BatamNow.com – Sorotan publik terhadap pengelolaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah (EF) Batam kembali mencuat menyusul dugaan berlarut soal keterlambatan pembayaran Jasa Pelayanan (Jaspel) tenaga kesehatan (Nakes).
Persoalan ini dinilai bukan hanya berdampak pada kesejahteraan Nakes, tetapi mencerminkan persoalan mendasar dalam sistem manajemen rumah sakit milik Pemerintah Kota Batam tersebut.
Direktur Eksekutif Batam Labor and Public Policies, Rikson Tampubolon, menyatakan keterlambatan pembayaran Jaspel sampai menunggak berbulan-bulan merupakan bentuk pelanggaran terhadap prinsip-prinsip akuntabilitas RSUD.
“Keterlambatan pembayaran Jaspel hingga lima bulan dan sistem yang tidak transparan itu jelas melanggar etika pelayanan publik. Ini sudah terlalu lama dibiarkan,” kata Rikson kepada BatamNow.com, Sabtu (21/06/2025).

Rikson, yang juga akademisi serta dosen di Institut Teknologi dan Bisnis Indobaru Nasional (IIBN) Batam, menyebut akar persoalan di RSUD EF bukan lagi teknis administratif semata.
Ia mengungkap bahwa persoalan ini pernah disorot Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sejak 2023, namun belum terlihat adanya tindakan korektif.
“Anehnya, temuan BPK sejak 2023 seolah tidak ditindaklanjuti. Ini bukan rumah sakit kecil, tapi rumah sakit daerah yang melayani kebutuhan vital masyarakat. Kalau pengelolaannya seperti ini, bisa-bisa kepercayaan publik runtuh,” ujar Rikson.
Ia mendesak agar dilakukan audit menyeluruh terhadap manajemen RSUD EF.
Menurutnya, selain evaluasi kinerja pejabat terkait, perlu juga sistem digitalisasi pembayaran yang lebih transparan dan adil.
“Kalau pejabatnya tidak mampu, ganti saja. Malu kita, RSUD EF jadi bahan gunjingan terus. Negara seperti abai terhadap hak-hak tenaga kesehatan,” tambahnya.
Apa yang disampaikan Rikson, sangat relevan dengan inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kepri, Lagat Parroha Siadari dan Wali Kota Batam, Amsakar Achmad ke RSUD EF.
Kematian Muhammad Alif Okto Karyanto (12), pasien BPJS yang diduga sempat “ditolak” rawat inap oleh RSUD Embung Fatimah, mengindikasikan terdapat masalah dalam pengelolaan pelayanan kesehatan.
Kadis Kominfo Tiba-tiba Buka Suara
Menanggapi pemberitaan mengenai dugaan keterlambatan pembayaran jasa pelayanan (Jaspel) bagi tenaga kesehatan di RSUD EF, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Batam, Rudi Panjaitan, memberikan klarifikasi melalui siaran pers Pemko Batam pada Jumat (21/06/2025).
Rudi membantah tudingan dalam berita berjudul “Di Balik Kasus Alif di RSUD EF, Diduga 450 Nakes Tak Terima Jaspel 5 Bulan: Luput dari Sidak Wali Kota”. Ia menyebut informasi tersebut “tidak sepenuhnya benar”.
Menurutnya, keterlambatan pembayaran Jaspel jika terjadi, lebih disebabkan oleh proses verifikasi administrasi yang melibatkan berbagai pihak, termasuk BPJS, rumah sakit, dan instansi keuangan daerah, bukan karena pengabaian atau ketidakterbukaan.
Rudi juga menambahkan bahwa sistem transparan sudah berjalan, namun mungkin belum semua pegawai memahami cara mengakses informasi tersebut.
Dibayar Sebagian Setelah Disorot Media, Jaspel BPJS Masih Menunggak
Apa yang disampaikan Rudi Panjaitan terbantahkan karena informasi yang diterima BatamNow.com pembayaran Jaspel langganan BPJS Ketenagakerjaan, yang tertunggak 4 bulan baru dilakukan pada Jumat (20/06/2025) malam, setelah disorot media sehari sebelumnya.
Sebuah sumber mengungkapkan bahwa informasi pembayaran tersebut diberitahukan lewat grup WhatsApp.
Dan informasi lainnya terkait rincian yang dibayarkan tidak diinfokan kecuali dengan keterangan “Jaspel Langganan UB MEI 2025 ASN”.
Demikian juga tentang amprah penerimaan remunerasi tidak pernah ditunjukkan secara transparansi kepada masing-masing nakes di RSUD dan soal ini sudah lama.
Sedangkan Jaspel untuk kategori BPJS Kesehatan, katanya, hingga saat ini belum dilakukan pembayaran meski sudah menunggak sejak Februari 2025.
Rudi Panjaitan yang kembali dikonfirmasi atas perkembangan terbaru, tak merespons.
Demikian juga Direktur RSUD EF, drg. Raden Roro Sri Widjayanti Suryandari dan Wadir Umum & Keuangan, dr. Ryaldi belum menjawab permintaan konfirmasi yang dikirimkan melalui WhatsApp, hingga berita ini dipublikasikan.
Salah satu pertanyaan yang dikirimkan: mengapa baru uang Jaspel langgananan yang dibayarkan, sementara Jaspel BPJS yang sangat diperlukan para nakes, belum? (A)

