penampungan air. “Saya sudah tiga kali beli air tangki. Satu tangki itu Rp125 ribu, dipakai cuma satu hari saja,” ujar seorang emak-emak lainnya. Warga juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan air tangki dari pihak penyedia. Mereka mengaku harus berebut dengan warga lainnya ketika air tangki datang. “Kalau nunggu ABH, kita kelahi dulu sama warga, berebut air. Berantem warga kami. Jangan sampai gara-gara air, kami terpecah belah,” keluh warga. Warga Pertanyakan Pasokan Air ke Data Center Warga juga mempertanyakan kondisi pasokan air di kawasan industri dan perusahaan data center yang berada di sekitar permukiman mereka. Mereka mengaku tidak percaya dengan publikasi BP Batam yang menyebut aktivitas data center yang membutuhkan suplai air besar untuk sistem pendingin tidak memiliki kaitan dengan krisis air yang terjadi di Nongsa. Menurut warga, tidak pernah terdengar adanya perusahaan atau industri di kawasan tersebut yang mengalami persoalan pasokan air seperti yang dialami masyarakat. “Tidak ada, hanya warga yang dirugikan. Perusahaan hidup semua kok. Buktinya tadi saya numpang kencing, airnya hidup deras,” ujarnya. Warga menilai kondisi tersebut berbanding terbalik dengan situasi yang mereka alami. Dewi menjelaskan, sudah sekitar tiga bulan tidak mendapatkan aliran air dari jaringan perpipaan. “Tiga bulan tidak pernah menetes. Kami datang ke sini hanya mau air kami mengalir. Kami tidak ingin anarkis,” tegasnya. Hingga pukul 10.09 WIB, warga Sambau masih bertahan di depan gerbang akses KEK Nongsa. Mereka menuntut adanya kepastian terkait distribusi air minum melalui jaringan perpipaan ke permukiman warga. Warga kukuh menegaskan, tak ada lagi negosiasi, air harus menyala hari ini. Aksi tersebut dilakukan warga sebagai bentuk protes atas krisis air yang dinilai telah berlangsung terlalu lama dan membebani kehidupan sehari-hari mereka. Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com
Aksi serupa kembali berlangsung pada Rabu (14/10/2026), ketika warga Teluk Mata Ikan dan sekitarnya menuntut pemulihan pasokan air.
Sehari kemudian, warga Perumahan Gesya Talenta dan beberapa perumahan lainnya di Tembesi, juga menyuarakan keluhan atas gangguan aliran air yang menurut mereka telah berlangsung sekitar dua bulan.
@batamnow Sejumlah warga Nongsa, Batam, kembali berunjuk rasa di depan kawasan industri pusat data (data center) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa, Rabu (14/10/2026). Mereka yang tinggal di Kavling Sambau, Kavling Nongsa hingga Teluk Mata Ikan, menuntut pemulihan pasokan air minum perpipaan yang disebut telah mati total di wilayah mereka. Aksi berlangsung tertib. Warga yang didominasi kaum ibu itu mengaku sudah lama tidak mendapatkan aliran air minum ke rumah mereka. Distribusi air menggunakan mobil tangki oleh PT Air Batam Hilir (ABHi), mitra Badan Usaha Sistem Penyediaan Air Minum (BU SPAM) BP Batam, dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari warga. “Air! Air! Air!” teriak warga di tengah teriknya matahari di depan kawasan industri pusat data tersebut. “Kami butuh air, bukan janji-janji,” teriak warga lainnya. Mereka juga mengungkapkan kekecewaan atas kondisi pelayanan kebutuhan dasar di Batam yang dinilai semakin memprihatinkan. “Sampai kapan penderitaan kami ini? Kenapa Batam sekarang cukup parah? Listrik mati, air bermasalah, asap lagi,” keluh sejumlah warga. Di tengah pesatnya pengembangan industri pusat data di Nongsa, warga justru mengaku kesulitan mendapatkan air minum untuk kebutuhan rumah tangga. Warga menyebut sejak pembangunan data center, kondisi ketersedian air di Nongsa turun drastis dan disteibusinya bermasalah. “Gimana kita nggak lari ke sini. Semenjak pembangunan inilah air kami ini macet. Macet total air kami,” kata seorang wanita yang hadir dalam aksi tersebut. Kondisi ini memunculkan tuntutan agar pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat tidak terabaikan di tengah pembangunan kawasan industri. Sejumlah aparat berada di lokasi untuk memantau jalannya aksi. Hingga berita ini ditayangkan, warga masih bertahan di lokasi untuk menyuarakan tuntutan mereka agar pasokan air minum perpipaan segera dipulihkan. Sebelumnya, ratusan warga Sambau, Kecamatan Nongsa, juga telah menggelar aksi unjuk rasa di depan gerbang KEK Nongsa, pada Senin (05/10/2026). Mereka memprotes krisis air yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com
Sejumlah warga meminta agar persoalan pelayanan air minum disampaikan kepada Presiden Prabowo.
Mereka berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan SPAM BP Batam, termasuk kinerja badan usaha dan mitra pengelolanya, PT Air Batam Hulu (ABHu) dan PT Air Batam Hilir (ABHi).
Warga juga menyoroti respons pemerintah terhadap blackout listrik Batam dan Bintan pada 12–13 Oktober 2026. Setelah peristiwa tersebut, muncul langkah perubahan pengelolaan dan rencana penyegaran manajemen PLN Batam di bawah Danantara Indonesia.
Mereka berharap persoalan air minum memperoleh perhatian dan evaluasi serupa karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
Terbaru, hari ini, Jumat (16/10), ratusan warga Perumahan Azure Gardenia di Sagulung juga melakukan unjuk rasa menyuarakan krisis air di sana.
Blackout Jadi Momentum Evaluasi
Rikson menilai blackout seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi kesiapan infrastruktur dasar Batam secara menyeluruh, tidak hanya kelistrikan.
Menurutnya, gangguan listrik juga berdampak pada pelayanan air minum dan telekomunikasi, yang menunjukkan keterkaitan antarinfrastruktur penting bagi masyarakat dan kegiatan ekonomi.
“Kalau kita hanya fokus pada listrik, kita mengobati gejalanya, bukan penyakitnya,” kata Rikson.
Ia mengingatkan, Batam dipromosikan sebagai pusat industri, perdagangan, dan investasi, tetapi sebagian warganya masih harus mengandalkan air tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Rikson juga menyoroti ketergantungan sumber air baku Batam pada waduk tadah hujan serta meningkatnya kebutuhan air seiring pertumbuhan kawasan industri dan proyek pusat data (data center).
Ia mendorong agar pemerintah memastikan ketersediaan air baku dan menghitung kebutuhan investasi secara transparan agar pertumbuhan ekonomi tidak memperbesar tekanan terhadap pelayanan air minum masyarakat.
Menurutnya, pengembangan sumber air alternatif, termasuk desalinasi air laut melalui teknologi Seawater Reverse Osmosis (SWRO), penting untuk jangka panjang.
Namun, langkah itu tidak boleh menunda penanganan gangguan pelayanan yang sudah dirasakan warga.
Presiden Perlu Melihat Batam Sebagai Cermin
Rikson menegaskan, pemerintah perlu menempatkan pemenuhan kebutuhan air minum masyarakat sebagai prioritas, disertai evaluasi tata kelola, kepastian pasokan, serta perencanaan infrastruktur yang berkelanjutan.
“Presiden perlu melihat Batam sebagai cermin. Kota industri yang dipromosikan ke dunia, tetapi warganya masih antre air tangki. Ini ironi,” ujarnya.
Pendapat yang sama juga datang dari Panahatan SH sebagai Ketua DPP Kepri LI-Tipikor dan Hukum Kinerja Aparatur Negara.
Menurut Panahatan, permasalahan air minum, listrik perlu mendapat perhatian dari Presiden Prabowo karena kawasan ini salah satu lokomotif perekonomian nasional.
“Penanganan ketersediaan serta keamanan energi yang kuat mesti prioritas untuk menjaga kepercayaan investor,” katanya. (A/Red)

