IBARAT main rubik. Dua tangan dengan sepuluh jemari aktif memutar alat permainan kubus asah otak empat persegi dengan 54 kotak-kotak yang bisa diputar-putar pada porosnya itu.
Begitu ilustrasi keberadaan FTZ Batam, Bintan, Tanjungpinang dan Karimun sekarang.
Sebentar diutak-atik. Ganti konsep dari KPBPBB (Kawasan Persagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam ) ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Belum tuntas wujud FTZ bertransformasi ke KEK, muncul lagi konsep baru dari Kementerian Perekonoman(Kemenko) dengan “FTZ yang diintegrasikan”.
Empat Kawasan FTZ di Provinsi Kepri ini hendak dilebur. Begitu dari dulu, peraturan dan konsep yang gonta-ganti. Membingungkan investor.
Baru saja dikotomi Pemko Batam dengan BP Batam dipadukan Jokowi dengan satu “komando”.
Ini maksudnya agar FTZ Batam bisa fokus melayani investor secara prima.
Baru tiga bulan Kepala BP Batam Muhammad Rudi bekerja, isu integrasi atau peleburan FTZ ini pun tiba-tiba menyeruak.
Dengan konsep integrasi ini, struktur organisasinya pun diwacanakan di bawah Dewan Kawasan Nasional di komandoi Gubernur sebagai Ketua Dewan Kawasan lokal.
Di tengah isu itu , nimbrung lagi ide FTZ Kepri menyeluruh. Apa lagi ini?
Isu-isu terkini tentu dapat mengusik konsentrasi BP Batam dalam rangka pembenahan menyeluruh di BP Batam yang menumpuk masalah.
Ambil saja contoh soal stagnannya izin pasokan impor barang penunjang industri, banyaknya persoalan lahan.
Juga soal rantai pasok (supply chain) yang sejak lama belum diberesin.
Belum BP Batam baru bicara akan membenahi pelabuhan. Singapura saja sudah tak fokus lagi pelabuhan kargo, bisa saja karena dilumat isu Terusan Kra Thailand.
Semuanya sudah terlambat, eh, malah ngeracau nak mengintegrasikan empat kawasan FTZ sekaligus.
Banyak soal di depan mata tak terselesaikan, malam mengimpor masalah lagi. Selera dan mainan siapa sebenarnya ini?
Mau dibawa ke mana sebenarnya Batam? Sejak 46 Tahun lalu keberadan FTZ Batam seakan dibuat mainan rubik. Kadang ditarik-tarik ke ranah politik. Diputar-putar ibarat mengasah otak saja.
Sengkarut FTZ Batam yang tak berujung dan seakan tak ada ujungnya.
Baca ulasan dan laporannya pada edisi selanjutnya.

