Pakar: Banyak Pasien Covid-19 Merasa OTG, Saat Rontgen Ternyata Ada Pneumonia - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Pakar: Banyak Pasien Covid-19 Merasa OTG, Saat Rontgen Ternyata Ada Pneumonia

22/Jul/2021 13:56
Penyebaran Virus Corona di Dunia Capai 28 Juta, Indonesia 3861 Kasus, Kota Batam Bertambah 25, Total 895 Orang Positif Covid 19

Petugas membawa pasien Corona yang semakin membludak. (F: YouTube/ South China Morning Post)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com, Jakarta – Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban menyebutkan bahwa pasien Covid-19 kemungkinan memiliki pneumonia di paru-parunya, tetapi tak tertangani dengan baik karena rumah sakit sedang dalam keadaan penuh.

Dilansir Kompas.com, ini menjadi salah satu sebab di balik fenomena pemburukan pasien Covid-19 yang sedang menjalani isolasi mandiri.

Pemburukan terjadi dalam waktu singkat yang berujung kematian.

“Ternyata cukup lumayan (banyak) orang yang OTG atau gejala ringan itu kalau dirontgen ditemukan ada pneumonia. Harusnya OTG dan gejala ringan yang rontgennya ada pneumonia itu dirawat inap,” jelas Zubairi kepada Kompas.com.

“Kalau RS penuh ya harusnya dirawat di Wisma Atlet. Kalau semuanya penuh, ya minta berobat di IGD Covid-19, minta obatnya, kemudian diobati di rumah, namun dimonitor dengan IGD rumah sakit tersebut,” ungkapnya.

Masalahnya, tak sedikit orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 dari hasil tes PCR merasa dirinya baik-baik saja dan hanya mengalami gejala ringan, seperti batuk, demam, dan sedikit sesak napas.

Hal itu yang kerap menimbulkan keyakinan bahwa mereka akan aman saat menjalani isolasi mandiri.

“Ada orang yang merasa OTG, namun ketika diukur suhunya 38 derajat, (ia menjawab), ‘Iya, kemarin aku 38 derajat, tapi sekarang setelah minum parasetamol sudah turun’. Ini sebetulnya bukan OTG,” jelas Zubairi.

“Atau pasien ada batuk-batuk dengan sesak, itu bukan OTG,” lanjutnya.

Ia menyarankan agar orang yang positif Covid-19 segera menindaklanjuti hasil tes PCR-nya dengan foto rontgen thorax untuk mengetahui kemungkinan adanya pneumonia di paru-parunya.

“Semua orang yang positif PCR itu memang wajib thorax photo. Mengapa? Cukup banyak pasien yang datang ke RS rujukan dalam sesak napas,” kata dia.

“Sudah terlambat karena selama di rumah merasa OTG atau gejala ringan yamg hanya perlu isolasi mandiri,” pungkas Zubairi.

Kematian pasien yang menjalani isolasi mandiri ini menjadi fenomena baru seiring meluasnya gelombang kasus Covid-19 yang didominasi varian Delta.

Ratusan Pasien Isoman Meninggal

Seperti dikutip Kompas.id, LaporCovid-19 telah sedikitnya mencatat adanya 712 pasien isolasi mandiri yang meninggal di seluruh Indonesia.

Baca Juga:  Sudah 5 Bulan Bang Long Ditahan, Sidangnya Mandek 3 Minggu Masih Agenda Tuntutan

Data ini didapatkan dari laporan keluarga atau kerabat korban pasien isolasi mandiri yang meninggal melalui chatbot dan pemberitaan di berbagai media, termasuk media sosial, yang kemudian diverifikasi identitas dan lokasi kejadiannya.

Pendataan dilakukan sejak awal Juni, tetapi penambahan korban mayoritas terjadi pada bulan Juli.

Pasien isolasi mandiri paling banyak meninggal di Jawa Barat, yaitu 248 orang, Daerah Istimewa Yogyakarta 134 orang, Jawa Tengah 114 orang, Jawa Timur 72 orang, Banten 68 orang, dan DKI Jakarta 53 orang, sisanya di luar Jawa.

LaporCovid-19 juga mencatat ada dua tenaga kesehatan, yaitu dokter dan perawat, di Tangerang Selatan yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri.

Adapun laporan pasien isolasi mandiri yang meninggal di luar Jawa, seperti Jambi, Nusa Tenggara Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Lampung, dan Riau, baru terjadi dalam dua minggu terakhir.

Di sini rumah sakit penuh, banyak pasien juga sudah cari rumah sakit sampai Yogyakarta dan Solo, penuh semua. Sekarang sudah seperti seleksi alam, yang kuat saja yang bertahan.

Data LaporCovid-19 yang berbasis crowdsourching ini bisa dipastikan merupakan puncak gunung es.

Namun, inilah satu-satunya pendataan kematian pasien isolasi mandiri yang bisa diakses publik dalam skala nasional.

Sejauh ini, belum ada data resmi dari pemerintah daerah ataupun pusat yang melaporkan kematian pasien isolasi mandiri.

Kepala Seksi Survailans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ngabila Salama mengatakan, risiko kematian pasien yang menjalani isolasi mandiri memang sangat tinggi.

Dia menyebutkan, data pada Sabtu (03/07/2021), terdapat 369 pemakaman yang dilakukan dengan prosedur Covid-19 di DKI Jakarta.

Dari jumlah itu, ada 45 korban atau 12,1 persen dari total jenazah yang dimakamkan dengan protokol Covid-19 meninggal di rumah.

”Bahkan, pernah dalam sehari sampai 47 korban yang meninggal saat isolasi mandiri,” lanjutnya.(*)

Berita Sebelumnya

Dokter Sebut Tak Perlu Tes PCR Ulang untuk Pastikan Sembuh dari Covid-19

Berita Selanjutnya

Kenali Apa Itu Interaksi Obat pada Pasien Covid-19

Berita Selanjutnya
Dokter: Obat Ivermectin Belum Terbukti Efektif Obati Covid-19

Kenali Apa Itu Interaksi Obat pada Pasien Covid-19

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2024 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2024 BatamNow.com