Festival Media Selat Malaka Dorong Jurnalis Perkuat Liputan Isu Kelautan - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
BatamNow.com

Festival Media Selat Malaka Dorong Jurnalis Perkuat Liputan Isu Kelautan

21/Sep/2026 21:09
Festival Media Selat Malaka Dorong Jurnalis Perkuat Liputan Isu Kelautan

Lokakarya bertajuk “Mengawal Isu Kelautan melalui Karya Jurnalistik Berkualitas” dalam Festival Media Selat Malaka 2026, di Politeknik Negeri Batam, Sabtu (19/09/2026). (F: Dok. Fesmed Selat Malaka)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Jurnalis didorong memperkuat peliputan isu kelautan dan pesisir dengan pendekatan yang lebih mendalam, berbasis data, serta melibatkan beragam sumber.

Isu kelautan dinilai tidak hanya berkaitan dengan perikanan, tetapi juga mencakup lingkungan, ekonomi, kesehatan, masyarakat pesisir, industri hingga aktivitas transportasi laut.

Hal tersebut mengemuka dalam lokakarya Festival Media Selat Malaka 2026 bertajuk “Mengawal Isu Kelautan melalui Karya Jurnalistik Berkualitas” di Gedung Technopreneur Politeknik Negeri Batam, Sabtu (19/09/2026).

Kegiatan tersebut diikuti 21 peserta dari kalangan mahasiswa dan akademisi.

Diskusi dipandu Ketua AJI Ambon, R. Khairiyah, dengan menghadirkan pemateri dari Jaring.id, Abdus Somad, dan Mongabay Indonesia, Asad Asnawi.

Abdus Somad memaparkan pentingnya penelusuran dalam peliputan sektor kelautan dan perikanan.

Menurutnya, jurnalis dapat memanfaatkan dokumen, sumber terbuka (open source), media sosial hingga platform pemantauan aktivitas kapal.

Ia menjelaskan, wilayah pengelolaan perikanan Indonesia memiliki karakteristik sumber daya dan aktivitas penangkapan yang berbeda.

Pembagian wilayah tersebut antara lain digunakan untuk mendukung pengaturan perizinan dan alat tangkap.

Ia mencontohkan penangkapan ikan tuna dengan alat tangkap longline atau rawai yang dilakukan di wilayah perairan tertentu.

Sementara di Natuna, karakteristik laut yang lebih dalam membuat jenis ikan yang ditemukan berbeda dengan sejumlah wilayah lainnya.

Telusuri Kapal hingga Pemilik Perusahaan

Abdus juga membagikan pengalaman melakukan liputan investigasi di laut selama hampir dua pekan.

Dalam proses tersebut, ia mengikuti aktivitas kapal dan mengamati berbagai kejadian di perairan.

Salah satu isu yang ditelusurinya berkaitan dengan kapal eks-asing yang kembali beroperasi di perairan Indonesia.

Menurut Abdus, sejumlah persoalan pernah dikaitkan dengan kapal eks-asing, mulai dari perpajakan, penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing), kerja paksa (forced labour), alih muatan di tengah laut (transshipment) hingga kepatuhan terhadap regulasi Indonesia.

Dalam penelusuran tersebut, jurnalis dapat memulai dari dokumen dan kepemilikan perusahaan, kemudian menelusuri hubungan antara korporasi, pemilik kapal dan pihak-pihak terkait.

“Penelusuran dokumen dan juga penelusuran setiap orang, salah satunya melihat siapa yang punya, perusahaan siapa yang punya, koleganya siapa,” kata Abdus.

Abdus Somad. (F: Dok. Fesmed Selat Malaka)

Jika akses terhadap dokumen perizinan sulit diperoleh, jurnalis dapat mencari sumber alternatif, antara lain melalui asosiasi maupun pelaku usaha di pelabuhan.

Penelusuran juga dapat diperkuat dengan memanfaatkan sumber terbuka dan media sosial. Informasi dari media sosial, kata Abdus, dapat menjadi petunjuk awal mengenai aktivitas kapal maupun awaknya yang kemudian perlu diverifikasi lebih lanjut.

Dalam peliputan di laut, ia juga mengingatkan jurnalis untuk memperhatikan aspek keselamatan.

“Kalau di laut itu enggak ada rumah sakit. Enggak ada juga pohon untuk berteduh,” ujarnya.

Menurutnya, sejumlah platform terbuka seperti Global Fishing Watch dan MarineTraffic dapat membantu jurnalis menelusuri aktivitas kapal.

Jangan Hanya Liput Saat Ada Peristiwa

Sementara itu, pemateri dari Mongabay Indonesia, Asad Asnawi, mendorong media memperluas perspektif dalam melihat persoalan kelautan.

Baca Juga:  Jelang Fesmed Selat Malaka 2026, Panitia Beberkan Sejumlah Agenda Utama

Menurutnya, persoalan di laut tidak berdiri sendiri, tetapi memiliki keterkaitan dengan kondisi di daratan maupun wilayah negara lain.

Ia mendorong media tidak hanya memberitakan laut ketika terjadi peristiwa tertentu, seperti penangkapan kapal, tetapi juga membangun liputan yang lebih komprehensif mengenai bentang laut, lingkungan dan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.

Asad juga menekankan pentingnya memperkaya narasi jurnalistik dengan melibatkan beragam narasumber serta mengembangkan isu dari sekadar peristiwa menjadi laporan yang lebih mendalam.

Dalam sesi diskusi, peserta turut membahas proses peliputan isu kelautan, pengembangan pertanyaan investigasi serta sejumlah persoalan di Kepulauan Riau, termasuk isu pasir dan aktivitas kapal asing.

Asad Asnawi. (F: Dok. Fesmed Selat Malaka)

Akademisi Dorong Jurnalis Terjemahkan Data

Akademisi Universitas Ibnu Sina, Hengky Oktavrizal, mengatakan Kepulauan Riau memiliki potensi kelautan yang besar sekaligus menghadapi tantangan akses bagi masyarakat di wilayah kepulauan.

Menurutnya, Batam memiliki ratusan pulau sehingga persoalan akses perlu mendapat perhatian, termasuk akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan.

Ia menilai jurnalis memiliki peran penting dalam menerjemahkan informasi akademik agar dapat dipahami masyarakat luas.

Data dan hasil penelitian dalam jurnal ilmiah, kata Hengky, tidak selalu mudah dipahami masyarakat umum. Karena itu, diperlukan peran media untuk mengemasnya dalam bentuk informasi yang lebih komunikatif.

“Yang namanya jurnal ataupun artikel ilmiah, mungkin tidak semua orang paham masalah data, masalah, dan bentuk sajian data. Tapi, inilah peran teman-teman jurnalis untuk menerjemahkan itu,” ucap Hengky.

Akademisi yang berlatar belakang kesehatan masyarakat tersebut juga mengaitkan isu kelautan dengan kondisi kesehatan masyarakat pesisir dan kepulauan.

Menurutnya, kesehatan tidak hanya berkaitan dengan bebas dari penyakit, tetapi juga mencakup kesejahteraan fisik, mental dan sosial.

Karena itu, persoalan masyarakat pesisir dapat dilihat dari berbagai aspek, mulai dari perilaku dan gaya hidup, kondisi lingkungan, ketersediaan pangan dan air bersih, kondisi sosial ekonomi hingga akses terhadap pelayanan kesehatan.

Perspektif kelautan juga mencakup ekosistem laut dan pesisir, kualitas air laut, perikanan dan sumber pangan, terumbu karang, aktivitas industri dan transportasi laut, masyarakat pesisir dan pulau-pulau, pencemaran hingga perubahan iklim.

“Kalau bahas tentang isu kelautan, kita lihat lagi Provinsi Kepulauan Riau itu hampir 96 persennya adalah laut,” ujarnya.

Menurut Hengky, luasnya wilayah laut Kepri membuat isu kelautan relevan untuk terus dikaji dan diberitakan melalui kolaborasi antara akademisi, jurnalis, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.

Lokakarya Festival Media Selat Malaka 2026 tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif jurnalistik dan akademik dalam membahas persoalan kelautan.

Peserta didorong tidak hanya meliput peristiwa, tetapi juga menggali konteks, data, dampak serta keterkaitan berbagai persoalan di wilayah pesisir dan kepulauan. (*)

ADVERTISEMENT
Berita Sebelumnya

Festival Media Selat Malaka Bahas Strategi Media Menjangkau Audiens di Tengah Algoritma

Berita Selanjutnya

Hampir Sebulan, Terduga Pelaku Pembacokan Hermanto Belum Diamankan Polsek Sagulung

Berita Selanjutnya
Warga Kampung Pandawa di Batam Nyaris Tewas Dibacok, Masih Takut Pelaku Belum Ditangkap

Hampir Sebulan, Terduga Pelaku Pembacokan Hermanto Belum Diamankan Polsek Sagulung

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Central Tiban
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini

© 2021-2026 BatamNow.com