Lahan 1001 Masalah
Entah ada hubungannya dengan “hikayat 1001 malam”.
Tapi mantan Ketua Otorita Batam BJ Habibie mengakui keruwetan lahan di Batam, penuh dengan 1001 masalah.
Lahan yang dikuasai BP Kawasan penanganannya ruwet. Investor sulit mendapatkannya.
Keterbukaan atas informasi lahan di Batam tertutup, sejak dari dulu. Para investor sangat sulit melihat peta lahan yang tersedia.
Sementara lahan terlantar milik para spekulan, terhampar di mana mana.
Pihak BP Batam, sering koar-koar akan menarik kembali semua lahan tidur itu. Tapi, nyatanya, masih jauh dari itu.
Lahan, memang menjadi barang nan seksi di Batam. Saking seksinya, para mafia lahan pun tak henti “bermain”.
Tak sedikit orang yang kaya raya karena keberadaan lahan BP kawasan ini. Baik itu makelar maupun para agen langit.
Termasuk dugaan “orang-orang dalam”.
Hingga, kini, urusan lahan di Batam, ibarat benang kusut.
Peliknya masalah lahan ini, juga dibenarkan petinggi BP sekarang. Hal yang paling rumit urusan di BP Batam adalah masalah lahan.
Soal pengadaan lahan yang tidak transparan, menjadi hal yang menghambat investasi di sini.
Konon, banyak investor mau masuk ke Batam, tapi terbentur lika-liku urusan lahan.
Perizinan Masih Bermasalah
Munculnya Klinik Berusaha Mal Pelayanan Publik ternyata belum dapat menyelesaikan berbagai masalah perizinan di Batam.
Urusan perizinan investasi masih banyak kendala termasuk urusan ekspor/ impor. Lalu lintas urusannya pun sebagian masih tetap ke pusat.
Isu adanya tumpang tindih perizinan antara BP dan Pemko menjadi isu panas selama ini.
Kedua lembaga yang mengurusi Batam ini, sering konflik. Sehingga muncul keputusan menjadikan satu pimpinan (komando) di dua lembaga negara ini.
Itulah solusi yang dianggap pas, untuk mengakhiri polemik yang klasik selama ini. Utamanya soal perizinan.
