Maraknya Sambungan Air Ilegal, Sistem Deteksi Dini SPAM BP Batam Dipertanyakan - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Maraknya Sambungan Air Ilegal, Sistem Deteksi Dini SPAM BP Batam Dipertanyakan

by BATAM NOW
04/Apr/2026 12:00
Maraknya Sambungan Air Ilegal, Sistem Deteksi Dini SPAM BP Batam Dipertanyakan
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Klaim BP Batam terkait maraknya sambungan air ilegal (illegal connection) di jaringan pipa air minum terpantau memicu tanda tanya besar di tengah publik.

Praktik sambungan ilegal tersebut diduga telah berlangsung cukup lama.

Namun hingga kini, belum ada penjelasan rinci dari BP Batam mengenai jumlah, sebaran lokasi, maupun tindakan yang telah dilakukan terhadap para pelaku.

Temuan ini mencuat bersamaan dengan menurunnya volume air baku di sejumlah waduk akibat kemarau berkepanjangan, dan di saat pelayanan distribusi air perpipaan masih dikeluhkan pelanggan.

“Klaim pengungkapan ini mengejutkan, karena baru muncul saat volume air di beberapa waduk turun hingga sekitar 2,5 meter,” kata Nujirman.

Sistem Pengawasan Dipertanyakan

Pantauan di tengah masyarakat menunjukkan banyak pihak mempertanyakan lemahnya deteksi dini terhadap praktik ilegal tersebut.

Sejak pengambilalihan pengelolaan SPAM pada 2020 dari PT Adhya Tirta Batam (ATB), BP Batam pernah menyampaikan telah menerapkan sistem pengendalian berbasis teknologi.

Sistem tersebut mirip dengan SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition) dan District Meter Area (DMA), yang memungkinkan pemantauan jaringan secara real-time.

Monitor SPARTA Smart Solution milik PT Adhya Tirta Batam. (F: BatamNow)

Menurut mantan Presiden Direktur ATB, Benny Andrianto, SCADA merupakan sistem pengawasan, pengendalian, dan pengumpulan data operasional secara real-time

Sementara DMA adalah pembagian jaringan ke dalam zona-zona terukur untuk memudahkan pengendalian distribusi.

Selain itu, teknologi lain yang diperlukan seperti Geographic Information System (GIS) dan smart meter juga disebut menjadi bagian dari sistem pengawasan.

Namun, efektivitas sistem tersebut kini dipertanyakan. Jika berjalan optimal, praktik sambungan ilegal seharusnya dapat terdeteksi lebih awal, bukan setelah menebar luas.

Ketua DPP Kepri LI-Tipikor dan Hukum Kinerja Aparatur Negara, Panahatan SH justru mempertanyakan profesionalitas BP Batam dalam mendeteksi dini pemasangan sambungan ilegal.

Ia menilai, jika sistem kontrol berjalan baik, tingkat kebocoran air tidak akan mencapai angka tinggi.

“Angka kebocoran tidak semestinya berada di kisaran 19 hingga 24 persen kalau pengawasan dini benar dilakukan,” ujarnya.

Sementara berdasarkan LHP BPK atas laporan keuangan BP Batam Tahun 2022, dijelaskan bahwa perjanjian kerja sama menetapkan standar tingkat kehilangan air di angka 15 persen.

Baca Juga:  Dapat Janji Lagi, Warga Perumahan Putra Jaya Tanjung Uncang Urung Demo Hari Ini

Dibandingkan Era ATB

Kondisi ini memicu perbandingan dengan era Adhya Tirta Batam (ATB) yang telah lebih dahulu mengoperasikan SCADA sebagai tulang punggung pengendalian distribusi.

Publik mempertanyakan apakah sistem yang digunakan saat ini setara, atau justru mengalami penurunan efektivitas serta tidak dijalankan sesuai prosedur operasional standar (SOP).

BP Batam sendiri mengakui sambungan ilegal berdampak pada meningkatnya tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW).

Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menyebut NRW sempat meningkat dari 13 persen menjadi 24 persen, dan kini ditekan menjadi sekitar 19 persen.

Namun, belum dijelaskan apakah penurunan tersebut merupakan hasil penindakan sambungan ilegal atau faktor lain. Data jumlah sambungan ilegal dan estimasi volume air yang hilang juga belum diungkap.

Transparansi Dipersoalkan

Minimnya data terkait jumlah dan lokasi sambungan ilegal yang diungkap memicu kritik terhadap transparansi pengelolaan SPAM.

Sejumlah pertanyaan dari publik mengemuka:

Berapa jumlah pasti sambungan ilegal?

Di wilayah mana praktik tersebut terjadi?

Mengapa baru terungkap setelah pengelolaan beralih ke BP Batam sejak 2020?

Hingga kini, BP Batam belum menjelaskan secara rinci langkah penindakan terhadap pelaku.

Efektivitas Teknologi Dipertaruhkan

Penggunaan sistem teknologi modern dalam pengelolaan SPAM BP Batam, kini dalam sorotan.

Seperti SCADA dan DMA seharusnya menjadi instrumen utama dalam mendeteksi kebocoran dan penyimpangan jaringan.

“Jika sambungan ilegal tidak terdeteksi dalam skala luas, maka yang dipertanyakan bukan hanya pelanggaran di lapangan, tetapi juga efektivitas sistem kontrol,” ujar Panahatan.

Ia katakan di tengah meningkatnya kebutuhan air dengan dinamika permasalahan pelayanannya serta menyusutnya cadangan waduk, akuntabilitas pengelolaan SPAM oleh BP Batam menjadi perhatian publik.

“Masyarakat kini menunggu penjelasan yang konkret dan komprehensif terkait penanganan sambungan ilegal yang disebut semakin marak,” ujarnya.

BatqmNow.com mengirimkan konfirmasi kepada Direktur Utama PT ABH, Yuni Supriyanto; Humas PT Air Batam Hilir (ABHi), Ginda Alamsyah; Kabiro Umum BP Batam, Muhamad Taofan; dan Direktur Badan Usaha Sistem Pengelolaan Air Minum, Fasilitas, dan Lingkungan BP Batam, Iyus Rusmana.

Namun keempatnya tak merespons. (A/Red)

Berita Sebelumnya

Kepala Imigrasi Batam dan Empat Pejabat Dipindah Tugas Jalani Pemeriksaan Internal Selama Tiga Bulan

Berita Selanjutnya

PT ABHi Akui Water Meter Tak Sesuai Picu Kehilangan Air, BPK Temukan 49 Ribu Unit Bermasalah

Berita Selanjutnya
Emak-emak Tanjung Sengkuang Kutuk PT ABH: Kami Minta Truk Air Tapi Tak Dikirim

PT ABHi Akui Water Meter Tak Sesuai Picu Kehilangan Air, BPK Temukan 49 Ribu Unit Bermasalah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2026 BatamNow.com