BatamNow.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengubah cara jurnalis dan pembuat konten memproduksi serta menyebarkan informasi.
Mulai dari mencari ide, menyusun naskah, melakukan riset, produksi, penyuntingan hingga menghasilkan konten siap publikasi, berbagai tahapan tersebut kini dapat dibantu teknologi AI.
Namun, kemudahan itu juga menghadirkan tantangan baru, mulai dari keamanan data, akurasi informasi, etika, hak cipta hingga tanggung jawab pengguna.
Persoalan tersebut dibahas dalam sesi Training Keamanan Digital dan Artificial Intelligence (AI) untuk Jurnalis dan Pembuat Konten Muda di Batam, bagian dari rangkaian Festival Media Selat Malaka 2026 di Politeknik Negeri Batam, Sabtu (19/09/2026).
Pelatihan yang mengangkat pemanfaatan AI secara bijak tersebut melibatkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan SIDA. Materi disampaikan Country Programme Manager International Media Support (IMS) untuk Indonesia, Eva Danayanti.
Eva mengatakan, perkembangan AI tidak seharusnya hanya dilihat dari sisi kecanggihannya. Pengguna juga perlu memahami bagaimana teknologi tersebut bekerja, termasuk risiko terhadap data dan informasi yang diberikan ke platform digital.
“Data apa yang kita berikan? Apakah aktivitas kita sedang direkam atau dipantau? Siapa yang memiliki atau dapat mengakses data tersebut? Apa yang terjadi dengan informasi yang kita masukkan ke dalam sebuah platform?” kata Eva.

Menurutnya, pertanyaan tersebut penting karena AI semakin mudah digunakan dalam berbagai aktivitas, termasuk produksi konten jurnalistik maupun konten digital.
AI Bukan Teknologi Baru
Eva menjelaskan, AI bukan teknologi yang baru muncul setelah populernya ChatGPT.
Sebelum generative AI berkembang pesat, teknologi seperti machine learning dan bentuk AI lainnya telah digunakan dalam berbagai perangkat dan layanan yang sehari-hari digunakan masyarakat.
Popularitas ChatGPT dan teknologi generative AI kemudian membuat istilah AI semakin dikenal luas.
Perbedaan generative AI dengan teknologi AI sebelumnya, kata Eva, salah satunya terlihat dari kemampuannya menghasilkan konten dan berinteraksi menggunakan bahasa yang lebih dekat dengan komunikasi manusia.
Meski demikian, kemudahan penggunaan AI tidak berarti seluruh jawaban yang dihasilkan teknologi tersebut benar.
“Justru, semakin mudah teknologi digunakan, semakin besar pula kebutuhan pengguna untuk memahami cara kerja, keterbatasan, dan risikonya,” ujarnya.
Content Explainer Bantu Audiens Memahami Konteks
Dalam pelatihan tersebut, Eva juga membahas pendekatan content explainer yang dinilai semakin relevan dengan perubahan perilaku audiens.
Menurutnya, masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya membutuhkan informasi mengenai apa yang terjadi, tetapi juga ingin memahami konteks dan alasan di balik sebuah peristiwa.
“Content explainer, dengan demikian, tidak berhenti pada penyampaian fakta, tetapi berusaha membantu audiens memahami sebuah persoalan secara lebih utuh,” katanya.
Dalam membuat konten semacam itu, Eva menekankan pentingnya metode, bukan ketergantungan pada satu perangkat atau platform AI tertentu.
Sebab, teknologi dan perangkat AI akan terus berkembang dan berubah.
AI dapat dimanfaatkan untuk membantu memahami informasi, memperjelas persoalan, mengembangkan ide, hingga mendukung proses produksi konten.
“Pembelajaran mengenai AI pun idealnya tidak berhenti pada teori. Pengguna perlu mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan langsung bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam proses produksi konten,” tutur Eva.
Manusia Tetap Pegang Kendali
Eva menegaskan bahwa AI dapat digunakan hampir di setiap tahapan produksi konten, mulai dari pencarian ide hingga penyuntingan.
Namun, manusia tetap harus menjadi pihak yang memegang kendali dan mengambil keputusan utama.
“AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi tidak seharusnya menggantikan pertimbangan manusia,” tegasnya.
Pada tahap menentukan ide dan arah konten, misalnya, manusia tetap menentukan pesan yang ingin disampaikan, target audiens, serta tujuan konten.
AI dapat memberikan alternatif ide maupun sudut pandang, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan pembuat konten.
AI juga dapat membantu mengumpulkan informasi awal dan merangkum bahan. Namun, informasi yang dihasilkan AI tidak dapat langsung dianggap sebagai fakta.
“Setiap informasi penting harus ditelusuri kembali kepada sumber yang kredibel,” katanya.
Eva mengingatkan, salah satu tantangan penggunaan AI adalah kemampuannya menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan meskipun sebenarnya tidak benar.
AI dalam kondisi tertentu dapat menghasilkan data, nama, kutipan, bahkan informasi yang seolah-olah berasal dari wawancara, padahal tidak memiliki sumber nyata.
“Karena itu, proses verifikasi menjadi bagian yang sangat penting dalam produksi konten berbasis AI,” sebut Eva.
Setiap fakta, data, kutipan dan informasi penting harus diperiksa kembali oleh manusia sebelum digunakan dan dipublikasikan.
“Prinsip tersebut juga berlaku ketika AI digunakan untuk membuat naskah,” jelasnya.
AI dapat membantu membuat draf, menyusun struktur tulisan, memperbaiki bahasa hingga mengembangkan narasi. Namun, manusia tetap harus memeriksa isi, konteks, akurasi dan kesesuaiannya dengan tujuan konten.
AI Sebagai Alat Bantu, Bukan Penentu
Dalam proses produksi dan penyuntingan, AI juga dapat membantu mengolah gambar, suara, video, transkripsi maupun teks.
Namun, Eva kembali menekankan pentingnya pengawasan manusia untuk menentukan hasil akhir.
Menurutnya, proses produksi konten dapat mencakup sejumlah tahapan, mulai dari menentukan ide, membuat outline, mengumpulkan informasi awal, melakukan riset, verifikasi hingga menyusun naskah.
“AI dapat digunakan sebagai alat bantu pada hampir seluruh tahapan tersebut. Namun, AI bukan sumber utama kebenaran,” ucap Eva.
Sebelum konten dipublikasikan, pembuat konten tetap perlu memeriksa fakta, konteks, etika, hak cipta hingga potensi dampaknya terhadap publik.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi AI dapat membantu mempercepat pekerjaan tanpa menghilangkan tanggung jawab editorial.
“Gunakan AI untuk mempercepat proses, tetapi jangan menyerahkan keputusan editorial kepada AI,” imbuhnya.
Melalui pelatihan dalam rangkaian Festival Media Selat Malaka 2026 tersebut, para jurnalis dan kreator konten muda didorong untuk memahami teknologi AI sekaligus mengenali risikonya, terutama terkait keamanan data, verifikasi informasi dan tanggung jawab dalam produksi konten.
“Gunakan teknologi dengan bijak. Pahami risikonya. Jaga keamanan diri sendiri dan, yang tidak kalah penting, jaga keamanan orang lain,” tandasnya. (*)

