Pandemi Buat Biaya Hidup di Singapura Makin Tinggi, Makin Banyak Warga Cari Bantuan - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Pandemi Buat Biaya Hidup di Singapura Makin Tinggi, Makin Banyak Warga Cari Bantuan

10/Feb/2022 07:48
Singapura Marah Disebut KPK Surga Koruptor!

Ilustrasi. Singapura (F: Rafika Aulia/ d'Traveler)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com, Jakarta – Jumlah keluarga yang mencari bantuan ekonomi telah meningkat sepanjang pandemi Covid-19 termasuk di negara kaya seperti Singapura.

Dilansir Kompas.com, salah satu pendiri Food Bank Singapore, Nichol Ng menceritakan pengalamannya mengirimkan makanan dari pintu ke pintu. Penerimanya adalah keluarga muda (dengan) suami dan istri bekerja paruh waktu atau bekerja lepas.

“Ini adalah keluarga yang terkena dampak ketika Covid melanda dan semua pekerjaan paruh waktu mengering,” katanya dilansir BBC pada Senin (31/01/2022).

Menurut Ng, sebagai dampak pandemi Covid-19, kini bukan hanya 10 persen termiskin dari populasi yang sekarang membutuhkan bantuan.

“Ini perlahan-lahan merayap ke mungkin 20 persen dari populasi (Singapura), termasuk keluarga berpenghasilan menengah yang bahkan mungkin sejak awal tidak tahu ke mana harus mencari bantuan.”

Adapun peningkatan biaya hidup di Singapura tidak hanya karena kenaikan harga pangan, tapi juga kebutuhan pelengkap tambahan selama pandemi.

“Karena Covid, kesadaran diri setiap orang untuk menjaga diri sendiri dalam hal kebersihan meningkat,” kata Ng.

Tetapi harga minyak sawit yang lebih tinggi berarti sampo, sabun tangan, dan pembersih tangan juga menjadi jauh lebih mahal.

“Hingga 20 persen dari permintaan (bantuan) kami sejauh ini dan terutama mulai dari paruh kedua tahun lalu, telah beralih ke produk kebersihan pribadi,” tambahnya.

Ng juga prihatin bahwa gelombang inflasi saat ini tampaknya tidak bersifat sementara.

“Di masa lalu, pada waktu-waktu tertentu dalam setahun, Anda mungkin melihat kenaikan harga ini, tetapi tampaknya inflasi ini akan terus berlanjut – dan tidak ada di antara kita yang benar-benar memiliki ‘bola kristal’ untuk memahami kapan itu akan berakhir,” ujarnya.

Baca Juga:  MAKI: Bangkai Kapal X-Press Pearl Milik Perusahaan di Batam

Lonjakan Biaya Hidup di Singapura

Daniel Tan, pengusaha yang memiliki enam warung nasi ayam, juga kini mulai mengeluhkan kesulitan usahanya. Sebelumnya dia menagih 2,20 dollar AS (Rp 31.673) untuk porsi kecil. Tetapi pandemi Covid-19 telah membuat biaya bahan-bahannya meningkat tajam.

Di Singapura, harga ayam naik 50 persen dan sayur naik lebih dari dua kali lipat sejak Januari 2020.

“Kami telah menahan harga untuk jangka waktu yang signifikan,” katanya kepada BBC di salah satu kios Nasi Ayam OK di utara Singapura.

“Ketika pandemi melanda, pikiran pertama kami adalah ini adalah keadaan darurat jangka pendek – enam bulan, mungkin satu tahun – jadi kami menahan (harga) selama yang kami bisa karena kami berharap semuanya akan berakhir.”

Tetapi ketika tagihan listriknya juga melonjak, Tan memutuskan sudah waktunya untuk menaikkan harga.

“Jika saya melangkah lebih jauh (menahan harga), staf saya tidak dibayar atau saya harus menutup beberapa toko dan bukan itu yang ingin kami lakukan.”

Karena penutupan perbatasan Covid-19 dan peraturan ketenagakerjaan baru, Tan menghadapi kekurangan staf dengan gaji yang lebih tinggi. Semuanya menambah biaya untuk bisnisnya.

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mengatakan harga pangan global naik 28 persen pada 2021.

“Terakhir kali harga pangan setinggi ini terjadi pada 2011, ketika pembuat kebijakan benar-benar memperingatkan tentang krisis pangan global,” kata Dr Abdul Abiad dari Asian Development Bank (ADB).

Kenaikan harga terbaru ini disebabkan oleh biaya energi yang lebih tinggi, yang mempengaruhi produksi makanan dan pupuk, dengan masalah rantai pasokan global yang memperumit masalah. (*)

Berita Sebelumnya

Inovasi Tes PCR Secepat Kilat, Hasilnya Keluar 4 Menit

Berita Selanjutnya

Mahasiswa Asing Masuk Malaysia Tetap Wajib Karantina

Berita Selanjutnya
Masih Banyak PMI dari Malaysia Masuk Batam Setiap Hari, Bagaimana Karantinanya?

Mahasiswa Asing Masuk Malaysia Tetap Wajib Karantina

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2024 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2024 BatamNow.com