:batamnow:: Atas publikasi ATB yang mengatakan mereka sudah melakukan investasi 1 triliun. Padahal di perjanjian, mereka membuat proyeksi Rp 650 miliar sampai berakhirnya masa konsesi. Bagaimana menurut pendapat bapak?
Dendi: Mengenai angka ya, Pak. Angka 25 tahun lalu. Saya yakin bapak membaca publikasi. Bapak membaca perjanjiannya. Saya yakin juga bapak tahu model 25 tahun yang lalu dengan apa yang terjadi sekarang. Dalam perjalanannya beberapa kali penyesuaian.
Contoh: Bapak boleh melihat dalam model maksimum jumlah penduduk berapa, dibandingkan sekarang berapa?
Pertanyaan kedua, kalau kita bicara mengenai diskonto, diskonfactor. Pernah terjadi suatu keadaan di mana diskonfactor itu adalah 70 persen dalam 1 tahun. Padahal dalam model yang dibangun paling diskonto itu dingka Single Digit atau belasan. Tapi pernah terjadi suatu masa di mana diskonfactor itu mencapai 70-80%. Yang ketiga, asumsi pada saat itukan interest yang ada di situ adalah double digit di angka more than twenty. Kalau gak salah. Ini yang kemudian kalau kita melakukan forecasting 24 tahun sampai sekarang tentu harus ada adjusment ditengah-tengah. Saya bukan ahlinya.
Yang saya pahami adalah mengenai masa konsesi. Saya ingin katakan, banyak asumsi-asumsi yang tidak saya kuasai. Kalau pertanyaan bapak detil pada aset, apakah 650 miliar atau 1 triliun rupiah tentunya bapak punya satu paper yang akan bapak tunjukkan ke kami secara tertulis. Kalau bapak bertanya pada orang Humas seperti saya mengenai finansial proyek, mengenai accounting, ya, jawaban saya akan pas-pasan. Ketika bapak bertanya mengenai pelayanan non-revenue water kemudian lost water, kepada orang Humas untuk just a number kita bisa menjawab, tapi kemudian persektor tentunya bapak harus membuat paper lagi.
:batamnow:: Karena itu sifatnya publish Pak bahwa ATB telah melakukan Investasi sebesar 1 triliun yang di-launching oleh BPPSPAM (Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum) pusat. Sementara kalau kita kembali keperjanjian konsesi, proyeksi mereka sampai akhir, asetnya hanya senilai Rp 650 M.
Kalau kita kaitkan dengan kata bapak tadi tentang penilaian, artinya kenapa ATB tidak pernah mem-publish tentang adanya revaluasi aset. Padahal secara ekonomis berdasarkan useful life dan efonomic life dari aset itu, pasti menurun ’kan Pak. Ada depresiasi. Kalau ATB ingin meningkatkan sampai 1 triliun harus dilakukan revaluasi.
Dendi: Kebetulan pertanyaan bapak ini tak ada dalam surat yang diajukan dan tidak menyangkut hal detil seperti ini.
