BatamNow.com – Kota Batam kembali dihadapkan pada tantangan klasik: banjir.
Pada Rabu (02/07/2025) kemarin, Jalan Raja Isa terendam banjir sekitar 30 cm bahkan lebih, saat hujan mengguyur Batam.
Empat hari kemudian, Minggu (06/07), dalam siaran pers BP Batam dijelaskan bahwa penanganan banjir disebut menjadi salah satu prioritas utama Kepala BP Batam/Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam/Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra.
Sementara di sisi lain, praktik oleh oknum yang berpotensi memperburuk ancaman banjir justru masih terjadi di lapangan.
Misalnya yang diresahkan warga Perumahan Winner Mangrove, Kelurahan Patam Lestari, Kecamatan Sekupang.
Mereka gusar akibat aktivitas penimbunan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang disebut berlangsung diam-diam.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Sungai yang dahulu menurut warga memiliki lebar sekitar 30 meter, kini menyusut drastis tersisa sekitar 3 hingga 5 meter akibat aktivitas penimbunan sepanjang 200 meter dengan tinggi material mencapai 4 meter.
@batamnow Kasus penimbunan Daerah Aliran Sungai (DAS) terjadi lagi di Batam, setelah kasus yang sama di sekitar Perumahan Permata Baloi Indah yang membuat Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra turun menertibkannya. Kini warga di Perumahan Winner Mangrove, Kelurahan Patam Lestari, Kecamatan Sekupang, Batam yang resah dan dibayang-bayangi ancaman banjir menggenangi pemukiman mereka karena terjadi penimbunan DAS yang diduga ilegal. Menurut warga di sana, sungai yang sebelumnya memiliki lebar sekitar 30 meter, kini menyempit drastis hanya menyisakan aliran selebar 3 hingga 5 meter. Penimbunan sepanjang sekitar 200 meter dengan ketinggian sekitar 3 sampai 4 meter yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir ini berada tepat di seberang jalan kawasan Kavling Siap Bangun (KSB) Tiban. Aktivitas tersebut diduga ilegal dan dilakukan secara diam-diam pada malam hari, untuk menghindari sorotan warga sekitar. Menurut pengakuan warga, bahwa Lurah Patam Lestari, Iqbal sudah pernah turun langsung ke lokasi pada Senin, 26 Juni 2025, untuk menanyakan perizinan soal penimbunan itu. Saat itu, sempat terjadi penghentian aktivitas penimbunan, namun tak berlangsung lama. Kini terjadi lagi, namun masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Yang lebih mengkhawatirkan, kata warga, penimbunan dilakukan bukan dengan material tanah murni, melainkan menggunakan sampah puing-puing bangunan. Selain merusak lingkungan, ujar mereka, dikhawatirkan mengancam keberadaan pohon bakau (mangrove) yang tumbuh alami di sepanjang aliran sungai tersebut. Salah seorang warga RT 001/RW 007, Hazhari, mengungkapkan bahwa warga telah mencoba menghentikan langsung aktivitas tersebut di lapangan. Namun upaya tersebut seperti tak diindahkan. “Kami warga di sini sudah pernah melarang para pekerja yang membuang timbunan di sini agar jangan dilanjut dulu sebelum ada kejelasan. Tapi hingga kini masih berlanjut dengan cara sembunyi-sembunyi, kadang mereka kerjanya malam hari,” ujar Hazhari saat ditemui di Perumahan Winner Mangrove, Sabtu (05/07/2025). Baca Beritanya di BatamNow.com #batamnow #batamtiktokcommunity #batamhits #batamnews #batamisland #batamsirkel #kotabatam #batampunyacerita #semuatentangbatam #galang #rempang #barelang #fyp #fypシ #fypシ゚viral ♬ News, news, seriousness, tension(1077866) – Lyrebirds music
Warga mempertanyakan penimbunan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi pada malam hari. Material yang digunakan pun bukan tanah murni, melainkan sampah dan puing-puing bangunan.
Kondisi ini menimbulkan potensi bencana ekologis sekaligus mencederai hukum lingkungan.
Warga setempat bahkan menyebut penimbunan sudah berlangsung selama dua tahun terakhir di kawasan seberang jalan Kavling Siap Bangun (KSB) Tiban.
Kekhawatiran warga kian membuncah mengingat kawasan tersebut merupakan habitat pohon bakau (mangrove) alami yang kini terancam musnah.
Iqbal, Lurah Patam Lestari, dikabarkan pernah turun langsung ke lokasi pada 26 Juni 2025 dan menanyakan kelengkapan izin. Setelahnya penimbunan sempat berhenti, tapi lanjut lagi secara diam-diam.
“Kami warga sudah coba hentikan langsung, tapi tidak digubris. Malah makin menjadi,” kata Hazhari, warga RT 001/RW 007.
Pemko-BP Batam Bentuk Task Force Atasi Banjir
Untuk mengatasi banjir, Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam membentuk tim khusus (task force) yang ditugaskan menyisir dan menganalisis titik-titik rawan banjir di sembilan kecamatan di wilayah utama (mainland) kota ini.
Tim BP Batam bahkan telah melakukan peninjauan intensif selama 18 hari di seluruh wilayah sasaran. Mouris Limanto, Anggota/Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, turun langsung memimpin rangkaian inspeksi tersebut untuk memetakan akar masalah banjir secara menyeluruh.
“Sudah kita identifikasi dan terindikasi penyebab utamanya. Dengan tinjauan itu, kita bisa rumuskan pengobatannya,” ujar Mouris dalam rilis resmi BP Batam Nomor: 21/SP-A1.1/7/2025, Senin (07/07/2025).
Ia menjelaskan, sejumlah faktor dominan penyebab banjir antara lain topografi cekungan yang membuat air tergenang, dimensi drainase yang tak memadai, penyumbatan oleh sampah, saluran air yang terputus, hingga maraknya bangunan didirikan di atas Garis Sempadan Sungai (GSS).
Langkah solutif yang tengah dirancang meliputi pembangunan sistem drainase baru serta kolam retensi multifungsi untuk mengatur volume air saat intensitas hujan tinggi.
Amsakar: Laut Jangan Ditimbun, Bukit Jangan Dipotong
Sebelumnya, pesan tegas disampaikan langsung oleh Amsakar Achmad saat membuka Rei Expo Batam 2025 di Grand Batam Mall, Kamis (29/05/2025).
Didampingi Anggota/Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, Amsakar mengingatkan kalangan pengusaha properti untuk disiplin terhadap aturan lingkungan, khususnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
“Saya minta kerja sama teman-teman REI. Laut jangan ditimbun. Bukit jangan dipotong. Ikuti aturan AMDAL yang ada. Kita bersama komit memajukan industri properti juga menjaga keberpihakan pada lingkungan,” ujarnya lantang.

