BatamNow.com – Anak-anak warga Ruli Simpang Raya, Batam Kota, terpaksa membolos sekolah pada hari ini, Rabu (29/11/2023), sehari pasca penggusuran rumah mereka. Padahal mereka akan menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) pada 4 Desember, minggu depan.
Menurut warga di lokasi, salah satu alasan anak mereka bolos karena peralatan sekolahnya masih belum ditemukan ataupun rusak karena penggusuran rumah kemarin, Selasa (28/11).
“Orangtuanya di luar masih kerja, rumah udah sampai di sini sudah ubrak-abrik, sudah habis,” kata warga kepada BatamNow.com, di Ruli Simpang Raya, Rabu (29/11).
Ditambahkannya, isi rumah warga yang rusak bukan hanya peralatan elektronik. “Peralatan sekolah, buku sekolah anakku, berseraklah pokoknya semua semalam” jelasnya.
Pantauan BatamNow.com di lokasi, terlihat beberapa anak-anak warga Simpang Raya sedang mengais puing-puing rumah di sana. Mereka membantu orang tuanya mencari benda-benda berharga yang masih tertimbun sisa gusuran.
Bolosnya anak sekolah warga Ruli Simpang Raya juga dibenarkan oleh guru di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Mujizat yang berdiri di lokasi penggusuran. Sekolah tersebut menggunakan gedung GKKI Mujizat yang belum dirobohkan.
“Padahal siswanya ada 21 orang dan untuk hari ini cuma 5 orang yang datang itu pun ada yang nggak pakai sepatu, nggak nampak katanya sepatunya,” ujar guru tersebut yang meminta namanya tidak ditulis.

Ia menambahkan, dari 200 KK yang digusur kemarin, hampir seperempatnya tidur di GKKI Mujizat.
“Seperempat masyarakat sini ke sini dulu lah menginap untuk sementara. Anak saya saja ada 4 itu tak ada yang sekolah karna tidak ada yang nampak baju seragam sekolahnya,” ujar warga Ruli Simpang Raya.
Dimintai pendapat mengenai penggusuran berdampak ke siswa menjadi terpaksa bolos sekolah, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Batam Setyasih Priherlina menegaskan bahwa anak perlu dilindungi sekalipun penggusuran dilakukan sesuai prosedur.
“Karena proses untuk sampai terjadinya penggusuran tentu sudah melalui Prosedur. Kesiapan warga hendaknya juga sudah siap-siap secara fisik atau mental menerima penggusuran ini. Lindungi anak yg paling utama dari keluarga. Kita beharap kepada BP mendengarkan usulan warga. Demi kepentingan anak juga,” jelasnya kepada BatamNow.com.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Batam Tri Wahyu Rubianto yang dikonfirmasi terkait nasib pendidikan anak-anak Simpang Raya itu mengatakan, “Coba saya koordinasi dulu ya, itu SD ya? Sekolah apa ya namanya”.
Wartawan media ini pun menjelaskan bahwa anak-anak sekolah yang terdampak penggusuran Simpang Raya terdiri dari siswa-siswi SMPN 42, SDN 010, dan SD Permata Bandara.
Media ini kemudian menjelaskan bahwa peralatan sekolah anak-anak warga Simpang Raya, masih tertimbun dalam puing penggusuran sehingga banyak mereka bolos sekolah hari ini.
Namun setelah itu, Tri Wahyu tak lagi merespons pesan dari BatamNow.com, hingga berita ini dinaikkan.
Diberitakan media ini, tim dari BP Batam menggusur rumah liar (Ruli) Simpang Raya RT 04/ RW 12, Kelurahan Belian, Kecamatan Batam Kota, pada Selasa (28/11).
Warga terdiri 200 KK di sana digusur karena terdampak rencana pelebaran jalan ROW 100 di sana.
Warga Simpang Raya merasa sedih karena penggusuran tetap dilakukan meski mereka telah mengirimkan surat permohonan kepada Kepala BP Batam agar menunda pemindahan warga di sana karena sudah mendekati perayaan Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2024.
Penggusuran itu juga membuat sedih anak-anak warga yang sepulang dari sekolah mendapati rumah tinggalnya telah rata dengan tanah.
Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Uba Ingan Sigalingging mengkritisi keras karena BP Batam tak memenuhi permohonan warga Ruli Simpang Raya tersebut.
“Hari ini rumah warga dirobohkan, warga terpaksa menumpang di rumah pak Tinus. Saya merasa, apa yang sudah kami sampaikan ke BP Batam sama sekali tidak dianggap, sebagai anggota DPRD saya merasa kecewa atas arogansi dari BP Batam yang sama sekali tidak memandang aspek kemanusiaan,” kata Uba di Simpang Raya, Selasa (28/11). (Aman)

