BatamNow.com – Sulitnya mengakses aliran Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) perpipaan BP Batam tidak hanya dialami warga pelanggan Tanjung Sengkuang yang melakukan aksi demonstrasi pekan lalu.
Kondisi serupa juga dialami warga konsumen di sejumlah kawasan lainnya. Salah satunya dirasakan ratusan pelanggan SPAM di RT 008/RW 003 Perumahan Taman Sari Hijau, Tiban Baru.
Warga mengeluhkan aliran air minum yang hanya mengalir pada pukul 02.00 hingga 05.00 dini hari, itupun dengan debit yang sangat kecil.
Meski telah berulang kali menyampaikan aduan dan bahkan melakukan aksi demo di kantor SPAM Batam wilayah Tiban, keluhan tersebut hingga kini belum membuahkan solusi nyata.

Akibat sulitnya mengakses air melalui jaringan perpipaan, warga terpaksa mengandalkan distribusi air tangki yang dijanjikan oleh pengelola SPAM Batam sebagai solusi sementara.
Namun dalam praktiknya, layanan air tangki tersebut juga dinilai jauh dari harapan. Warga mengaku, meski sudah memesan air tangki dan memperoleh tiket pengantaran melalui sistem resmi SPAM Batam, air yang dijanjikan kerap tidak kunjung datang.
Upaya menghubungi call center SPAM Batam pun tidak membuahkan hasil, karena hanya dilayani oleh sistem penjawab otomatis yang justru menghabiskan pulsa pelanggan.
“Mohon tunggu beberapa saat, Anda akan terhubung dengan petugas Call Centre kami. Dan mohon jangan tutup browser/layanan chat ini sampai petugas kami melayani Anda,” demikian jawaban robot sebagaimana ditirukan warga.
@batamnow Tensi aksi demonstrasi krisis air oleh warga Tanjung Sengkuang di depan Kantor BP Batam pada Kamis (22/01/2026) siang, sempat memanas. Awalnya, ratusan warga tiba sekira pukul 12.30 WIB di depan gerbang BP Batam yang telah ditutup dan dijaga personel kepolisian serta Ditpam. Selang beberapa waktu, Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan wakilnya Li Claudia Chandra keluar dari gedung dan menemui peserta aksi. Tampak hadir juga Kapolresta Barelang, Kombes Pol Anggoro Wicaksono dan Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait. Kemudian Amsakar yang berdiri di atas kap mesin bagian depan mobil polisi yang dilengkapi pengeras suara bersama Li Claudia di balik gerbang BP Batam, meminta perwakilan aksi untuk menyampaikan poin tuntutan. Syamsuddin pun membacakan tiga tuntutan warga (Tritura) Tanjung Sengkuang: segera alirkan air bersih, keadilan dalam distribusi air, dan permintaan mundur dari jabatan bila tidak melaksanakan dua tuntutan warga. Sebelum giliran Amsakar merespons tuntutan warga, massa aksi sempat protes ketika ada gestur menunjuk dari Li Claudia. “Woi jangan nunjuk-nunjuk,” begitu suara teriakan dari barisan peserta demo. Kemudian suasana kembali tenang, dan Amsakar menyampaikan tanggapannya. “Pertama, soal pelayanan air bersih tidak ada perbedaan kita sama dengan lain warga sini,” katanya, lalu dibalas sorakan protes dari warga. Namun, lanjut Amsakar, masih ada 18 stressed-area termasuk Tanjung Sengkuang, yang aliran air perpipaannya belum terdistribusi secara normal. Menurutnya sudah ada pengerahan armada truk air sebagai solusi sementara, meski memang belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan warga Tanjung Sengkuang. “Yang kedua kalau persoalan mundur, jangankan dari warga di hadapan OPD kalau dari 15 yang kami janjikan tidak selesai, tidak perlu Amsakar Achmad meneruskan jabatan,” tegasnya. Amsakar mengungkapkan, tender proyek untuk peningkatan infrastruktur air perpipaan ke Tanjung Sengkuang baru bisa dilaksanakn pada Februari nanti. “Jadi butuh waktu empat bulan paling cepat. Sementara menuju ke tahapan itu, kami akan lakukan pengiriman armada ke lokasi bapak/ibu,” katanya mengakhiri tanggapan atas tiga tuntutan warga. Selanjutnya giliran orator yang menanggapi respons Kepala BP Batam, hingga akhirnya menaikkan tensi di lokasi aksi. “Izin kepada yang terhormat bapak Kepala BP Batam hari ini yang hanya bisa mengandalkan argumen, tapi kenyataan di lapangan…” ucap Syamsuddin. Sontak Amsakar memprotes sambil menunjuk orator, “Bapak jangan menyerang personal, pak Syamsuddin. Bapak jangan menyerang personal”. Akhirnya orang nomor satu di Batam itu sampai memaksa turun dari atas mobil tempatnya berbicara, memprotes orator yang dituding menyerang personal. Namun langkahnya ditahan oleh beberapa orang di sana. Syamsudin menjawab bahwa tidak ada yang menyerang personal dalam penyampaian tuntutan aksi. Namun kemudian, giliran Wakil Kepala BP Batam Li Caludia Chandra yang memprotes. “Pak Syamsuddin, bapak titipan dari mana!” teriak Li Claudia dengan gestur menunjuk dan wajah dengan ekspresi yang sudah berubah. “Tidak ada, tidak ada, kami murni,” jawab Syamsuddin. Akhirnya Amsakar dan Li Claudia meninggalkan massa aksi, dan kembali ke gedung BP Batam. Tak pelak, tidak tercapai solusi dalam pertemuan itu. Warga Tanjung Sengkuang gagal mendapat tanda tangan pimpinan BP Batam untuk surat berisi tuntutan yang telah mereka persiapkan. Sayangkan Arogansi BP Batam Koordinator aksi sekaligus warga Tanjung Sengkuang, Harisdianto, menyayangkan adanya sikap yang dinilai arogansi dalam merespons aksi damai tersebut. “Kita sangat menyayangkan sikap yang menurut kita arogan ditunjukkan oleh BP Batam, yang mana massa aksi masih stabil, tidak memancing suatu keributan,” katanya kepada BatamNow.com, Kamis (22/01/2026). Ia mengapresiasi warga peserta aksi yang tidak terpancing atas tindakan pimpinan BP Batam… Baca selengkapnya di BatamNow.com #batampunyacerita #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com
Melihat kondisi tersebut, warga Tiban berencana melakukan aksi demonstrasi ke kantor BP Batam dalam waktu dekat.
Rencana itu dibenarkan oleh tokoh masyarakat Tiban, Rasmen Simamora SH MH, yang juga berprofesi sebagai advokat.
“Kami sudah merencanakan aksi demo ke kantor BP Batam. Kami sudah puas hanya diberi janji-janji,” ujar Rasmen.
Menurutnya, persoalan air minum di Perumahan Taman Sari Hijau telah berlangsung selama kurang lebih 20 tahun.
Warga bahkan telah mengusulkan agar pemasangan pipa air dilakukan dari wilayah Kampus ITEBA yang bersebelahan dengan Perumahan Tiban Ayu, yang posisinya lebih tinggi dari Perumahan Taman Sari Hijau RT 008/RW 003.
“Namun pihak ABHi tidak pernah peduli dengan keluhan tersebut dan tidak menghadirkan solusi nyata untuk melayani warga sebagai konsumen,” kata Rasmen.
Ia juga menyesalkan pelayanan buruk operasional SPAM oleh PT Air Batam Hilir (ABHi), yang kerap menyarankan warga untuk memesan air tangki jika mengalami kesulitan aliran perpipaan..
Namun meski sudah melakukan pemesanan dan menerima tiket pengantaran, air tangki yang ditunggu-tunggu sering kali tidak datang.
Air Tangki Berpotensi Picu Selisih Paham Antarwarga
Ketidakmampuan distribusi air tangki secara merata juga memunculkan persoalan baru di tengah masyarakat.
Sejumlah warga mengaku mulai resah karena adanya ketimpangan pelayanan.
Dijelaskan warga, ada pelanggan yang sudah lebih dahulu memesan air namun tidak mendapatkan pasokan, sementara warga lain yang memesan belakangan justru menerima air lebih dulu.
Kondisi yang memicu selisih paham antarwarga.
Rasmen menegaskan, apabila kondisi tersebut terus berlarut dan tidak ada tindakan konkret dari pihak terkait, warga akan menempuh langkah hukum.
“Warga akan melakukan gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) terhadap instansi pemerintah atau swasta yang bertanggung jawab atas pelayanan air minum perpipaan ini. Warga sudah terlalu lama dirugikan, baik secara materil maupun immateril,” tegas Rasmen. (P/Red)

