Warga Azure Gardenia Minta Tolong Li Claudia, Sebagian Blok Perumahan Krisis Air Bertahun-tahun - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
BatamNow.com

Warga Azure Gardenia Minta Tolong Li Claudia, Sebagian Blok Perumahan Krisis Air Bertahun-tahun

16/Okt/2026 14:59
Warga Azure Gardenia Minta Tolong Li Claudia, Sebagian Blok Perumahan Krisis Air Bertahun-tahun

Beberpaa perwakilan warga Perumahan Azure Gardeni berfoto usai mengadukan krisis air ke KPP PT Air Batam Hilir di Batu Aji, Jumat (16/10/2026). (F: BatamNow)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Emak-emak perwakilan warga Perumahan Azure Gardenia, Kota Batam, meminta Wakil Wali Kota Batam ex-officio Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, turun tangan mencari solusi atas krisis air minum jaringan perpipaan yang alirannya tak merata sudah bertahun-tahun.

Hal itu disampaikan warga usai bertemu perwakilan PT Air Batam Hilir (ABH) di Kantor Pelayanan Pelanggan (KPP) di Batu Aji.

“Tolong bu, air kami diratakan,” pinta warga ketika ditemui di KPP Batu Aji, Jumat (16/10/2026).

@batamnow Emak-emak perwakilan warga Perumahan Azure Gardenia, Kota Batam, meminta Wakil Wali Kota Batam ex-officio Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, turun tangan mencari solusi atas krisis air minum jaringan perpipaan yang alirannya tak merata sudah bertahun-tahun. Hal itu disampaikan warga usai bertemu perwakilan PT Air Batam Hilir (ABH) di Kantor Pelayanan Pelanggan (KPP) di Batu Aji. "Tolong bu, air kami diratakan," pinta warga ketika ditemui di KPP Batu Aji, Jumat (16/10/2026). Hingga kini, aliran dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) BP Batam di perumahan tersebut hanya menjangkau sebagian blok, sementara warga di blok lainnya harus berjuang mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Arma, salah seorang warga Azure Gardenia, mengatakan krisis air dialami warga yang tinggal di bagian belakang perumahan, yakni Blok K, L, M, dan N, telah berlangsung selama bertahun-tahun. Kondisinya bahkan semakin parah dalam sebulan terakhir, mati total. Disebutkan, air perpipaan hanya mengalir sekitar satu jam pada dini hari, mulai pukul 03.00 hingga 04.00, terkadang sampai pukul 05.00 WIB. Warga pun terpaksa begadang demi menampung air untuk keperluan rumah tangga. “Saya pribadi selama beli rumah di sana, dari awal itu saya nggak pernah yang namanya dapat air 24 jamm,” kata Arma. Ia menjelaskan, warga di blok depan masih bisa menikmati aliran air yang lancar, sedangkan warga di blok belakang justru kerap mengalami mati air total. Kondisi itu membuat warga merasa diperlakukan tidak adil (fair). Sebab, mereka sama-sama membeli unit rumah rumah dan membayar tagihan air. “Itu membuat kami nggak fair. Kami sama-sama bayar, kenapa di bagian depan itu dia hidup lancar. Kenapa kami bagian belakang dapat sengsaranya saja?” ujarnya. Arma mengatakan, pun ketika air kembali mengalir, kualitasnya terkadang keruh. Hal itu semakin menyulitkan warga yang membutuhkan air untuk memasak, mandi, mencuci, hingga memenuhi kebutuhan anak-anak mereka. "Kami sampai begadang untuk menunggu air. Kadang kami yang punya anak kecil ini payah kalau kayak gitu terus," keluhnya. Bantuan Tangki Belum Menjadi Solusi Arma mengakui, bantuan suplai menggunakan truk tangki air (water tank) terkadang datang untuk memenuhi kebutuhan warga. Namun, menurutnya, hal tersebut belum bisa menjadi solusi jangka panjang atas krisis air . Bahkan, warga terkadang harus menanyakan berulang kali melalui grup komunikasi lingkungan untuk memastikan kapan air tangki datang dan apakah mereka kebagian. “Ada air tangki. Itu pun kami kadang mengemis 'mana ini Pak RT, air kami mana' di grup itu. Harus nunggu kami ngemis gitu,” tuturnya. Ia menegaskan, warga tidak hanya membutuhkan bantuan sementara, tetapi juga kepastian kapan aliran air perpipaan dapat kembali normal. Dalam pertemuan yang dilakukan di KPP Batu Aji, warga mengaku belum mendapatkan jawaban yang jelas mengenai penyelesaian persoalan tersebut. Mereka hanya menerima penjelasan bahwa penanganan akan diupayakan secepat mungkin, tanpa kepastian waktu. "Masih abu-abu. Masih diusahakan secepat mungkin. Pastinya belum tahu. Tapi katanya ada masuk tangki," ucapnya. Warga juga meminta pihak pengembang perumahan ikut bertanggung jawab dengan menyediakan tandon penampungan air bagi warga sebagai langkah penanganan, terutama bagi blok-blok yang selama ini kesulitan mendapatkan pasokan. Menurut dia, penyediaan tandon dapat menjadi salah satu bentuk tanggung jawab pengembang sembari menunggu solusi permanen dari pihak terkait. "Kami minta juga pihak developer mungkin ya bisa menyediakan tandon satu-satu di perumahan kami. Itu bentuk pertanggungjawaban dia,” katanya. Arma menambahkan, krisis air yang terjadi di Azure Gardenia merupakan bagian dari persoalan yang lebih luas di Batam. "Masalahnya ini bukan kami saja juga ya, di seluruh Batam ini krisis air," jelasnya… Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com

 

Baca Juga:  Air SPAM Batam Keruh, Warga Gesya Bukit Permata Terpaksa Beli Filter Ratusan Ribu untuk Jernihkan

Hingga kini, aliran dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) BP Batam di perumahan tersebut hanya menjangkau sebagian blok, sementara warga di blok lainnya harus berjuang mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Arma, salah seorang warga Azure Gardenia, mengatakan krisis air dialami warga yang tinggal di bagian belakang perumahan, yakni Blok K, L, M, dan N, telah berlangsung selama bertahun-tahun. Kondisinya bahkan semakin parah dalam sebulan terakhir, mati total.

Disebutkan, air perpipaan hanya mengalir sekitar satu jam pada dini hari, mulai pukul 03.00 hingga 04.00, terkadang sampai pukul 05.00 WIB. Warga pun terpaksa begadang demi menampung air untuk keperluan rumah tangga.

“Terkait masalah air. Karena, kalau saya pribadi selama beli rumah di sana, dari awal itu saya nggak pernah yang namanya dapat air 24 jam,” kata Arma.

Ia menjelaskan, warga di blok depan masih bisa menikmati aliran air yang lancar, sedangkan warga di blok belakang justru kerap mengalami mati air total.

Kondisi itu membuat warga merasa diperlakukan tidak adil (fair). Sebab, mereka sama-sama membeli unit rumah rumah dan membayar tagihan air.

“Itu membuat kami nggak fair. Kami sama-sama bayar, kenapa di bagian depan itu dia hidup, lancar. Kenapa kami bagian belakang ini dapat sengsaranya saja?” ujarnya.

Arma mengatakan, pun ketika air kembali mengalir, kualitasnya terkadang keruh.

Hal itu semakin menyulitkan warga yang membutuhkan air untuk memasak, mandi, mencuci, hingga memenuhi kebutuhan anak-anak mereka.

“Kami sampai begadang untuk menunggu air. Kadang kami yang punya anak kecil ini payah kalau kayak gitu terus,” keluhnya.

Bantuan Tangki Belum Menjadi Solusi

Arma mengakui, bantuan suplai menggunakan truk tangki air (water tank) terkadang datang untuk memenuhi kebutuhan warga.

Namun, menurutnya, hal tersebut belum bisa menjadi solusi jangka panjang atas krisis air .

Bahkan, warga terkadang harus menanyakan berulang kali melalui grup komunikasi lingkungan untuk memastikan kapan air tangki datang dan apakah mereka kebagian.

“Ada air tangki. Itu pun kami kadang mengemis ‘mana ini Pak RT, air kami mana’ di grup itu. Harus nunggu kami ngemis gitu,” tuturnya.

Ia menegaskan, warga tidak hanya membutuhkan bantuan sementara, tetapi juga kepastian kapan aliran air perpipaan dapat kembali normal.

Dalam pertemuan yang dilakukan di KPP PT ABH Batu Aji, warga mengaku belum mendapatkan jawaban yang jelas mengenai penyelesaian persoalan tersebut.

Mereka hanya menerima penjelasan bahwa penanganan akan diupayakan secepat mungkin, tanpa kepastian waktu.

“Masih abu-abu. Masih diusahakan secepat mungkin. Pastinya belum tahu. Tapi katanya ada masuk tangki,” ucap warga.

Warga juga meminta pihak pengembang perumahan ikut bertanggung jawab dengan menyediakan tandon penampungan air bagi warga sebagai langkah penanganan, terutama bagi blok-blok yang selama ini kesulitan mendapatkan pasokan.

Menurut dia, penyediaan tandon dapat menjadi salah satu bentuk tanggung jawab pengembang sembari menunggu solusi permanen dari pihak terkait. Jangan sampai warga konsumen yang dibebani untuk membeli tandon.

“Kami minta juga pihak developer mungkin ya bisa menyediakan tandon satu-satu di perumahan kami. Itu bentuk pertanggungjawaban dia,” katanya.

Arma menambahkan, krisis air yang terjadi di Azure Gardenia merupakan bagian dari persoalan yang lebih luas di Batam.

“Masalahnya ini bukan kami saja juga ya, di seluruh Batam ini krisis air,” jelasnya.

Diberitakan, pada pagi hari sebelum mendatangi KPP PT ABH di Batu Aji, warga sudah berdemonstrasi mendatangi kantor pemasaran Perumahan Azure Gardenia.

Mereka meminta agar pihak developer perumahan memberikan perhatian atas maslaah krisis air yang dialami warga di sebagian blok Perumahan Azure Gardenia. (D)

ADVERTISEMENT
Berita Sebelumnya

Usai Didemo, Air SPAM BP Batam Mengalir Deras untuk Sementara Ini ke Warga Tembesi: Harus Tunggu Aksi Dulu?

Berita Selanjutnya

Kabut Asap Sumatra Ganggu Penerbangan Hang Nadim Batam, Tiga Jadwal Delay

Berita Selanjutnya
5 Program Unggulan PWI Kepri Dimuat dalam Buku “Rekam Jejak 20 Tahun PWI Kepri”

Kabut Asap Sumatra Ganggu Penerbangan Hang Nadim Batam, Tiga Jadwal Delay

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Central Tiban
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini

© 2021-2026 BatamNow.com