BATAMNOW – Setakad ini, pembangunan fisik proyek IPAL tahap pertama dalam penyelesaian.
Bagian proyek yang kini digesa, yakni pembangunan fisik hilir Waste Water Treatment Plant (WWTP) di Bengkong Sadai. WWTP ini berkapasitas 20.000 m3/hari atau 230 liter/detik. Juga akan menghasilkan kompos 18 m3/hari.
Selain itu, pengadaan 5 Unit Stasiun Pompa (Pump Station) dan Saluran Pipa Air Limbah (Sewerage Pipe Line) sepanjang 114,3 Km. Terdiri dari pipa primer 41,8 Km dan pipa sekunder 72,5 Km. Ini untuk jaringan 11.000 sambungan ke rumah warga.
Menurut Iyus, realisasi pengerjaan jaringan total pipa primer maupun sekunder mencapai 83,5 % persen dari 114,3 Km. Dikerjakan sejak April 2017 sd Januari 2020, atau sekitar 33 bulan.
Sementara pembangunan jaringan pipa tersier (house connection) ke rumah-rumah warga, masih tahap memulai di sisa waktu 10 bulan.
Dari target 11.000 sambungan di depan rumah, baru terealisasi 1000 sambungan. Ini pun belum terkoneksi ke septic tank ataupun saluran pipa pembuangan air cuci dan mandi.
Proyek IPAL tahap pertama ini, ditargetkan harus selesai Desember 2020, apalagi sudah pernah “di-reschedule”.
IPAL tahap satu ini baru akan melayani sambungan rumah hanya di area Batam Centre. Kini tercatat sekitar 280 ribu pelanggan air ATB se-Batam.
Lalu bagaimana dengan rumah warga yang belum tersambung IPAL, padahal mereka dibebankan tarif layanan juga?
Disebutkan, pihak BP Batam akan menyediakan layanan khusus.
“Kapan penuh septic tanknya, tinggal telepon, kita angkat itu tinja,” terang Iyus.
Untuk layanan konvensional ini, namanya “Layanan Lumpur Tinja Terjadwal”.
Adapun proyek IPAL ini pinjaman lunak (soft loan) berbunga dari Korea Selatan.
Besaran dana pinjaman sekitar USD 50 Juta atau setara dengan Rp 700 Miliar (kurs Rp 14.000). Pijaman luar negeri (LN) ini wajib bayar bunga pinjaman 1% per tahun. Lama pinjaman 40 tahun.
Selain bunga pinjaman, “punggung” masyarakat juga akan memikul beban abonemen air tinja biologis dan kimiawi, sepanjang masa.
Apakah pinjaman LN untuk IPAL ini masuk dalam total pinjaman negara yang sekitar Rp 6000 Triliun, terkini?(omrad)

