BatamNow.com – Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) sebelumnya pernah menyatakan bahwa Batam menjadi titik awal (starting point) penyelundupan di Indonesia.
Penyalahgunaan status Free Trade Zone (FTZ) Batam menjadi modus bagi penyeludup.
Hingga kini berbagai jenis barang impor selundupan transit Batam masih marak, mulai dari rokok, tekstil, hingga kendaraan bermotor mewah.
Kasus terbaru mengungkap adanya 12 kontainer berisi barang mewah yang menjadi atensi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Sebanyak 12 kontainer barang dari Free Trade Zone (FTZ) Batam itu berhasil diamankan, sementara 5 kontainer sempat lolos dari depo penimbunan.
Para pelaku diduga memanipulasi dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB) dan Pemberitahuan Pabean FTZ Batam.
Rencana penyelundupan ini terbongkar berkat laporan intelijen kepabeanan pada akhir September 2025. (Dikutip dari Tempo)
Purbaya Tegas: Yang Main Selundup, Saya Tangkap
Sementara Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa kepada sejumlah wartawan menegaskan komitmennya untuk memberantas praktik penyelundupan yang dinilai merugikan ekonomi nasional.
Ia menyatakan bahwa penegakan hukum akan berlaku tanpa pandang bulu, termasuk terhadap pelaku yang diduga mendapat perlindungan dari pihak-pihak berkuasa.
“Yang suka main selundup, saya tangkap. Bentar lagi ada penangkapan besar-besaran. Saya enggak peduli di belakangnya siapa. Di belakang saya pasti ada yang paling tinggi kan ya? Presiden paling tinggi di sini. Pasti beres,” ujar Purbaya di Jakarta, kemarin.

Rokok, Tekstil, dan Baja Jadi Fokus Utama
Menurut Purbaya, berbagai jenis penyelundupan barang paling masif terjadi di sektor rokok, tekstil, dan baja.
Ketiga sektor ini disebutnya sebagai prioritas utama dalam penindakan.
“Rokok, saya akan beresin. Habis itu tekstil, lalu baja, dan setelah itu sektor lainnya. Satu per satu saya akan kejar,” tegasnya.
Pemberantasan penyelundupan, kata Purbaya, adalah kunci untuk memperkuat rasio pajak nasional dan menata ulang struktur industri agar lebih sehat dan kompetitif.
Purbaya: Sikat Semua, Bintang Empat Lapor Presiden
Purbaya juga mengungkapkan bahwa masih banyak petugas di lapangan, khususnya dari Bea dan Cukai (BC) yang enggan bertindak karena tekanan dari orang orang kuat di belakang pelaku penyelundupan.
Purbaya mengatakan pernah memanggil dan menanyakan pejabat BC mengapa bekerja tidak benar dan tak menindak penyeludupan itu.
Jawaban yang didapat Purbaya, BC tak bisa berbuat apa-apa karena di belakang para penyeludup ada bekingan gede.

Namun, Purbaya menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk takut. Semua pelanggaran harus ditindak, tak peduli siapa yang terlibat.
“Ya sudah, sekarang sikat aja. Dirjen Bea Cukai saya bintang tiga. Kecuali kalau yang nyuruh bintang empat. Kalau bintang empat, ya kita lapor Presiden,” katanya lugas.
Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Menurut Purbaya, langkah tegas terhadap penyelundupan bukan hanya penegakan hukum semata, tetapi bagian dari strategi besar perbaikan tata kelola ekonomi nasional.
Ia optimistis, jika penyelundupan bisa ditekan, pertumbuhan ekonomi akan meningkat lebih cepat dan berkelanjutan.
Purbaya juga menekankan bahwa praktik ilegal ini tidak hanya mengurangi penerimaan negara, tetapi juga melemahkan industri dalam negeri karena harus bersaing dengan barang selundupan yang masuk tanpa beban pajak dan aturan.
Investigasi BatamNow.com, penyeludupan rokok dan lainnya masih marak dari FTZ Batam.

Penyeludupan bukan lagi lewat jalur tikus, namun dari pelabuhan resmi.
Diduga banyak pemain punya bekingan dari orang yang berkuasa di Kepri dan dari “mabes” sehingga petugas Bea dan Cukai berdalih sulit untuk bertindak. (Red)

